Part 65 - Pengakuan

111 23 5
                                        

Jisoo berjalan mondar mandir di ruangan yang sejuk namun terasa menusuk di saat bersamaan. Ketika berhenti, dia menatap nyalang layar CCTV yang sudah sejak sore tadi dilihatnya. Terhitung jam lima sore dia berada di ruangan itu dan sekarang sudah .... jam sembilan malam lewat empat puluh lima menit. Hampir lima jam dan suasana hatinya tidak juga membaik.

Bahunya terasa berat meskipun beban kasat mata tidak nampak sedikitpun. Karena yang membuatnya berat adalah sesuatu yang tak kasat mata dan berkaitan dengan perasaannya. Seingin apapun dia menghindar, dia tetap tidak bisa memungkiri bahwa cepat atau lambat dia harus menghadapi semua kegelisahannya.

Meskipun Jisoo ingin berkata bahwa dia tidak sanggup, namun mulutnya tidak bisa mengatakan hal itu pada siapapun. Pada ketiga teman-temannya. Pada Kepala Sekolah. Pada Hanbin. Dan pada Jiwon, sahabatnya.

Karena dia telah dipilih langsung oleh Ketua untuk menjadi Lady Sherlock. Dan sudah menjadi tugasnya untuk mengedepankan kepentingan misi dibandingkan kepentingan pribadinya. Sejak hari di mana dia menyanggupi tugas itu, Jisoo tidak mengira kalau hal seperti ini akan datang padanya. Dan itu membuatnya membenci dirinya sendiri karena ketidakmampuannya.

Jisoo dengan mata yang berwarna biru gelap mengangkat kepalanya begitu pintu terbuka. Hanbin dan Bobby muncul. Rasanya kegelapan ruangan yang semakin mencekam membuat Jisoo ingin kabur. Namun kakinya serasa tertahan di tempat itu. 'Sekarang atau tidak sama sekali!'

"Sudah lama tidak bertemu dan rambutmu menjadi panjang, Lady Sherlock." Bahkan lelucon sarkas Hanbin tidak mampu membuatnya tertawa atau bereaksi seperti biasa.

"Pukul sepuluh tepat. Untungnya kalian tepat waktu." Jisoo mengernyit mendengar suaranya yang asing ditelinganya sendiri.

"Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan pada kami?" tanya Hanbin. Jisoo berbalik dan tangannya menekan remote CCTV, menyalakan benda itu dan menampilkan layar yang diperhatikannya selama empat jam lebih.

"Aku... sudah tahu siapa identitas Moriarty," ucapnya.

"Hah?"

Jisoo benar-benar ingin kabur dan memberitahu Ketua kalau dia sudah tidak sanggup lagi! "Sayangnya aku hanya tahu salah satunya saja." Anehnya, mulutnya tidak bisa berhenti berbicara. Mengeluarkan semua scenario yang telah dirancangnya.

Dia melirik layar CCTV sekali lagi, terutama yang menampilkan ruang OSIS sambil menghitung dalam hati. 'Satu... dua... tiga..'

Tangan Jisoo terangkat pada salah satu sosok yang berdiri di dekat pintu ruang OSIS. "Dia," ucapnya tanpa menyembunyikan kekecewaannya sama sekali. "Kim Jiwon adalah Moriarty peretas!"

Ekspresi terkejut yang berlebihan namun juga tidak terasa begitu tertera jelas di wajah Hanbin. Dia lebih dari shock untuk memercayai apa yang dikatakan oleh sosok putih di depannya ini.

"Ba-bagaimana mungkin?" tanyanya. Dia menatap Lady Sherlock seakan gadis itu mungkin saja salah. "Lelucon macam apa ini, Lady Sherlock? Katakan kalau kau bercanda." Kalimat yang seperti permohonan itu terdengar begitu memilukan di telinga Jisoo, hampir meruntuhkan semua kekuatan gadis itu untuk menghadapi situasi ini.

Hanbin menghampiri Lady Sherlock dan mencengkeram kedua bahunya. "Katakan kalau semua itu tidak benar, Lady Sherlock! Kau pasti salah. Bobby tidak mungkin-"

"Apa kau tidak menyangkal pengakuanku barusan, Kim Jiwon?" sela Lady Sherlock sambil menatap nyalang laki-laki itu. Bobby yang sejak tadi hanya berwajah datar kini menyunggingkan senyum kecil. Senyum yang biasa disukai oleh Jisoo namun kali ini rasanya dia ingin meninju wajah itu.

"Kenapa kau bisa mengatakan kalau aku adalah Moriarty, Jisoo?" tanya Bobby membuat Hanbin terpukul dan menyingkirkan tangannya dari bahu Jisoo. Tidak ada penyangkalan sama sekali. Apa itu berarti Bobby mengakui hal itu benar?

Guard (Bobsoo)✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang