Chapter 44

1.3K 97 1
                                        

"Robin"

"Iya, Yang Mulia?"

Roy pun meletakkan cangkir teh nya dan melihat ke jendela yang berada di dalam kantornya.

''Ada hubungan apa antara kau dan si pelayan itu?"

" ... Maaf ?"

"Kau dan Jasmine. Setiap kali kau bertemu dengan nya kau pasti menatap nya dengan tatapan itu"

Robin hanya menghela nafas dan tersenyum simpul.

"Yang Mulia.."

Roy pun meminum teh nya sambil menatap Robin dengan serius.

"Apa Yang Mulia selalu begitu perhatian kah terhadap saya??"

Robin mengatakan nya sambil menunjukkan ekspresi terharu , dan kemudian Roy pun tersedak dan batuk.

"Apa, apa maksud dari perkataan itu?''

"Bukankah itu jelas? Saya dan Yang Mulia sudah dekat sejak kecil tapi anda tidak pernah peduli dengan saya maupun yang lain. Dan mendengar perkataan Yang Mulia barusan sudah membuat ku terharu"

".......''

Roy hanya terdiam dan menatap Robin dengan ekspresi jijik.

"Kau membuatku jijik"

Dan perkataan itu pun menusuk hati Robin

"Yang Mulia .. anda kejam sekali dan tolong .. jangan menatap ku seperti itu"

Ucap Robin sambil menangis bohongan

"Jawab dengan serius. Jangan coba untuk mengubah topik. Apa hubungan mu dengan si pelayan itu?"

Robin pun memalingkan pandangannya dan tersenyum.

"Ya .. dulu itu kami sangat dekat bagaikan kakak beradik."

•FLASHBACK•
Robin's POV

Di malam hari yang di turuni hujan deras itu, aku sedang berteduh di pohon dan kemudian seorang anak perempuan mengulurkan tangannya. Aku pun melihat ke arah perempuan itu.

"Apa kau baik-baik saja? Kau ngapain disini? Kau tidak pulang?"

"..."

Baju ku yang lusuh, badan ku yang sedikit kotor dan basah , aku tidak mempunyai orang tua atau pun tempat tinggal.

"Aku tidak mempunyai rumah"

Ia pun berjongkok sambil memberiku payung nya yang ia pegang .

"Ini .. ini untuk apa?"

"Tolong pegang ini untuk sementara."

Aku pun memegang payung nya dan ia mulai mengambil payung satu nya lagi yang berada di dalam kantong kertas.

"Maaf payung yang kau pegang ini sedikit kecil ukuran nya. "

Ia pun membuka payung nya dan mulai menarik tangan ku dan mulai berjalan.

"H-hei!"

"Kenapa? Payung yang kau pegang itu untuk mu. Maaf kalau payung nya kekecilan ya! Sekarang kita pergi ke rumah ku dulu ya"

"K-kau bilang pegang payung ini untuk sementara, kenapa diberikan kepada ku?"

"Ya payung itu kuberikan kepada mu. Dan jarak dari sini ke rumah ku cukup dekat."

Dan kita pun sampai ke depan rumah nya .

"Um .. apa ini tidak apa-apa?"

"Iya! Masuk saja!"

The Empress's New LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang