📏41. Can You Feel My Heart?💊

40 8 6
                                    

41. Can You Feel My Heart?

Mungkin tidak tahu sesuatu, itu lebih baik daripada mengetahuinya secara langsung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mungkin tidak tahu sesuatu, itu lebih baik daripada mengetahuinya secara langsung. Tidak melihat dan tidak mendengar sesuatu, bukan berarti tidak ingin melepaskan sesuatu hal baru. Tidak menjadikan kita terbelakang karena tidak up to date. Tidak terlibat mungkin juga dibutuhkan, jika kondisinya membuat diri merasa tidak nyaman.

Tidak tahu bukanlah suatu kebodohan. Tidak tahu bisa menyelamatkan dari masalah lebih besar.

Mungkin itu yang dipikirkan Tsabita, banyak tahu tidak selalu berada dalam posisi yang benar. Banyak tahu juga tidak selalu mendatangkan kebaikan. Keburukan pun bisa saja terjadi karena banyak tahu.

"Kamu di sini rupanya, Ta," Arga menemukan Tsabita yang sedang duduk di kursi berderet yang disediakan rumah sakit sepanjang koridor menuju bangsal anak, "aku cari ke mana-mana."

Tsabita mendongak. Ia sedikit terkesiap akan kedatangan Arga yang tiba-tiba ini, "Aku belum kasih tahu kamu kalau udah pindah ke stase bedah, ya?" Tsabita bertanya balik.

Arga menggeleng, "Aku mana tahu kamu pindah."

"Kamu sibuk, jadi kita jarang bertukar cerita," sahut Tsabita datar.

"Kalau kesibukan buat aku seperti orang bodoh saat ini. Seperti orang linglung mencari keberadaanmu tadi, aku minta maaf," balas Arga tak kalah datarnya.

"Maaf juga karena telah menjadikan kamu sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi, bukannya aku pernah kasih tahu kemarin, kalau aku belajar ilmu bedah? Yang itu artinya, aku akan pindah ke stase bedah," Tsabita menyedekapkan tangannya.

"Bukannya kita sama-sama salah? Kenapa harus seperti pasangan yang saling adu argumen begini? Saling kesal begini? Saling dingin begini?" tangan Arga ingin menggapai tangan Tsabita.

Tsabita sedikit menjauh, tersenyum tipis, "Bukannya aku yang seharusnya kesal?"

"Kenapa kesal? Kamu enggak kangen denganku? Udah lama kita enggak ketemu," alis Arga berkerut.

"Jangan mengalihkan pembicaraan deh, Ga," Tsabita melipat bibirnya, "lagian tidak akan ada rasa saling merindukan, jika salah satunya menganggap hubungan ini hanya sekadar status yang berganti saja," setelah mengucap demikian, Tsabita meninggalkan Arga. Ia melangkah menuju parkiran mobil di basement rumah sakit.

Arga segera menyusul Tsabita. Langkah Tsabita yang gesit itu, membuat Arga terlambat masuk ke dalam lift yang sama dengan Tsabita. Ia berlari menuju tangga, ia harus lebih cepat dari Tsabita.

Arga turun tangga dengan cepat, tanpa sadar, ia tergelincir dan terjatuh. Ia memekik kesakitan. Ia lantas meluruskan kakinya, menahan rasa sakit yang mendera.

"Aku lihatnya ngeri. Pasti itu menyakitkan. Kamu kesakitan, kan, Ga?" Ungu menuruni anak tangga satu per satu. Ia berdiri berjarak di belakang Arga.

Tanpa menoleh pun Arga tahu yang datang adalah Ungu. Namun, kenapa di antara banyaknya orang di rumah sakit ini, harus Ungu yang melihatnya terjatuh?

Dark Sky With(out) StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang