40. Hanyalah Menunda Luka

2.1K 241 477
                                        

voment 350, serius mau update cepet, tapi kalau belum nyampe dua minggu lagi ya?




---

Hanya ada dua pilihan. Saling jujur walau akhirnya pahit atau terus menunda luka.🥀


***


Keisya mendecak pelan saat ia mendapati ruang UKS kosong. Sejak sepuluh menit yang lalu, ia tak lepas dari ponselnya untuk menelepon Nuca yang tidak kunjung mengangkatnya. Ia kembali untuk keluar ruang, tetapi sebuah panggilan dari Ziva berhasil membuatnya berhenti di ambang tirai.

Drtttt... Drttt...

"Halo?"

"Key... lo gimana, sih, lo kalau jagain Lyodra yang niat dong, jangan setengah-setengah. Lo tega banget, sih, ninggalin dia...."

"Ini gue tadi nyari Richard terus pas balik--"

"Lo kebangetan, deh, ini gue lagi bawa dia ke rumah sakit."

"Hah?"

"Dia pingsan di koridor deket UKS. Emang sekarang lo lagi di mana?"

"Pingsan lagi? Gue belum lama nyampe UKS."

"Gue yang nemuin dia pingsan. Syukur, tadi papasan sama Richard. Ini gue sama Richard pake mobil Nuca ke rumah sakit."

"Pake mobil Nuca?"

"Ya... tapi Nuca nggak ikut. Katanya, mau nyusul aja."

"Terus gimana? Lo udah ngabarin tante?"

"Gue udah ngabarin Tante Bunga...."

"Yaudah, gue ke sana sekarang...."

"Gue tunggu Kei."

Keisya menutup panggilannya lalu memanggil supirnya untuk segera menjemputnya ke lokasi rumah sakit yang diberikan Ziva.


***


Bunga menghembuskan napasnya berkali-kali saat ketiga teman Lyodra berusaha menenangkan dirinya. Sudah hampir dua jam Lyodra berada di ruang UGD, tetapi belum ada tanda-tanda juga putrinya itu baik-baik saja. Ia benar-benar takut jika Lyodra mengalami penyakit serius seperti mantan sahabatnya-yang enam belas tahun lalu-meninggal karena penyakit genetik kelainan sel darah merah.

Jantungnya gusar. Matanya berkaca-kaca sambil menimbang-nimbang kedua kakinya yang sedari tadi tak bisa diam. Rambutnya kini lusuh, ia benar-benar belum siap untuk mengatakan semuanya. Lyodra, ia menyayanginya sama seperti Tiara yang ia sayangi. Edi yang tadi sempat bisa dihubungi akhirnya datang juga dari ujung koridor.

"Di mana Lyodra?" tanya Edi membuat Bunga duduk tegak saat menatapnya.

"Masih di dalam," jawab Bunga, badannya kini meringkuk kembali.

Beberapa menit kemudian, Dokter Lala yang menangani Lyodra sejak kecil itu datang menghampiri Bunga dan Edi.

***


"Dari dulu, kan, saya sudah bilang kalau ini bukan anemia kronik biasa. Mungkin, ini sudah saatnya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar semuanya terlihat lebih jelas, Bu."

Peri dan Sayap - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang