12.

6.1K 536 4
                                        

Aura POV

DUG!

'Shit!, kepala gua!' batinku.

"Cepet tolongin!!!,"

'Jangan pingsan!! Pliss jangan!!' batinku.

"Astaga berdarah!!!,"

"Non!! Non Aura!!,"

"Hiks, hiks, hiks,"

Suara mereka mulai terdengar samar-samar ditelingaku. Sumpah aku ga tahan lagi.





















"Eng..," eranganku pelan.

Perlahan-lahan aku membuka kedua mataku. Lalu dengan perlahan juga aku gerakan tubuhku.

'Apa ini?, tunggu!' batinku.

Aku pun menoleh ke arah kiri setelah membuka mata. Meskipun sangat susah sekali.

'Tangan? Putri!!' batinku lagi.

'Tapi kenapa?' lanjutku.

"Engg...," erangannya karena terusik oleh jariku yang bergerak di genggaman tangannya.

"Hm?," ucapnya seraya mencoba membuka mata. Tunggu!, berarti dia tidur disini! Sama aku?!.

"Pu...," ucapku tertahan. Susah sekali berbicara, ada apa ini.

"Hm.., Non? Non Aura!," ucapnya tak percaya setelah melihatku yang terbangun.

Tanpa aba-aba, dia memelukku dengan sangat erat. Seketika aku terdiam. Tubuhku kaku karena perlakuannya.

"Hiks hiks hiks," tangisnya.

"Ja-Jang-an  na-nang-is," ucapku terbatah-batah. Ini kenapa sih suaraku.

"Hiks hiks hiks," tangisnya semakin keras. Dan kubalas saja pelukannya.

Cukup lama kami berpelukan, akhirnya dia yang melepaskannya. Setelah itu dia mengelap air matanya dan menatapku dalam-dalam. Lalu dia terdiam.

'Dia kenapa?' batinku bingung.

"To-long  ban-tu  ak-u," ucapku meminta bantuan. Aku ingin duduk.

"Aww," ringisku sambil memegang kepala dan juga wajahku. Dengan sigap dia membantuku untuk duduk dan menyenderkankku.

'Sudah kuduga kepalaku akan seperti ini, dan btw apa aku pingsan ya? Kalo pingsan, aku pingsan berapa jam?' batinku.

"Jangan disentuh," ucapnya dengan suara yang serak karena habis menangis. Aku pun hanya mengangguk.

"Min-um," ucapku kepadanya. Dia pun mengambilkannya yang ternyata sudah ada air putih di atas nakas. Lalu airnya dituangkan ke gelas kemudian diberikan kepadaku.

Aku pun langsung meminumnya pelan-pelan, tapi aku tidak memegang gelasnya, dia yang membantuku, iya Putri.

'Ini kenapa tenggorokanku?' batinku merasakan sakit di tenggorokan.

Dia PutriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang