79. Lupa

71 1 0
                                        

Haii masih ada yang baca cerita aku ga niih?



"Please jangan pergi, gue minta maaf banget please Frey.. AAAAARGHH"

"Huuh.. huuh"

Sudah dua malam belakangan ini ia bermimpi bahwa Freya akan meninggalkannya. Bangun tidur selalu berkeringat dan kata ibunya, kemarin ia sampai mengigau.

Hari kemarin Bintang sudah berusaha untuk bertemu oleh Freya namun saat datang kerumahnya, kata pak Dana-satpam dirumah Freya, Freya sedang tidak mau diganggu dan beliau diamanatkan untuk tidak memperbolehkan siapapun masuk kerumahnya.

Bintang dengan lesu pulang tanpa membawa harapan apa apa. Ia hanya menitipkan setoples cookies yang ia sempet buat kemarin bersama ibunya. Bintang menaruh secarik surat juga disana.

___________

Bintang memutuskan untuk mandi dahulu agar badannya segar. Setelah itu ia mengecek handphone nya. Masih tidak ada tanda tanda Freya membalas pesannya. Membaca pun tidak. Bahkan last seen nya pun di non aktifkan.

Bintang menghela nafas pasrah. Ia kembali menghubungi Freya mungkin saja ada sebuah keajaiban Freya mau membalasnya.

Sudah lima kali menelfon tetapi tetap tidak diangkat. Bintang bingung mau bagaimana cara memperbaiki ini.

Ia memutuskan untuk bertemu dengan teman temannya karena di ajak dan sekaligus untuk menanyakan cara agar bisa berbaikan kembali dengan Freya.

Kali ini mereka berkumpul di rumah Keenan. Saat Bintang sampai ternyata semua teman temannya sudah tiba semua disana.

"Muka lesu amat, belum baikan ama bu bos?" tanya Abian.

Bintang menggeleng singkat. Ia lalu duduk bergabung dengan yang lainnya.

"Yaudah, ntar juga baikan kok. Kalo cewe mah gabisa marah lama lama, iya gak?" Daniel meminta pendapat dari teman teman yang lainnya.

"Iyaa betul tuh, lo kasih makanan juga dia seneng bos, terus ajak jalan jalan" saran Keenan.

Bintang menyetujui semua omongan dari teman temannya. Namun disini yang menjadi masalah adalah, Freya saja tidak mau bertemu dengannya, bagaimana cara mengajak jalan jalan.

"Siapa yang bisa catur?" tanya Keenan tiba tiba.

"Aing bisaa aing"

"Aing bisa juga"

"Sinii yang bisa main sama gue" tantang Keenan dengan bangga.

Ia membawa papan catur beserta pion pionnya dan duduk bergabung dengan yang lainnya.

"Siapa nih? Emil apa Raden?"

"Sok Raden heula" ucap Emil mempersilahkan. Raden mengangguk dan langsung duduk berhadapan dengan Keenan.

"Aing deg degan anjim, maneh mah suka ddm nih"

"Tadi nantangin, sekarang takut sendiri" sindir Raden.

"Siapa yang takut" balas Keenan

Raden hanya memutar bola mata malas. Tak lama kemudian mereka memulai permainan caturnya.

Keenan dan Raden sama sama jago. Mereka mempunya tak tik yang sama sama cerdik. Pertarungan sengit antara Keenan dan Raden menjadi tontonan serius bagi para anggota lainnya.

J a r a k (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang