Author POV
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Suara serangan pukulan bertubi tubi yang ada didalam game. Aura sedang asyik dan fokus ke layar tv tanpa memperdulikan sekitar.
Suara game yang begitu keras dan cukup menggema itu menghalangi pendengaran Aura. Sampai-sampai Aura tidak mendengar ketukan pintu yang berulang kali bersuara di kamarnya.
"WOE!!!," teriak Risa sangat keras tepat ditelinga Aura.
"WAHH!!," Aura sangat terkejut dan langsung mengecilkan volume di game.
"Aishh, bisa kagak sih ga usah teriak-teriak!!," kesal Aura sambil mengelus elus telinganya.
"Nyalahin tross, orang ngetuk pintu berulang kali kamunya kagak denger," Risa membela dirinya.
"Udah cepet turun, ditunggin tuh dibawah," seraya Risa pergi menuju ruang makan.
Sedang Aura cuma kesal sambil mengoceh seraya ia mengakhiri gamenya dan langsung menuju ke bawah.
"Pa," panggil Aura kepada Bagas saat tengah makan malam.
"Hm?," tanya Bagas sambil mengunyah.
"Em..., aku disini seminggu lagi boleh ga?," tanya Aura sedikit takut. Bagas pun langsung terdiam dan melihat ke Aura.
"Ngapain?," tanya Bagas seperti mengintimidasi Aura. Ekspresi Bagas pun datar.
Suasana tiba-tiba menjadi mencengkam.
"Em... anu... em...," Aura susah bicara.
"Anu, a-aku p-pengen disini dulu," gagap Aura yang ketakutan untuk menatap Bagas.
Tak ada jawaban dari Bagas. Yang lain cuma diam dan memperhatikan. Juga cuma saling pandang satu sama lain.
"Ga," ucap Bagas lalu menyambung acara mengunyahnya.
"Ow... oke," lesu Aura sambil menunduk kebawah.
'Huft ga boleh'
'Padahal masih pengen disini, kesini juga ga bisa sembarangan' batin Aura.
Sulis yang melihat Aura lesu itupun mencoba untuk sedikit menghiburnya. Dibantu yang lain juga.
"Rara nambah sambel ga?," tanya Sulis sambil akan mengambilkan sambal.
"Eh, ga usah Ma," tolak Aura lalu melanjutkan makan.
"Nih ayam goreng yang terakhir kamu makan ya," sambil Indira menaruh ayam goreng terakhir itu dipiring Aura.
"Ah, ga usah Nek biar yang lain aja yang ngabisin," Aura menolak.
"Makan aja Dek, kita udah cukup kok ayamnya," ucap Risa. Diikuti anggukan dari Reno, Mada dan Adham.
"Udah kamu makan aja," timpal Sulis sambil tersenyum.
"Em iya," sambil Aura mengangguk. Dan lanjut makan.
"Seminggu lagi disini kamu mau ngapain emangnya?," kini yang bertanya Aksaro.
"Em, y-ya seperti biasanya," jawab Aura pelan seakan takut.
Aksaro cuma diam. Lalu Aksaro dan Bagas cuma saling pandang. Seakan mereka berdua berbicara lewat tatapan mata.
"Juga ngerjain tugas kuliah," imbuh Aura yang suaranya masih pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia Putri
Roman d'amourPutri, seorang wanita cantik yang berasal dari sebuah desa di salah satu wilayah Sunda. Yang hidup dengan kesederhanaan bertemu dengan pasangan takdirnya, pasangan sehidup semati yang tak disangka-sangka olehnya. Wanita tampan yang berdarah Jawa dan...
