Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mau terima tapi takut kehilangan sahabat, mau nolak tapi...
***
Hati-hati! Bagian ini bikin kalian naik darah. Tolong selalu tinggalkan vote dan komentar ya!
***
Lyodra kembali berhenti, ia sudah lemah sekali untuk berlari menuruni anak tangga lagi. Ia melihat dinding tembok yang menunjukkan bahwa dirinya sudah di lantai satu. Ia membuka pintu darurat dan bergegas mencari keberadaan laki-laki itu.
Lyodra berlari menuju kantin, didatangi semua stand kantin tapi nyatanya... sosok yang ia cari tidak juga ketemu, ia menuju ke perpustakaan, lapangan, tetap saja hasilnya nihil! Ia duduk sembari mengatur napasnya, ia memejamkan matanya, berharap bertemu dengan laki-laki itu secepatnya.
Lyodra mengedarkan pandangannya, ia berjalan menuju kelas Nuca yang tidak jauh dari kelasnya.
"NUCAAAAAAAAA!"
"NUCAAA MANAAA?!?!"
"WOY NUCAAA!"
"NUCAA MANAAA?"
Semua siswa yang ada di kelas Nuca terkejut melihat kedatangan Lyodra, matanya menelisik mencari-cari keberadaan laki-laki itu.
"Nuca tadi dari kantin langsung ke lab-olimpiade," jawab Richard.
Lyodra bergegas lari mencari sosok yang dicarinya. Ponselnya berbunyi sedari tadi, sebuah panggilan dari Keisya dan Ziva yang mengharapkannya untuk cepat kembali ia abaikan begitu saja.
"NUCAAAAAAA...."
Dilihatnya laki-laki itu yang sedang mengerjakan beberapa soal sendirian dengan kondisi yang tenang.
"Nucaa...," panggilnya lirih sambil memejamkan matanya. Ia memegang erat dinding tembok untuk menopang tubuhnya lebih kuat.
Setelah dirasa tenang, ia membuka matanya kembali menatap Nuca, tiba-tiba saja Lyodra jadi bingung. Ia bertanya pada dirinya sendiri tentang tujuannya kemari menemui Nuca. Ia benar-benar lupa harus mulai bagaimana untuk bicara pada laki-laki di hadapannya ini.
Nuca menatap Lyodra yang masih berada di ambang pintu, dilihatnya Lyodra yang tampak kelelahan, matanya menyipit dan tangannya gemetar. "Lo habis lari-lari?" tanya Nuca.
Lyodra mengangguk.
Nuca menutup bukunya. "Ada apa?" tanya Nuca.
Lyodra mengatur napasnya sebelum mengutarakan niatnya, ia sudah lemas dan pusing sekali siang ini. "Lyo diajak pacaran sama Derry," ucap Lyodra tanpa basa-basi.