S2: Chapter 17

632 55 0
                                        

Brianna pun terkejut padanya dan Blake pun menunduk.

"Kenapa? Padahal kembaran saya jauh lebih baik dari saya"

"T-Tuan Blake?"

"Bella. Dia jauh lebih pantas menjadi teman anda dan dianggap sebagai teman anda dibandingkan dengan saya"

_____
Di Tempat air terjun

"Wah! Sepertinya aku sudah mulai bisa!"

Ucap Natalia dengan gembira dan ia pun mulai meregangkan badannya.

"Oke! Kita mulai lagi"

Ia pun mulai menari dan kemudian ia pun tersandung batu.

"A-Akh--"

Tapi kemudian singa-singa tersebut datang dan mencegah Natalia jatuh. Natalia pun menghela nafas dan kemudian menatap batu tersebut dengan penuh kesal.

"Batu sialan! Kenapa sih batu terus?!"

Ia pun melempar batu itu ke aliran air dan kemudian ia pun berdiri lagi.

"Hm .. badan ku sudah agak pegal .. baiklah, kita akan membaca buku! Kalian tunggu disini ya, aku akan mengambil buku-buku di perpustakaan dulu."

Ia pun mengusap kepala singa-singa tersebut sambil tersenyum dan kemudian menatap langit yang cerah dengan senyumannya yang indah.

_____

Kembali dengan Brianna, Brianna pun bingung apa yang dimaksud dengan Blake dan Blake pun duduk di dekat Brianna namun masih menjaga beberapa jarak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Apa maksud mu Tuan Blake?"

"Anda tidak mengerti? Padahal semua orang tahu kalau Bella itu lebih pantas dari saya."

"Ada apa dengan kalian berdua?"

"Tidak. Tidak terjadi apa-apa diantara saya dan Bella."

"Kalau begitu, boleh aku tahu kenapa kau tiba-tiba bicara tentang itu?"

Blake pun terdiam dan mengacak-acak rambutnya.

"Saya .. bukannya iri atau apa .. hanya saja .. saya merasa kalau saya ini tidak pantas mendapatkan ini semua.  Saya pun dijuluki sebagai 'Kelima Ksatria Utama Kekaisaran' diantara kelima itu terdapat Robin yang memang paling terkenal dan lebih hebat dari kita para ksatria, kedua Laurel dia memang ksatria perempuan terkuat di kekaisaran ini, ketiga Gabriel, keempat Bella dan terakhir itu saya."

Brianna pun terdiam sebentar dan kemudian pintu pun terbuka dan terdapat kedua pelayan itu membawa buah-buahan.

"Maaf jika kami lama"

Brianna pun tersenyum dan kemudian saat pelayan itu menyimpan buah-buahan itu di matras , Brianna mengambil sebuah apel dan apel tersebut ia lempar.

"Tangkap!"

Blake pun sedikit terkejut dan menangkap apel itu.

"Nikmati saja kehidupan mu, tanpa memikirkan beban pikiran yang terus menghantui mu. Karena Tuhan telah memberimu nyawa, jadi mau berguna atau enggak tetaplah hidup!"

Ucap Brianna dengan senyuman hangatnya yang membuat Blake sedikit terkejut akan perkataan nya itu. Blake pun terdiam sebentar dan kemudian tersenyum dan memakan apel itu.

"Terimakasih"

•~•~•

Saat ini Roy sedang berada di sebuah desa kecil yang letaknya jauh dari kota Rayne. Desa yang kelihatan sepi dan angker .

"Kau yakin desa ini masih ada yang tinggal? Sudah kulihat-lihat tapi tetap tidak ada satu pun orang disini."

"Iya Yang Mulia, pelakunya memang sepertinya menargetkan tempat yang sedikit sepi."

"Bagaimana dengan para korban nya? Sudah di evakuasi semua?"

"Iya, semua sekarang berada ditangan penyihir terpercaya."

KREK

Roy pun mendengar suara itu dan kemudian pergi kearah suara itu berada. Ia pun turun dari kudanya dan mengecek ada apa yang berada dibawah batu bebangunan itu.

"T-tolong saya ...."

Roy pun terkejut dan langsung menggunakan sihirnya untuk mendorong batu itu dan kemudian membantu wanita itu berdiri.

"T-terimakasih .. Y-Yang Mulia  ...?"

"Segera evakuasi dia!"

"Baik Yang Mulia!"

Ucap para ksatria , namun sebelum dibawa pergi oleh para ksatria itu wanita itu berhenti berjalan dan menunjuk ke tempat itu yang berada lumayan jauh dari mereka.

"Ada apa, Nyonya?"

Ucap Robin dengan serius dan wanita itu pun mulai menaikkan jari telunjuk nya dan menunjuk ke arah tempat itu lagi.

"Tempat itu .. menggunakan sihir para warga kota ini .. agar mereka tidak ketahuan .. mereka .. sembunyi .. disana .. cucu ku juga .. berada .. di ... Sana juga..."

"Aku mengerti .. cepat segera evakuasi korban ini! Dan kalian ikuti aku menuju tempat itu yang barusan ditunjuk"

Para ksatria itu pun membawa nenek itu pergi dari sini dan Roy pun kembali menaiki kudanya dan pergi ke tempat itu bersama Robin dan ksatria lainnya juga.
Di dalam tempat yang gelap dan berdebu itu terdapat seorang wanita yang merupakan Nayra sedang menyilangkan tangannya dan terus berjalan kesini dan kesitu, ekspresi wajahnya pun kelihatan sangat khawatir.

"Nenek .."

The Empress's New LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang