Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Jangan lupa vote dan selalu ramaikan komentar di setiap paragraf! 💜🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semuanya menjadi rumit. Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan persahabatan yang sehat.
***
"Lyo...," panggil seseorang dari belakang.
"Der.. Derry?"
Lyodra mengerutkan keningnya. Bingung dengan kehadiran Derry yang tiba-tiba hadir kembali ke dalam ceritanya. Sudah lama sekali ia tidak bertemu Derry semenjak terlibat masalah dengan Nadhira. Satu hal yang Lyodra tangkap dari Derry sore ini adalah, senyumnya yang masih sama. Hangat.
"Kebetulan banget gue ketemu lo hari ini. Bye the way, selamat untuk kemenangannya. Maaf, gue belum sempat ngucapin karena sibuk ngurusin pensi. Ini gue ada bingkisan coklat, oleh-oleh dari Batam buat lo," ucap Derry menyerahkan coklat itu.
Lyodra tersenyum canggung. "Serius buat Lyo? Terima kasih banyak, ya, Derry," ucap Lyodra menerima bingkisan coklat itu.
"Em... kalau lo nggak sibuk. Nanti malem gue mau ngajak lo ke toko buku, soalnya gue udah dua bulan nggak fokus belajar karena ngurusin pensi...."
Lyodra bingung harus menjawab apa. Ia sedikit ragu untuk menerima ajakan Derry. Yang pertama karena trauma atas kejadian yang pernah menimpanya, dan yang kedua tentang perasaan Derry yang sekarang seperti apa terhadap dirinya. Memang, sih, sudah lama sekali kejadian itu, juga... ingatan tentang Keisya yang sekarang entahlah, ia hanya takut.
Seperti yang kita tahu, Lyodra adalah gadis yang sukanya bertingkah semaunya sendiri. Seperti yang sahabat-sahabatnya pernah ucapkan waktu itu. Tapi anehnya jika dimintai tolong, ia adalah tipikal gadis yang lugu. Sungkan untuk menolak permintaan orang lain kecuali, keluarganya atau sahabatnya sendiri. Itu sudah pasti suka semaunya sendiri.
"Aduh, gimana, ya..., harus nanti malam, ya?" ucap Lyodra ragu, takut Derry tersinggung jika dirinya menolak.
"Iya. Karena gue cuma ada waktu nanti malem Ly. Jadi gimana? Mau atau enggak?" tanya Derry memastikan.
"Lyo pikir-pikir dulu aja, ya, maksudnya..., Lyo sedang banyak tugas. Nanti kalau misalnya Lyo bisa, Lyo kabari Derry," jawab Lyodra hati-hati.
Derry tersenyum, laki-laki dengan parasnya yang selalu berwibawa itu masih sama. Pantas saja banyak kaum hawa yang mengidam-idamkan sosok ini. Dari nada bicaranya saja, sudah kelihatan kalau Derry mempunyai kecerdasan emosi yang sangat baik.
"Iya. Kalau lo nggak mau juga nggak apa-apa, kok, lo bisa kasih list buku-buku yang lo saranin lewat chatt."
Lyodra langsung membalas senyuman Derry. "Yaudah, gue mau pulang... gue duluan, ya, Ly...," pamit Derry lalu berlalu meninggalkan Lyodra sendirian di koridor yang sepi.