Jangan lupa vote dan ramaikan komentar di setiap paragraf! 💜🧡
Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kalau belum beruntung, berarti usaha kita belum maksimal dan Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi. Sampai di sini paham?
***
"Cara... membuat nasi goreng yang enak buat sarapan pagi tanpa micin."
Setelah hafal dengan bahan serta resep nasi goreng tersebut, Nuca mengatur alarm lebih pagi dan segera tidur.
***
Lyodra terus berjalan menarik kopernya menuju ruang tunggu keberangkatan Jakarta-Bandung. Sesekali ia membenarkan syal di lehernya lalu menaruh tangannya di saku switer tebal berwarna ungu pastel. Ia duduk di samping Ola dan Bu Sapta. Jam ditangannya menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Ia mengambil ponsel yang sedari tadi berdering dari tasnya. Menerima panggilan dari Bunga yang masih berada di Bali.
"Halo sayang, sudah di stasiun? Gimana kabar? Sudah sarapan? Sarapan pakai apa? Atau dikirim makan sama Nuca lagi tadi pagi? Mama besok pagi pulang...."
"Belum Ma, Lyo pesen makanan di kereta aja...."
"Oh..., kamu hati-hati... jangan ceroboh letakkin barang... nanti dicuri orang. Jangan lupa diminum obat sama vitamin kamu... jaga diri kamu baik-baik. Semangat sayang...."
"Iya Ma, selalu doain Lyodra, ya, Ma... Lyodra sayang banget sama Mama!"
"Mama juga sayang! Yaudah, Mama dipanggil lagi, nih...."
"Salam buat tante-tante di sana, ya, Ma...."
"Iya sayang... eh, Papa udah transfer uang bulanan kamu belum?"
"Belum Ma, Papa suka telat...."
"Yaudah, nanti Mama transfer uang buat kamu pegangan... jangan telat makan dan telat minum obat, ya, sayang...."
"Iya... Ma...."
Lyodra menundukkan kepalanya, berusaha berpikir positif untuk hari ini dan besok. Ia mengambil botol airnya untuk menghilangkan tenggorokannya yang kering.
***
08.48 Nuca berlari setelah turun dari mobil. Menyeret kopernya sambil menenteng tote bag bawaannya. Ia membaca ruang tunggu yang dimaksud oleh Bu Sapta. Ya... dia hampir terlambat karena harus mencari es pisang ijo untuk Olivia. Ia menghampiri Ola, Lyodra dan Bu Sapta yang masih duduk dikursi tunggu keberangkatan. Nuca duduk, mengatur napasnya yang memburu. Ia memandang Lyodra yang sudah bergelanyut dengan buku tebal di tangannya.
Nuca mengedarkan pandangannya, melihat pemandangan di stasiun ini yang tampak ramai. Padahal, bulan ini bukan musim mudik. Ia melihat banyak orang mengantre membeli makanan yang dijual oleh pedagang kaki lima. Banyak orang berlalu lalang, mulai dari petugas pemeriksa karcis yang memang sedang bertugas, pedagang aneka makanan, pengemis hingga pengamen yang memaksa meminta uang dengan mencolek-colek para penumpang.
Teng... teng... teng... teng....
Mereka berjalan memasuki gerbong kereta api. Ternyata, Nuca dan Lyodra memiliki tempat duduk yang jauh dari Bu Sapta dan Ola. Nuca duduk, mengambil sesuatu di dalam tote bag yang berisi rantang dan beberapa botol minum.
"Nih...." Nuca menyodorkan tempat makan yang berisi nasi goreng buatannya. Kalian tahu? Dia membuat nasi goreng dengan taburan suwir ayam dari jam tiga pagi sampai jam lima. Setelahnya, ia bergegas mandi, mencari tukang es pisang ijo yang tidak masuk akal, jualan sepagi ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Dla nastolatkówIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
