S2: Chapter 16

656 57 1
                                        

•~•~•

"Sting coba tangkap ini!"

Natalia pun melempar ranting kayu itu dan Sting pun berlari dan mengambil ranting kayu itu. Sting pun berlari kembali dan duduk didepan Natalia sambil menggigit ranting kayu itu.

"Waah .. hebat ya!"

PLOK PLOK PLOK

Natalia pun terkagum dan bertepuk tangan. Ia pun mengusap kepala Sting dan Sting pun menjatuhkan ranting kayunya dan menjilat-jilat wajah Natalia sampai Natalia pun terjatuh dan singa-singa lain pun ikutan mengusap kepala mereka dan menjilati Natalia.

"Ahahaha, berhenti .. geli tau!"

Natalia pun tertawa dan mengusap kepala singa-singa tersebut. Ia pun bangun dan duduk di temani singa-singa lain.

"Hm .. ngapain ya?"

Ia pun menoleh kearah air terjun tersebut dan melamun .

•FLASHBACK•

"Tidak ada apa-apa disini .."

Namun kemudian refleksi ku yang ada pada air itu pun perlahan-lahan mulai menghilang.

•FLASHBACK SELESAI•

Natalia pun menggelengkan kepalanya dan menepuk kedua pipinya.

"Tidak .. kata Papa aku tidak boleh dekat-dekat dengan air terjun nya ! "

Ia pun menoleh lagi ke arah air terjun itu dan kemudian menyilangkan tangannya.

"Tapi .. memang seru sih kayaknya main disitu .. air terjun nya pun lumayan airnya pun jernih."

Ia pun menatap kearah air yang mengalir di depannya. Kemudian ia pun memetik bunga yang berada didekatnya.

"Hm .. "

Ia pun berdiri dan kemudian berjongkok dan menaruh bunga itu ke air yang mengalir dan melihat bunga itu terbawa arus secara perlahan.

" ... Mau ngapain ya? Aku bosan .. "

Ia pun mengambil batu yang berada di dalam aliran air itu dan kemudian melemparnya tepat mengenai dimana air terjun itu berada.

SPLASH

"Wah, masuk!"

Ia pun berdiri dan kemudian ia pun menatap singa-singa lain yang sedang berbaring.

"Aku akan latihan berdansa, kalian lihat ya!"

•~•~•

Di ruangan khusus singa

"Nona Brianna saya membawakan buah-buahan. Sudah saya cuci semua"

Seorang pelayan perempuan bernama 'Ziva' pun memasuki ruangan tersebut sambil membawa buah-buahan itu.

"Wah, terimakasih!"

Brianna pun mengambil buah apel dan kemudian menatap kearah Blake yang sedang berdiri tegak di dekatnya.

"Blake silahkan ambil juga!"

"Ah iya Tuan Blake boleh mengambil buah yang mana saja! "

"Terimakasih atas tawarannya, namun saya tidak lapar untuk saat ini. Mungkin saya akan mengambil nya nanti. Silahkan makan saja, sisakan saja yang buat saya."

Ucap Blake dengan muka datar dan nada datar. Namun kemudian pelayan perempuan yang bernama 'Vi' pun menawarnya buah apel .

"Tidak apa-apa kok Tuan Blake! Nih, anda bisa memakan dan mencoba nya dulu. Apelnya manis!"

"Terimakasih , Nona Vi. Namun seperti yang saya bilang, saya tidak akan makan dulu. Silahkan makan buah-buahan nya sesuka kalian."

"Ah .. begitu ya .. baiklah."

Beberapa menit pun berlalu dan Brianna pun kelihatan nya seperti sedang asik mengobrol dengan para pelayan.

"Ah, buah-buahan nya sudah habis! Saya akan mengambilnya lagi!"

"Saya akan ikut membantu ya Ziva!"

"Tentu saja, Vi. Kami permisi dulu untuk sementara ."

Kedua pelayan perempuan itu pun pergi dari ruangan ini, meninggalkan Brianna dan Blake berdua di ruangan ini.

"Jadi Tuan Blake, kau tahu? Kau boleh duduk saja jika kau pegal."

"Tidak. Saya tidak apa-apa"

"Begitu ya .. anu Blake?"

"Ada apa Nona Brianna?"

"Apa mungkin .. kau tidak nyaman ya jika aku memanggil mu menggunakan kata seperti 'aku' , 'kau' , atau 'kamu' ?
Maaf ya."

Blake pun menoleh kearah Brianna dengan ekspresi sedikit terkejut.

"M-mana mungkin! Hanya saja .. ini memang sifat dan bentuk wajah seperti ini. Saya minta maaf jika sifat dan bentuk wajah saya ini kelihatan seperti tidak sopan terhadap anda, namun kenyataannya memang begini sifat dan bentuk wajah saya."

Blake pun kembali berdiri tegak dan pandangannya pun menjadi sedikit menunduk .

"Aku tahu, tapi aku hanya takut jika kau tidak nyaman jika aku memanggilmu seperti itu. Aku ini memang punya kebiasaan jika memang sudah akrab."

Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Brianna, Blake pun terkejut.

"Akrab ..?"

"Iya. Aku sudah menganggap mu sebagai temanku."

"Tapi .. kenapa?"

"Ya meskipun Roy sudah bilang kepadaku beberapa kali untuk jangan terlalu percaya sama orang terlalu mudah. Tapi .. ya .. ini memang kekurangan ku, aku terlalu percaya dengan orang terlalu mudah dan masalah nya terlalu percaya dengan mereka. Tapi .. aku sudah menganggap mu sebagai teman. Maaf ya kalau kau tidak nyaman mendengar aku langsung bicara tentang ini--"

"Kenapa?"

"Eh?"

The Empress's New LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang