Baby Milyader

24.4K 1.6K 48
                                    

Assalamualaikum....

Ini adalah bab terakhir di cerita Lova. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan cerita ini di tengah-tengah kesibukanku yang teramat padat. Sebelumnya aku juga mau minta maaf karena kesibukanku gak bisa menepati janji untuk namatin cerita ini di bulan Ramadhan, tetapi sebagai gantinya, aku bakal kasih ekstra part ya ....

*************

Ardha menyerahkan liontin yang tertinggal di apartemennya kepada Kara. Tetapi, bukannya senang Kara mendapatkan kembali liontin miliknya, justru mata Kara berkaca-kaca. Bahkan Kara harus mengedipkan matanya berulang kali, agar air matanya tidak runtuh dari pertahanannya. Beruntungnya, hal itu tidak dilihat oleh Ardha, karena lelaki itu langsung pergi untuk mengambilkan air minum untuk para tamunya.

Sesaat kemudian Ardha kembali dengan membawa dua kaleng minuman soda di tangannya, satu kaleng Ardha berikan kepada Bima, dan satunya lagi Ardha berikan kepada Kara.

"Maaf, Tuan Ardha, saya tidak minum soda." Kara menolak secara halus.

Sebenernya Kara sudah tak nyaman berada di apartemen Ardha, berulang kali Kara memberikan kode kepada Bima untuk segera pergi, tetapi Bima seakan tidak menangkap apa yang Kara maksud, atau memang Bima pura-pura tidak mengerti?

"Tuan, karna urusan saya sudah selesai, saya pamit pergi." Kara akhirnya memberanikan diri untuk berpamitan. Jujur saya, Kara terlalu lemah jika berhadapan dengan Ardha, apalagi jika ditatap seperti saat ini Ardha sedang menatapnya dengan begitu dalam, Kara menjadi serba salah.

"Tapi urusanku denganmu belum selesai." Ardha mencoba menahan kepergian Kara.

"Urusan apa lagi?"

"Tanggung jawabku."

Kara terkejut mendengar ucapan Ardha. Setelah bertahun-tahun berlalu, baru sekarang Ardha mengatakan tanggung jawab? Kara tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum kecil.

"Anda tahu apa yang terjadi dengan hidup saya?" tanya Kara.

"Bagaimana aku tahu, kalau kau menghilang dari hidupku."

"Tetapi pernahkah Anda mencoba mencari saya?"

Ardha menggelengkan kepalanya pelan, memang Ardha tidak pernah sekalipun mencari keberadaan Kara sejak Kara memutuskan untuk pergi. Mencari tau apa yang terjadi pada Kara pun, tidak Ardha lakukan. Padahal hidup Kara sangat berantakan sejak pertemuan terakhir mereka.

Ardha semula yakin jika Kara akan menerima dirinya karena informasi dari Bima kalau Kara ternyata mencintainya sejak lama, tetapi mendengar ucapan Kara barusan, keyakinan Ardha hilang seketika. Bahkan, jika memang Kara masih mencintainya, Ardha juga tidak akan mempunyai kepercayaan diri lagi karena dia tidak melakukan usaha apapun untuk mencari tahu keberadaan Karamina selama hampir empat tahun berlalu.

"Selain alasan aku tidak pernah mencari mu, apakah ada alasan lain yang membuatmu tidak bisa menerima ku?"

Kara menganggukkan kepalanya dan berkata, "ada dua hal," jawab Kara.

Ardha tidak menjawab, tetapi hanya menaikkan sebelah alisnya sudah mengisyaratkan kalau Ardha ingin tahu jawabannya.

"Yang pertama, saya tidak bisa menerima Anda karena Anda masih mencitai wanita lain. Saya tidak mau menjadi pelarian cinta Anda, Tuan. Saya tahu, Anda mencintai Marta," ungkap Kara.

Ardha terkejut karena Kara bisa tahu akan hal itu. "Aku sedang berusaha melupakan cinta haram ku padanya, dan hampir berhasil. Butuh waktu sedikit lagi agar aku bisa menghilangkan rasa ini sepenuhnya." Ardha berkata jujur.

"Hilangkan dulu perasaan Anda pada wanita lain, jika Anda mau menemui saya," ujar Kara.

"Kalau saat itu kau sudah mencintai orang lain, bagaimana?".

LOVA {Tamat}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang