" A-ah, Tuan Alvan ..! Saya .. diundang oleh Nona Eliza untuk datang kemari."
Sudahlah, senyum saja walaupun jika itu terlihat terpaksa.
"Kakak saya? Kalau begitu--"
Robin dan Gabriel pun maju dan menghalangi ku. Robin pun menoleh ke arah ku dan memberiku senyuman ragu.
"Maaf Tuan Putri."
Ucapnya dengan suara berbisik, kemudian ia pun kembali menoleh kearah Tuan Alvan.
"Maaf memotong pembicaraan anda, tapi kakak anda, Nona Eliza gejala sakitnya.."
"Kakak?! Ada apa dengannya?"
"Ya, ia baru saja pergi kembali ke kamarnya."
Meskipun tangan Robin dan tangan Gabriel sedikit menghalangi pandangan ku, tapi bisa kulihat raut wajah Tuan Alvan terlihat khawatir sekali .. sepertinya ia sangat peduli dengan kondisi Nona Eliza ya
"Kalau begitu saya akan permisi dulu. Sayang sekali kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama , Tuan Putri. Sekali lagi saya permisi."
Ia pun membungkuk kepada ku dan kemudian bergegas pergi ke kamar Nona Eliza. Blake, Bella, dan Laurel sepertinya memperhatikannya pergi ke kamar Nona Eliza. Mereka berlima pun menghela nafas, dan mengusap dada mereka.
"Ada apa dengan kalian?"
"Tuan Putri tidak perlu tahu .. "
"Mungkin cepat atau lambat anda akan tahu.."
Hm?? Aku heran .. Ada apa dengan mereka ini? Mereka terlihat gugup dan takut disaat yang bersamaan.
•~•~•~•
Author's POV
Di dalam kamar Roy, kamar yang gelap, tirai jendela ditutup dan angin pun sudah terasa dingin meskipun masih sore.
"Anu .. Roy bisakah kau melepaskan ku?"
"Permintaan mu ditolak."
Ucap Roy yang sedang memeluk Brianna yang sedang duduk di pahanya, Brianna pun tertawa gugup dan kemudian Brianna menatap seluruh sudut kamar itu .
" Nyalakan."
Kemudian kamar nya pun menjadi terang namun kemudian Roy memutuskan untuk mematikan lampu kristal nya.
"Matikan."
Kamarnya pun kembali menjadi gelap, dan Brianna pun tersenyum ragu dan menatapi wajah Roy.
"Kenapa? Kau ingin tidur sekarang? "
"Tidak."
"Kalau begitu ucapkan 'nyalakan' kepada lampu kristal nya, dan lepaskan aku."
"Permintaan mu ditolak."
Brianna pun bingung dan tidak tahu harus bagaimana, ia pun mengelus rambut Roy dengan lembut dan kemudian mereka pun berkontak mata, mereka menatap sesama secara dalam dan kemudian terdengar seperti suara ketukan pintu.
TOK TOK TOK
Brianna dan Roy menoleh kearah pintu tersebut dan kemudian Brianna pun tersenyum.
"Ah, sepertinya mereka sudah sampai. Dan itu sepertinya para ksatria--"
Saat Brianna hendak berdiri, Roy pun menarik tangannya dan kemudian bibir mereka saling bersentuh. Brianna pun terkejut dan ia berusaha untuk mendorongnya karena ia takut jika para ksatria itu tiba-tiba masuk ke kamar mereka, namun Roy hanya terus menggenggam tangan nya dan terus menciuminya.
_____
"Ada apa?"
Roy pun membuka pintu itu dan menatap mereka dan merasa tidak ada apa-apa yang terjadi. Sedangkan Brianna hanya berbaring di ranjang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan wajahnya pun sangat merah.
"Ah, Yang Mulia!"
Ucap para kelima ksatria itu secara bersamaan.
"Ada apa? Dimana Natalia?"
"Ah, beliau berada di kantor anda, Yang Mulia."
Ucap Robin, dan kemudian Roy pun menatap mereka semua secara teliti, para ksatria pun gugup dan mencoba menghindari kontak mata, kemudian Roy pun mulai berjalan. Mereka pun berada di dalam kantornya, dan Natalia yang sedang menunggunya pun langsung memeluknya.
"Papa!''
Roy pun memegang kepala Natalia, dan kemudian menatap kearah para ksatria.
"Apa ada sesuatu yang perlu kalian lapor?"
Mereka pun terkejut dan gugup, Tatapan Roy pun menjadi tajam, ia pun duduk di kursi nya dan menyilangkan kakinya.
"Jadi? "
Mereka berlima pun tidak tahu harus bicara apa, Natalia pun bingung dengan situasi ini.
"Apakah kalian berhasil membuatnya tidak bertemu dengan putranya? Bagaimana? Tidak ada yang ingin melapor?"
Natalia pun menoleh kearah Roy, kemudian Robin pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan nya.
"Yang Mulia--"
Sebelum Robin menyelesaikan pembicaraannya, Natalia pun memeluk Roy dari samping dan tersenyum ceria padanya.
"Papa, barusan aku sangat menikmati waktunya bersama Nona Eliza! Ia sangat baik kepada ku dan sangat peduli padaku. Tuan Alvan dan Duchess Amren sedang berada di Kota Vahrora karena ada urusan penting."
"Begitu? Bagus ."
Ucap Roy sambil mengelus rambut Natalia , Natalia pun sedikit terkejut, namun kemudian ia pun tersenyum kepadanya. Para ksatria pun terharu padanya, kemudian Natalia pun mengantar mereka sampai tempat pelatihan para ksatria.
"Tuan Putri .. terimakasih!"
Ucap Gabriel sambil terharu, Natalia pun memiringkan kepalanya dan bingung.
"Eh? Kenapa harus berterima kasih?''
"Tuan Putri sampai harus berbohong soal Tuan Alvan..!''
"Ah .. soal itu. Bisa kalian jelaskan dulu soal itu?"
Laurel pun menyilangkan tangannya dan memalingkan wajahnya.
"Ya .. Yang Mulia meminta kami agar anda tidak bisa bertemu dengan Tuan Alvan atau menghabiskan waktu dengan Tuan Alvan apalagi sampai-sampai Tuan Alvan melakukan hal-hal aneh kepada Tuan Putri. Namun, barusan saat Tuan Alvan tiba-tiba saja muncul, kami terkejut dan langsung gugup. Dan kami pun harus melaporkan nya kepada Yang Mulia secara jujur, karena tidak ada salah satu dari kami yang berani berbohong."
"Begitu ya .. hm, Papa overprotektif sekali padaku. Tapi , karena barusan kalian semua terlihat sangat gugup, makanya aku memilih untuk membantu kalian. Sebetulnya, ini berlebihan sekali jika kalian semua dihukum oleh Papa hanya karena aku bertemu Tuan Alvan disana."
Natalia pun tersenyum hangat pada mereka, mereka pun sangat terharu dan kemudian hendak memeluknya.
"Tuan Putri..!"
Natalia pun terkejut , namun saat mereka hendak mendekati Natalia, Robin sudah terdulu menghalangi mereka.
"Kalian semua ... Ini merupakan perilaku tidak sopan jika kalian ingin berpelukan dengan tuan putri tanpa persetujuan nya! Bahkan kau ikut-ikutan, Blake?!"
"Robin .."
"Minggir Robin, aku ingin memeluk Tuan Putri!"
Ucap Gabriel yang hendak menerobosi Robin, Natalia pun hanya mundur satu langkah dan tidak tahu harus bagaimana.
"Kalian semua kembali pergi berlatih atau lakukan suatu aktivitas! Kalian juga akan membuat Tuan Putri sesak jika kalian semua hendak memeluknya bersamaan. Saya dan Tuan Putri perlu pergi kembali ke Yang Mulia berada. Sampai jumpa."
"Robin curang..!''
Robin pun berbalik badan dan menemani Natalia pergi kembali ke ruangan yang Roy berada.
"Mari Tuan Putri."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Empress's New Life
Historical Fiction[Tidak akan dilanjut] Natalia Evans , seorang permaisuri yang memiliki nasib buruk tentang kehidupan nya. Kehidupan nya yang sebelum nya ia mati dengan tragis karena kasus penuduhan pembunuhan , begitu ia di reinkarnasi kembali ia tetap dibunuh deng...
