komen 250+ serius, update cepet.
Note : mungkin ini kejelasan dari bagian sebelumnya. Semoga kalian bisa paham sama artinya.
Mungkin ini juga bisa mengobati rindu kalian sama part lyodra nuca.
📍3800 ++ kata.
Dan semoga, kalian selalu suka 😊
***
Menyembunyikan sesuatu dari orang yang kita sayang itu hanya menyiksa diri dan tentunya juga hanya menunda luka~
Peri dan Sayap
- V e l l n y a -
***
Cuaca kali ini lebih panas dari cuaca biasanya. Lyodra menghela napasnya pelan saat melihat teman-temannya sudah berada di tengah lapangan sementara dirinya hanya duduk dipinggir lapangan, sendirian. Ia jenuh, karena tidak bisa mengikuti pelajaran olahraga. Padahal, ia sudah menyakinkan Pak Ahmad agar ia bisa ikut, tetapi tetap saja. Pak Ahmad melarangnya karena pelajaran ini berada di ruang terbuka, terlebih materi hari ini cukup menguras tenaga.
Teman-temannya di sana, banyak yang menatapnya iri. Berharap bisa seperti Lyodra yang hanya duduk, menonton mereka yang sedang melakukan lari maraton.
Lyodra memandang ke atas langit. Matahari di sana begitu terik. Risih disengat sinarnya, Lyodra pun memilih berdiri untuk mencari tempat yang lebih teduh daripada nanti dirinya lemas.
"Orang-orang nggak bersyukur banget, sih. Lyo aja kepingin ikutan lari maraton, mereka malah kepingin kayak Lyo," gerutunya.
Ia terus berjalan sambil menendang-nendang angin. Tak lama, pandangannya mengarah pada sosok Nuca yang terlihat pucat dari jauh. Lyodra pun mengurungkan niatnya untuk duduk dan lebih memilih berjalan mengitari pagar lapangan basket untuk menemui Nuca.
"Nuca!!!" panggil Lyodra dengan kencang, senyumnya mengembang bersama dereten gigi putihnya. Membuat barisan di depan sana yang baru saja dibuka oleh Pak Anang, mau tak mau menoleh ke arah sumber suara yang ada di belakang mereka.
Tolehan barisan depan, membuat dirinya bisa melihat Pak Anang yang ikut menoleh, sambil melotot, menyeramkan. Ia jadi kaget dan malu sendiri saat semuanya menatapnya aneh.
"Maaf, Pak. Lyo tadi nggak liat ada Pak Anang," ucapnya pelan. Lalu cepat-cepat membalikkan badannya menuju ke tempat sebelumnya.
"Bodoh banget, sih, Lyo!!! Kenapa Lyo bisa nggak liat ada Pak Anang, sih? Kan, Lyo jadi malu bangetttt," sesalnya terbirit-birit.
Ia terus mempercepat langkahnya lalu duduk di tempat sebelumnya. Berkali-kali ia menghela berat, karena merasa bosan. Sesekali mengintip Nuca yang sedang men-dribble bola basket di ujung sana.
"Hai Ly? Udah lama, ya, nggak ketemu... gimana kabar? Sehat?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.
Lyodra mengernyit. "Derry?" Ia membenarkan posisi duduknya. "Lyo baik, kok. Derry sendiri gimana?"
Derry tersenyum hangat. "Baik juga, kok," jawabnya.
"Hm... ada apa Derry ke sini?"
"Cuma mau tanya, lo beneran ikut lomba debat bahasa inggris, nggak?"
Lyodra mengangguk, mengiyakan.
"Berarti kita satu tim, dong, Ly."
"Derry ikut?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Fiksi RemajaIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
