63.Angry
Rizky datang dengan sekeranjang buah untuk menjenguk Prilly, membuka pintu ruangan Prilly dan semua menatapnya. Monik, Syifa termasuk Prilly.
"Kenapa?" tanya Rizky mendekat kearah nakas samping brangkar.
"Dari mana kamu? Baru kesini dari Prilly sadar."
"Jenguk Ali, dia kan udah pulang kerumah. Mikirin Ali juga, jadi males keluar rumah."
Syifa mengangguk kecil sementara Monik memejamkan mata cantiknya bersandar pada sandaran sofa.
"Gimana keadaan Ali?" Prilly menyela menatap Rizky penuh harap.
"Semakin buruk mungkin? Tante Resi sampai mau bawa Ali ke London."
"Ke London?"
"Ga jadi, Ali gamau."
"Oh syukur deh."
Rizky mengangguk lalu duduk disebelah Monik yang mungkin sudah tertidur, terdengar dari suara aneh yang Monik keluarkan.
"Kapan Prilly pulang, Fa?"
Syifa menoleh pada Rizky sebentar, "sekarang sore boleh pulang." dan dibalas anggukan kecil oleh Rizky.
-----
Tanpa bisa dibantah Prilly pergi kerumah Ali, setelah dari rumah sakit tadi. Prilly awalnya mau meminta Rizky untuk mengantarkannya kerumah Ali, tapi Monik tidak setuju karena Prilly baru sembuh total. Dan Prilly tidak perduli, jadilah ia sekarang tengah didalam taxi. Berharap Rizky, Syifa, Monik dan Jihan tidak mengikutinya.
"Stop pak!"
"Bapak tunggu aja disini, nanti anterin saya pulang lagi." supir taxi itu mengangguk patuh lalu memilih membenarkan letak tempatnya berparkir.
Prilly berlari kearah rumah Ali. Seperti biasa, Tidak ada satpam yang berjaga, hingga sebentar saja Prilly sudah ada didepan pintu utama rumah Ali.
Ting tong!
Beberapa menit menunggu akhirnya keluarlah Bibik sang ART dirumah Ali.
"Eh, cari siapa non?"
"Ali bi, cari Ali."
Bibik mengangguk, "sebentar ya?"
Bibik berjalan cepat kearah kamar Ali, tidak mau membuat Prilly menunggu.
Tok tok tok!
Ali membuka pintu dengan wajah tanpa ekpresinya. "Apa?"
"Itu den, didepan ada non Prilly cari den Ali."
Ali terdiam sebentar lalu berlari kebawah, bibik kira untuk menemui Prilly, tapi bibik salah. Ali malah bersembunyi dibalik pilar yang ada diantara ruang keluarga dan ruang tamu.
"Siapa bik?" Resi menghentikan langkah bibik yang saat itu akan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Itu nyonya, non Prilly cari den Ali."
Resi membulatkan matanya, lalu berlari cepat memutari tangga. Pintu rumah masih tertutup, yang artinya Ali belum membuka dan menemui Prilly.
Membuka pintu lalu menatap Prilly yang kini tengah duduk dikursi teras.
"Kamu jangan pernah temui Ali lagi."
Prilly tersentak lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Resi, tapi Resi diam. Bahkan sekarang mata wanita yang dulu selalu memujinya menatap kearah lain, enggan menatap Prilly.
"Saya bilang jangan temui Ali."
"Tapi tante-"
"INI SEMUA SALAH KAMU! KENAPA HAH?! KENAPA KAMU JAHAT MENGATAI ALI PEMBUNUH? SAMPAI ALI DEPRESI DAN ITU SEMUA KARENA KAMU!" bentak Resi membuat Ali yang tengah melamun dibelakang pilarpun tersentak dan menghampirinya.
"Mamah!"
Resi mengabaikan teriakan Ali, lalu makin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Prilly. "SAYA SEBAGAI ORANG TUA TIDAK TERIMA. ANAK YANG SAYA RAWAT HARUS SEPERTI INI KARENA GADIS SEPERTI KAMU!"
Prilly menangis kecil, gadis itu takut dan Ali tau itu.
"MAMAH UDAHHH!" Ali berteriak dengan tangisan yang tiba-tiba pecah karena melihat Prilly.
"Kenapa Ali, kamu bela gadis ini hah?!"
"Mah mending kita masuk, Ali takut." Ali yang tadinya berdiri gagah sekarang meringkuk didepan daun pintu dengan ketakutan.
"DAN ALI MINTA PRILLY GA DATANG KESINI LAGI! TITIK." baru beberapa menit Ali menangis, sekarang laki-laki itu malah membentak Prilly dengan air mata yang belum kering.
Labil sekali.
Prilly pergi sembari tersedu-sedan. Ia takut menatap Resi dan ia sedih melihat Ali.
Ali menarik mamahnya masuk. "MAMAH JANGAN GITU! CUKUP ALI YANG MARAHIN PRILLY! MAMAH JANGAN."
"Tapi kenapa Ali? Hiks..."
"Mamah mau masuk penjara? Hiks... Nanti Prilly laporin mamah juga, karena udah bentak-bentak Prilly. Cukup Ali yang bakal masuk penjara."
Resi memeluk tubuh Ali erat, sedepresi apapun Ali ternyata ia masih mementingkan sang mamah. Walaupun sedikit aneh, hanya karena membentak? Ia masuk penjara? Tidak lucu sekali.
Tanpa Resi sadari, Ali sudah tertidur nyaman didalam pelukannya.
"Nyonya, den Ali tidur."
"Hah serius bik?"
"Iya nyonya, den Ali kecapean. Karena setiap malam den Ali kurang tidur nyonya. Sudah saya ingatkan untuk tidur tapi den Ali malah nangis."
"Nangis kenapa bik?"
"Katanya, ndak mau masuk penjara."
"Hiks... Ali cepet sembuh sayang." setelahnya bibik membantu Resi untuk membaringkan Ali disofa ruang tamu. Tidak mungkin kekamar, tenaga mereka tidak cukup kuat untuk membawa Ali hanya berdua... Ya walaupun berat badan Ali turun drastis untuk saat ini.
Kurang makan, kurang tidur dan banyak pikiranlah yang membuat Ali secara perlahan mulai kurus.
.....
A/N: Aku teh ga ada ide ari kalian:"( pusing ternyata ngerombak-rombak giniii teh:"(
POKOKNYA NIH CERITA HARUS BERES CEPET. WKWK
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Struggle [END]
AléatoireEnd! Mengandung sedikit kekerasan, Ada beberapa kata kotor di beberapa part, Konflik ringan dan tidak mengandung bawang bombai. "Aku berjuang untukmu!" "Dan aku pernah berjuang untukmu juga." "Kita adalah pejuang cinta diwaktu yang tidak sama." ...
![Our Struggle [END]](https://img.wattpad.com/cover/223295276-64-k324033.jpg)