OS - Twenty Eight

1.3K 145 9
                                        

28.Childish?


Resi berlari kecil kearah putranya, menggulingkan tubuh putranya pelan lalu mendengus kesal.

Posisi Ali yang tengkurap membuat Resi khawatir, namun ketika digulingkan agar terlentang anak itu malah sedang menatapnya dengan binaran mata.

"Mamah, Ali gamau putus." rengeknya menarik-narik piyama yang Resi kenakan dengan kasar.

Resi jelas mendengus lalu menepis lengan Ali pelan "Gausah kaya anak kecil!" Ali mulai terisak, tangannya kini ia pakai untuk menutup kedua matanya.

"Mamah ga ngerti! Ali tuh cinta banget sama Prilly!"

"Ali, kalo Prilly jodoh kamu nanti dia balik lagi." ucap Resi menenangkan, membawa tubuh putranya kedalam pelukan. Ini perdananya bagi Resi melihat putranya menangis karena seorang gadis.

Dulu ketika memutuskan hubungannya dengan Indah, Ali sempat menangis sendirian namun hanya sebentar karena tiba-tiba ia ingin membuat Indah menyesal. Menyesal karena menghianatinya. Semuanya memang berhasil, Indah menyesal namun Ali malah mencintai gadis yang dulunya ia pikir hanya untuk pelarian. Ali tidak dendam pada Indah, hanya sedikit memperlihatkan bahwa ia lebih unggul.

Ntah Ali yang salah memilih orang atau Prilly yang salah menepatkan, dikala suasana hati Ali sedang terbakar oleh Indah.

"Gamau, ntar Prilly pacaran sama cowo lain." gumam Ali meredakan tangisnya.

Resi menggeleng "Kenapa bisa putus?"

"Prilly nanya dan Ali cuma jawab jujur, kalo waktu pertama kali Ali nerima Prilly karena Ali pengen keliatan lebih unggul dari Indah, nerima Prilly untuk jadi pelampiasan Ali. Tapi Prilly gamau dengerin Ali kalo sekarang Ali udah suka beneran sama Prilly."

Resi terkekeh "Udah jangan nangis, mungkin bukan jodoh?" Ali menatap mamahnya marah "Cincin yang mamah kasih bilang kalo Prilly jodohnya Ali!"

"Cincinnya udah ga dipake, jadi dia bukan jodoh kamu lagi," candaan Resi membuat Ali nampak terkejut "Ga dipake?"

Resi mengangguk mantap "Iya, katanya dia ga mau berjodoh sama Ali." sungguh itu hanya sebuah candaan namun mampu membuat Ali mengepalkan tangannya.

Ali benar-benar tidak bisa dikontrol jika sedang patah hati.

"Gue harus bikin Prilly nyesel!"

Tidak sadarkah Ali bahwa apa yang ada dipikirannya, akan makin memperkeruh suasana?.
------
Suasana sekolah nampak sepi karena hujan yang tiba-tiba mengguyur permukaan. Siswa-siswi nampak berbondong-bondong masuk kedalam kelas masing-masing, sebagian orang menutup kepalanya dengan jaket yang mereka kenakan agar tidak terlalu kebasahan. Padahal tetep basah:v.

Gadis mungil dengan tubuh meringkuknya tengah menatap sendu kearah parkiran sekolah. Ia menunggu sahabatnya yang belum juga tiba.

"Neng nunggu didalam pos aja dingin," pria paruh baya dengan seragam khas scurity membuyarkan lamunan-nya.

Gadis mungil itu menggeleng kecil, baginya berteduh dikoridor dengan atap minim saja sudah cukup. "Engga Pak! Bentar lagi pasti temen saya datang." pria dengan nametag Tio itu mengangguk lalu berlalu permisi untuk mengeliling.

Dan benar saja baru beberapa detik Pak Tio berlalu, laki-laki tampan dengan jaket ditangannya mendekat menghampiri.

"Maaf deh lama, kejebak macet ditengah hujan." ujarnya menyesali.

Gadis itu nampak tersenyum "Ayo kekelas!" ajaknya mulai melirih. Tubuhnya sedang tidak fit karena terkena hujan kemarin lalu ditambah lagi sekarang terkena dinginnya hujan yang beradu dengan dinginnya pagi.

Laki-laki tampan itu mengulurkan jaketnya, menyampirkannya dikepala milik gadis yang tengah menatapnya sendu.

"Lo belum sehat total Pril, masa mau sakit lagi." laki-laki itu terkekeh kecil lalu merangkul tubuh sahabatnya. Kesalahannya di pagi hari adalah, tidak membawa persediaan payung didalam mobilnya.

Pril, adalah April gadis mungil yang sedaritadi kekeuh untuk duduk meringkuk diatas kursi koridor depan perpustakaan yang berhadapan langsung dengan parkiran sekolah.

"Lagian kenapa lo nungguin gue?"

"Kita kan udah janjian."

"Kenapa kaga nunggu didalem perpus?"

"Masih ditutup,"

"Pos satpam? Ah pasti si Pak Edwi ga ngasih izin ya? Emang ya satpam itu ga tau diuntung." laki-laki tampan itu menggerutu diakhir kalimatnya.

Prilly menatap laki-laki itu malas "Pak Edwi kan cuti, lagian lo gitu banget sama Pak Edwi, Ban."

Bani menghela nafas kecil, tidak tahu saja Prilly kelakuan tidak manusiawinya satpam satu itu. Ketika dahi Prilly sobek saja satpam itu nampak tak perduli dan kekeuh tak mengizinkan mereka untuk pergi ke klinik.

Prilly merangkul pinggang Bani erat sementara Bani memegang jaket untuk menutupi kepala mereka, posisi itu diganti oleh Prilly yang tak mau sahabatnya kedinginan.

Sibuk dengan obrolan keduanya, tanpa sadar ada tatapan terluka yang tengah menatap mereka.


.....
A/N: Gatau judulnya nyambung engga sama mulmednya tapi Alinya lucu aja gtu:"( gemesss 😭 pen nge-sun 😂

Our Struggle [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang