📏50. Here's I Am💊

38 6 3
                                    

50. Here' I Am

Jika benar perpisahan adalah rasa sakit, maka kata yang paling buruk di kehidupan ini adalah kata pisah dan hal yamg paling menyedihkan adalah berpisah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika benar perpisahan adalah rasa sakit, maka kata yang paling buruk di kehidupan ini adalah kata pisah dan hal yamg paling menyedihkan adalah berpisah. Semua tentang perpisahan akan menjadi hal paling kelam di hidup manusia. Lantas, apa saat kita tahu bahwa perpisahan akan berujung temu, akankah perpisahan menjadi momok yang menakutkan? Atau justru keadaan yang mendebarkan karena setiap detiknya adalah sebuah penantian?

Ya, hidup ini memang tidak pasti. Siapa yang menduga jika pertemuan singkat akan berakhir perpisahan yang berat. Hanya singkat, namun merelakannya berat. Apa lagi jika pertemuan itu panjang, berakhir apakah perasaan yang sudah tumbuh dan berkembang?

Hanya sebuah harapan yang bisa menahan semua gejolak perasaan saat perpisahan itu terjadi.

Hari ini, Tsabita berdiri di depan pintu keberangkatan saat Arga masih berbincang dengan tim-nya. Dari kantor saja sudah sibuk sekali Arga itu. Mungkin memang prioritas Arga akhir-akhir ini adalah proyeknya?

Pertanyaannya, apakah Tsabita akan menjadi prioritasnya? Jika sebelumnya bukan, saat ini belum, apakah masa mendatang hanya akan ada kata tidak pernah?

Entahlah, Tsabita tak mempermasalahkan hal itu. Bagi Tsabita, melihat keberadaan Arga dari sini sudah cukup. Ia bisa memandangi Arga yang masih ada di depan matanya. Entah, setelah Arga berangkat, apa jadinya? Mungkin ia akan gelagapan karena tak bisa melihat sosok Arga yang berada di dekatnya. Sama seperti Tsabita kecil yang belajar berenang. Ia akan terserang panik saat tangan Arga kecil melepasnya begitu saja. Arga dari saat masih kecil sudah berani, sedangkan Tsabita sangat selalu diliputi oleh ketakutan diri. Mungkin saja saat Arga tak memiliki siapa-siapa di dunia ini, ia masih berani berharap dan bermimpi, melakukan usaha agar bisa bertahan hidup hingga ajalnya tiba. Tetapi, Tsabita pastilah tidak. Ia tidak tahu akankah ia bisa membuka matanya di dunia yang sepi dan gelap yang ia rasakan itu?

Ia melihat jam tangannya. Sekitar dua jam lagi ia harus sampai ke rumah sakit. Namun, Tsabita tak berani untuk menyela perbincangan serius antara Arga dan tim-nya. Maksud Tsabita, Tsabita akan melepas Arga tanpa menunggu informasi dari pihak bandara yang mengabarkan kepada para penumpang pesawat agar segera masuk ke dalam pesawat.

Perpisahan mau tak mau harus terjadi. Bukannya Tsabita telah terbiasa dengan semua ini? Seharusnya tak begitu berat melepaskan Arga kembali. Benar, karena sudah pernah, setidaknya tak membuat Tsabita bersedih berkepanjangan.

Namun kenyataannya, ia malah mendapati dua sejoli yang berjalan tanpa memperhatikan dirinya. Mau ke mana dua orang itu?

Penasaran, Tsabia berseru untuk menyapa mereka berdua. Bagaimana bisa takdir mempertemukan mereka di sini? Apakah ini akan menjadi momen untuk melepaskan dan memaafkan. Seperti ada yang mengganjal jika mereka menjalin hubungan yang kurang menyenagkan sebagai sahabat. Meski, yang bermasalah di sini adalah Arga, bukanlah Tsabita. Namun, bagaimana pun juga, sebelum kehadiran Ungu, Albiruni dan Arga sudah gerlebih dahulu menjalin pertemanan dekat.

Dark Sky With(out) StarsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang