Di malam hari yang gelap. Bulan bahkan tak ingin menampakkan dirinya seakan mendukung suasana tegang yang melingkupi sebuah ruangan. Terdapat dua orang. Seorang laki-laki yang telah mengalami manis pahitnya kehidupan. Dan seorang perempuan dengan pakaian serba putih, bertopeng senada, bermata biru, dan rambutnya yang dicat warna ungu. Lady Sherlock.
"Bagaimana?" tanya laki-laki itu. Wibawanya bahkan sangat terlihat meskipun dia hanya mengucapkan satu kata.
"Sejauh ini baik-baik saja," jawab Lady Sherlock sambil menundukkan kepalanya, hormat.
"Tidak ada masalah?" tanya laki-laki itu lagi. Lady Sherlock terdiam sejenak. Memikirkan kalimat yang harus diucapkannya agar tidak salah langkah.
"Sebelumnya, Kim Hanbin dan teman-temannya berniat membongkar identitas saya melalui kasus klub drama, tetapi setelah saya membuat perjanjian dengan mereka akhirnya mereka tidak berula lagi."
Laki-laki itu mengangguk. "Bagaimana dengan orang yang menghalangimu saat kasus penggelapan uang sekolah yang lalu?"
Lady Sherlock menggeleng. Tangannya mengepal kuat. "Saya belum menemukan orang itu," akunya jujur. Dia benar-benar benci mengingat saat itu. Saat dia harus memilih alternatif lain dan bekerja sama dengan Hanbin dan Bobby. Membuat Detektif Sherlock terekspos ke luar.
"Harus kau ingat, Sherlock. Legenda ini sudah ada sejak lama sekali. Dan kau sebagai generasi Sherlock saat ini, harus bisa menjalankan tugasmu dengan baik. Ingat baik-baik aturan yang kutetapkan padamu."
Lady Sherlock mengangguk. Tidak mungkin dia melupakan sedikitpun perkataan pria itu saat dia pertama kali menjadi Lady Sherlock.
"Satu. Semua keputusan Detektif Sherlock adalah mutlak," ujar laki-laki itu. "Artinya keputusan dalam bentuk apapun bergantung pada dirimu sendiri."
"Dua. Semua hal yang kau lakukan adalah untuk menjaga keamanan SHS dan demi kepentingan SHS. Maka siapapun yang berusaha mengancam keamanan SHS dan mengkhianati Detektif Sherlock akan dihilangkan."
"Tiga. Bila ada yang mengetahui identitas aslimu, maka sejak saat itu pula Detektif Sherlock akan musnah."
Yah...., itu sudah setahun yang lalu. Tidak terasa saat ini dia sudah terbiasa menjalankan perannya sebagai Lady Sherlock seakan itu adalah hal yang wajar.
"Kerja bagus, Lady Sherlock. Ah, bukan. Kerja bagus, Kim Jisoo. Pertahankan pekerjaanmu," titah laki-laki itu. Jisoo mengangguk sekilas kemudian pamit pergi. Menyatu dengan kegelapan malam. Dengan identitasnya sebagai Lady Sherlock yang tetap bertahan hingga saat ini.
***
"Wah, kacamatamu baru," komentar Rose begitu berpas-pasan dengan Jisoo dalam perjalanan menuju kelas.
"Tapi, kapan kau membelinya?" tanya Hayi penasaran. "Kau keluar saat hari munggu kemarin atau bagaimana?"
"Wah...., Jisoo tega sekali. Tidak mengajak kita keluar dari asrama," sambung Jennie menggoda.
"Aku tidak keluar asrama," jawab Jisoo sekenanya. "Seseorang membelikannya untukku."
Jisoo berjalan lebih dulu tanpa memerdulikan Jennie, Hayi, dan Rose yang tertegun. "Siapa orang yang membelikan Jisoo kacamata?" tanya Hayi penasaran.
Rose menggeleng. "Aku tidak tahu."
Jennie terkesiap ketika sesuatu terlintas di benaknya. "Mau mencari tahu?" tawarnya pada Hayi dan Rose.
"Bagaimana caranya?" tanya Hayi penasaran.
"Kita lihat buku arsip izin siswa di pak satpam," jawab Jennie. "Siswa SHS yang pergi izin keluar pasti harus menulis namanya di buku itu, kan?" Hayi dan Rose mengangguk semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guard (Bobsoo)✓
FanficSeoul High School (SHS) adalah sekolah tua terkenal dengan rumor mistis. Keberadaan Detektif Sherlock yang sudah ada sejak setengah umur SHS dan berfungsi sebagai penjaga sekolah itu membuat banyak orang penasaran dan berusaha mengungkap identitasny...
