35

19.5K 2K 38
                                    

Marta terus saja mengulas senyum, wajah cantik berbalut kerudung putih itu tampak berseri-seri saat tangannya di genggam oleh Zain. Suaminya saat ini. Cincin pernikahan sudah tersemat di jari manis Zain dan Marta, cincin yang seharusnya sudah dari dulu melingkar di sana, tapi ternyata rencana Allah lebih indah. Cincin itu melingkar di hari pernikahan mereka berdua.

Zain memohon diri untuk berwudhu kembali, karena ia akan menghadiahi sebuah surah Ar Rahman kepada istrinya tercinta. 

Zain melantunkan surah Ar Rahman tanpa melihat Al Quran. Inilah kali pertama Marta mendengarkan Zain melantunkan ayat suci Al Quran dengan tartil dan suaranya sangat merdu. Marta jadi teringat akan suara adzan yang dulu pernah Marta dengar di depan restoran. Kekaguman Marta bertambah saat menyadari kalau suara itu milik suaminya. 

Setelah membaca surah Ar Rahman, acara dilanjutkan dengan sungkeman memohon doa restu kepada kedua orang tua secara bergantian. Tangis haru dan bahagia pecah di sana. Orang yang pertama kali menghampiri Marta adalah Ratih. Wanita paruh baya itu menangis dan mengucapkan permohonan maaf kepada Marta atas perlakuannya selama ini.

"Janji sama Mama, apapun yang terjadi jangan pernah pergi lagi dari kehidupan putraku, dia begitu mecintaimu, Nak."

Marta mengangguk tanpa bersuara, hanya isakan tangis dan air mata bahagia sebagai bentuk perasaannya saat ini. Beralih meminta restu kepada kedua orang tuanya, Marta semakin menangis sampai-sampai Zain ikut memegangi istrinya. 

"Zain, Marta putriku satu-satunya. Karena kesalahanku dulu dia gagal dalam berumah tangga. Saya berharap Nak Zain bisa membahagiakan Marta. Apabila suatu hari nanti Marta melakukan kesalahan, tolong jangan pernah memukulnya, kembalikan saja Marta kepada kami." Andi berpesan kepada menantunya.

"Insha Allah saya akan mempertahankan rumah tangga kami, Pa. Saya tidak akan menjadikan Papa wali nikah Marta untuk ketiga kalinya." 

"Kebangetan kalau sampai kamu nikah tiga kali, Va." Alva menyeletuk.

Marta yang semula akan menangis saat menghampiri Alva, langsung menghapus air matanya. "Makasih, Al." Kedua saudara kembar itu berpelukan dengan erat. Marta merasakan punggung Alva bergetar. 

"Al, aku akan bahagia kali ini. Jangan khawatir," ucap Marta.

"Udah, nanti suamimu cemburu." Alva mendorong pelan Marta. 

"Saya harus memanggil Anda apa?" tanya Alva, saat Zain berada dihadapannya.

Zain tersenyum, "Panggil nama saja, Al. Bagaimanapun, aku adikmu sekarang," jawab Zain.

Alva lalu mengulurkan tangannya, "Cium tangan kalau begitu, biar barokah pernikahan kalian." Uluran tangan Alva dengan cepat di tampik oleh Marta.

"Nggak usah macem-macem." Marta memperingatkan Alva. 

Kedua pengantin baru itu kemudian menyalami keluarga yang lainnya. 

"Lova, ini papaku." Zain memperkenalkan pria yang sedari tadi duduk memperhatikan mereka. 

"Gara-gara kamu nih, Al, aku telat sungkem sama Papa mertua." Marta menyalahkan Alva, sedangkan Alva tidak perduli dengan hal itu. Zain menghampiri kakaknya. 

Ardha tersenyum melihat adiknya bisa menikahi gadis yang dicintainya. Tapi entah mengapa ia belum ingin melepas masa lajangnya. Ardha memeluk erat sang adik, lalu membisikan sesuatu. "Hotel Grand Nusa kamar 311," sambil menepuk-nepuk punggung Zain. Padahal di hatinya sedikit tidak rela kalau Zain dan Marta menggunakan kamar yang sudah terlanjur dipesan itu. 

LOVA {Tamat}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang