[17+] - C O M P L E T E
Tsabita Ruby Hasyim, perempuan penyuka warna merah, memiliki kedua orang tua yang selalu mencampuri dan mengatur jalan hidup kepadanya seperti apa yang mereka inginkan. Membuat gadis berkacamata itu, bersikap apatis terhadap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angin berhembus pelan, sedikit membuat perasaan sesak yang Tsabita rasa, berkurang. Tsabita berbisik dalam hati, memohon agar Allah memberikannya sedikit kekuatan hati.
Perkataan Ungu membuatnya berpikir, takut hal itu akan terjadi. Dengan cepat ia menggeleng, menepis bayang-bayang yang akan hadir. Ia tak boleh berprasangka. Ia tak boleh berpikir yang tidak-tidak. Ia tak boleh berangan-angan.
"Oh iya, apa yang mau lo bicarain ke gue, Ta?" Ungu bertanya, lalu menegak sisa es jeruknya. Membuat Tsabita yang semula menatap pohon-pohon rimbun di samping kantin, fokus melihat ke arah Ungu.
"Udah selesai makannya?" tanya Tsabita balik.
"Udah. Tuh, lo yang belum selesai-selesai malah," Ungu menunjuk makanan di piring Tsabita yang hanya berkurang sedikit.
"Nanti aku bungkus aja, udah kenyang," Tsabita menyingkirkan piring yang ada di depannya ke samping.
Ungu mengangguk, "Oh, bagus deh, daripada mubazir."
"Iya, aku juga nggak mau jadi temannya setan kalau buang-buang makanan," ucap Tsabita sambil meminum es jeruknya.
Ungu tertawa, "Bisa aja lo, Ta," ada jeda sejenak, "jadi, apa? Apa yang mau dibicarain?"
"Kamu udah siap menikah?" Ungu terbatuk, mendengar pertanyaan Tsabita yang to the point.
"Ampun, nggak ada intro nya. Random banget pertanyaannya," Ungu mengambil botol air dalam tas nya. Menuangkannya di gelas yang tadi berisi es jeruk. Lalu, meminumnya untuk meredakan batuk.
"Tinggal jawab siap apa belum, gitu aja kok," Tsabita menekankan, setelah Ungu tidak lagi batuk-batuk.
"Kok jadi curiga. Dalam rangka apa tanya begitu?" Ungu memicingkan matanya.
Tsabita sedikit gelagapan, berdehem untuk menutupi kegugupannya, "Ya, siapa tahu aja kamu ingin menikah muda. Menikah sebelum koas. Ya, kan?"
"Kalau soal siap atau nggak. Sampai kapan pun gue rasa gue nggak akan pernah siap. Ada ketakutan dalam diri sendiri, takut nggak bisa melaksanakan kewajiban sebagai isteri, takut kalau gue nya terlalu egois, takut gimana nanti kalau punya anak, takut dapat mertua seperti apa. Yah banyak lah. Tapi kalau soalan nikah muda, kalau jodohnya dateng cepet ya, kenapa nggak? Lagian juga, Ustazah Dina juga nanyain CV taaruf gue, katanya sih mau disimpen dulu, siapa tahu ada yang cocok visi misi pernikahannya sama kayak gue gitu," Ungu menjawab panjang lebar.
"Apa ibumu setuju?" tanya Tsabita lagi.
"Ibu emang udah nyaranin buat gue nikah. Katanya nggak perlu nunggu lulus, kalau ada yang lamar dan itu pemuda sholih, alasan apalagi buat menolaknya?" jawab Ungu.
Tsabita mengangguk, tersenyum lebar, "Insyaallah jodohmu akan datang lebih cepat dari yang kamu duga."
Ungu terkekeh, "Sok tahu lo, Ta. Aamiin-in aja deh," tangan kanan Ungu menopang dagunya, menatap Tsabita, "Btw, lo sendiri gimana, Ta? Lo siap nikah muda?"