27.

5.3K 464 27
                                        

Putri POV

Beberapa minggu ini moodku sering berubah-ubah. Kadang goodmood, ga lama juga langsung badmood. Bahkan untuk masalah sepele pun, aku sering marah. Selalu terpancing emosi.

Padahal pms ku juga udah berlalu. Sampai orang-orang disekitarku merasa aneh terhadapku yang seperti ini. Tiba-tiba berubah 180°.

"Kunaon atuh Put?, dari minggu lalu kok ga kayak biasanya?," tanya Yanto kepadaku menggunakan logat Sunda.

"Gapapa," jawabku menggunakan logat Sunda juga.

"Kalo ada masalah cerita atuh Put," kini Dela yang berucap kepadaku.

"Jangan dipendam sendiri," timpal Sari dengan logat Sunda.

"He'em bener, nanti malah makin sakit loh kalo dipendam sendiri," timpal Gita juga.

"Yang semangat dong Put," timpal Vino menyemangatiku.

"Putri semangat! Putri semangat! Putri semangat!," Sorak Yanto, Setyo, Agung, dan Erik. Dengan suara yang cukup keras.

Eh iya. Sekarang kita sedang bersantai dan beristirahat di saung yang berada ditengah sawah. Karena habis kerja nanam padi. Jadi kecapean.

"Kalian ih, udah dibilangin ga kenapa-kenapa kok," ucapku. Beneran, ga ada apa-apa gais.

"Ga mungkin," ucap Dela, Gita, dan Sari tidak percaya.

"Ga mungkin," ucap Yanto, Vino, Setyo, Agung, dan Erik menirukan Dela, Gita, dan Sari.

"Beneran ga kenapa-kenapa akutuh," Ucapku meyakinkan mereka. Bener-bener meyakinkan.

"Hmm...," Ucap Dela, Gita, dan Sari sambil memicingkan mata dan tentu saja sedang menyelidiki aku. Apakah aku berbohong apa tidak.

"Hmm...," Yanto, Vino, Setyo, Erik, dan Agung menirukan lagi.

"Kalian kok ga percaya sih, beneran atuh ih!," jawabku.

"Iye keh?," Dela, Gita, dan Sari masih tak percaya terhadap ucapanku. Seraya mereka mengangkat satu alis. Tanda tanya.

"Iye keh?," mereka (laki-laki) masih saja mengikuti gaya, suara, dan ekspresi dari Dela, Gita, dan Sari.
Yang mana membuatku geram.

"Iyaaaaaa," jawabku sesabar mungkin. Tentu saja sambil tersenyum.

"Ga bohong kan?," ucap mereka (perempuan) lagi.

"Ga bohong kan?," ucap mereka (laki-laki) masih menirukan.

"Engga," jawabku.

Sudah berulang kali aku bilang ga kenapa-kenapa. Tapi masih tetap saja, mereka memicingkan mata.

"Udah ya, lebih baik bahas yang lain aja," usulku agar mereka tak terus menerus menanyakan apa yang buat aku begini. Padahal ga ada.

"Dan kalian...," sambungku sambil melihat ke arah mereka (laki-laki).

"Tolong ya, jangan niruin kayak tadi, gemesss aku liatnya," terusku dengan tersenyum penuh arti. Dan mengeluarkan aura-aura menyeramkan.

"Ehehehe, maap," jawab mereka (laki-laki) dengan cengiran.

Sedangkan mereka (perempuan) menahan tawanya. Gatau apa yang mereka lucukan.

"Wuihh, lagi istirahat nih?," tanya pria yang tiba-tiba datang entah dari mana. Yang pasti aku kenal dia.

"Aku numpang istirahat juga ya," sambungnya yang akan duduk disampingku. Kebetulan aku duduknya dipinggir.

"Ga," Tolakku mentah-mentah.

Dia PutriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang