60.

3.2K 312 51
                                        

Author POV

"Kamu... masih suka sama DIA?," ucap Amanda. Dengan tatapan mata yang sangat serius ke arah Aura.


"...," tak ada jawaban dari mulut Aura.

Setelah beberapa detik. Aura pun berdiri dari kursi kerjanya. Lalu, pergi menuju ke kamar dan tak menghiraukan sama sekali pertanyaan sepupunya itu.

"Anjing!. Orang lagi nanya itu dijawab!. Maen pergi aja Lo!," kesal Amanda yang menyusul dari belakang.

"...," namun masih tetap, Aura enggan untuk menjawab.

"Ish!," ucap Amanda yang sedang melihat Aura sudah akan merebahkan diri di kasur.

Tanpa aba-aba, Amanda mendorong Aura dari belakang, yang mana membuat Aura jadi terjelungup kedepan. Tentu saja itu membuat Aura kesal (juga).

"Paan sih?!," ucap Aura dengan kesal yang memposisikan tubuhnya berbaring menghadap atas.

Bugh~

Dengan lompatan kecil, Amanda mendaratkan diri di atas Aura. Tepat dipanggul Aura, dan langsung mengunci kedua tangan Aura keatas.

"Anj-!," dengan cepat Amanda membungkam mulut Aura dengan satu tangannya.

Posisi yang aneh. Yang mana Aura sedikit merasakan ANU-nya menyentuh? bagian ANIGAV-nya sepupunya itu. Sengaja?.

"Agsjshgsh," omel Aura tak jelas.

Bukannya Aura tak kuat menyingkirkan tubuh Amanda yang sedang menindihinya, tapi Aura takut kalau ia berontak, Amanda akan jatuh dari kasur. Tapi gapapa sih jatuh doang, palingan cuma sakit aja.

"Makanya jawab!," ucap Amanda kejam kepada Aura.

"Hajsbjsjsehjsjd," ucap Aura tak jelas.

Tak lama, Amanda pun menyingkirkan diri dan melepas bungkamnya.

"Ga bisa nafas cok!," marah Aura. Lalu duduk.

"Berdiri dikit nih!," sambil Aura menunjuk ke arah aDick-nya.

"Bodo' amat!," bentak Amanda.

"Salah sendiri disuruh jawab malah diem aja!," lanjut Amanda dan Aura kena marah lagi.

"Aish!," oceh Aura lirih.

"Udah ah buruan jawab!," sambil Amanda menyilangkan tangan menghadap Aura.

"Iye iye!," jawab Aura. Aslinya Aura tak ingin menjawab pertanyaan itu.

Melamun, kedua mata Aura melamun ke depan. Seakan ia melihat sosok wanita cantik nan anggun yang dulu pernah singgah dihatinya.

Tak ada kedipan dari mata biru tua itu. Melihat dengan lekat, tak ingin diganggu. Sosok itu tersenyum kearahnya, seakan melambai untuk mengajaknya pergi. Senyumannya yang sangat manis, ia rindu bibir merah itu.

Aura ingin merasakan lagi, merasakan bagaimana sosok itu memeluk erat tubuhnya dalam kehangatan yang sangat nyaman.
Sampai, ia lupa dunia dan segala isinya.

Dia PutriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang