Author POV
"Hm?,"
Putri masih tidak percaya. Bahwa Aura yang dulu memintanya untuk pergi. Sekarang, malah mengajaknya berbicara.
Seolah seperti orang baru yang baru saja mengenal satu sama lain.
"...," Aura masih menunggu jawaban dengan menatap Putri terus.
"I....ya," suara Putri pelan sekali, namun masih bisa didengar oleh Aura. Dia menundukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
"Em.........,"
"Aku..... ga suka brokoli," Aura masih melanjutkan pembicaraannya.
Sekejap, Putri terdiam kembali. Dia teringat, kalau Aura tidak suka sekali dengan yang namanya brokoli. Bisa dibilang membenci brokoli.
"...," Aura langsung melanjutkan makannya.
"E-h......, t-taruh sini aja," Putri. Dia membuka suaranya lagi. Sembari dia mengisyaratkan agar sayur sopnya ditaruh disamping makanannya.
Aura yang mendengar itu, dengan segera menaruh sebuah mangkuk yang berisikan sop tepat disamping makanannya Putri.
Setelah itu, mereka berdua saling terdiam. Tidak ada yang dibicarakan, hingga menjelang malam pun, mereka masih saja membungkam mulut.
Takut, tidak ada yang berani berbicara.
Hanya sekedar hati yang saling menyampaikan pesan. Membungkam bibir dengan sangat erat, takut untuk mengeluarkan kalimat serapah yang menyakitkan.
Terbilang banyak rasa rindu yang terpenjara dan terbelenggu didalam lubuk hati yang paling dalam. Lagi-lagi, hanya takut dan takut untuk memberitahu.
'Huh........'
'Kenapa aku jadi gugup gini pas bicara sama dia?' batin Aura.
Mereka masih berada dibalai desa, untuk mengikuti acara selanjutnya yang akan digelar. Acara yang bisa membuat sejuta juta umat bergoyang bersama, apalagi kalau bukan Dangdut.
"Pulang agak nanti aja ya, lagian masih jam 19.59," ucap Sulis kepada keluarganya kecuali Aura. Semuanya pun setuju untuk pulang agak larut malam.
"Iya. Lagian, aku juga mau joget," Bagas bersiap siap untuk bergabung dengan bapak-bapak yang sudah stay dibaris paling depan.
"Boleh aja joget," Sulis menjeda ucapannya.
"Tapi liat aja. Kalo kamu sampe nyawer biduannya. Jangan harap tidur satu ranjang!," Sulis, Istri yang galak namun pengertian. Plus sayang dan cinta banget kesuaminya, Bagas.
"Pffftttt," semua menahan tawa.
"Ih kamu," Bagas ngambek.
Setelah itu, mereka menunggu acara Dangdut dimulai.
"Ini kita ga pulang?," Aura baru saja tiba. Karena sedari tadi ia ketoilet. Katanya perutnya mules.
"Ntar aja," jawab Bagas, kemudian pergi. Karena suara kendang mulai terdengar.
"Dasar," umpat Sulis melihat Suaminya itu.
Keluarga itu pun bubar sendiri-sendiri dan nongkrong bareng dengan seumurannya.
"Lag aku malah ditinggal," Aura kebingungan.
"Kamu gabung tuh, sama temen-temen kamu," sembari Sulis menunjuk kearah segerombolan orang-orang yang Aura sangat kenal.
"Em...... Iya," ucap Aura. Sulis pun pergi menuju rombongan Ibu-ibu. Biasalah, ngerumpi.
"Sini aja deh," Aura memilih duduk sendiri dipaling belakang dan tentu saja sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Putri
RomancePutri, seorang wanita cantik yang berasal dari sebuah desa di salah satu wilayah Sunda. Yang hidup dengan kesederhanaan bertemu dengan pasangan takdirnya, pasangan sehidup semati yang tak disangka-sangka olehnya. Wanita tampan yang berdarah Jawa dan...
