"Sudah semua, Sayang?" tanya Ayu mendekat ke arah mobil saat Marta selesai memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Sesuai janjinya dengan Umi Salamah, Marta akan berangkat ke Pesantren hari ini.
Marta mengangguk pasti, "Sudah, Ma." Marta menutup bagasi mobil.
"Mama anterin sampai ke pesantren ya, Sayang," bujuk Ayu.
"Kita kan udah sepakat, Mama nganter Marta sampai rumah Umi Salamah aja." Marta memeluk Ayu dari samping, "mama jangan bikin langkah Marta jadi berat, dong. Dari semalem Marta udah kuatin hati buat hadapi hari ini, Ma." Marta menyandarkan kepalanya di pundak Ayu, dan tepukan lembut didapatkan Marta dari tangan mamanya.
"Sering kasih kabar ke Papa ya, Nak." Andi mengusap kepala Marta dan mencium kepala yang terbalut hijab berwarna biru muda. Sebenarnya berat bagi ayah tiga orang anak itu untuk melepaskan kepergian putri satu-satunya itu.
"Insha Allah, Pa." Marta menegakkan tubuhnya. "Marta ke rumah Aisah dulu ya, semalem pulang jalan-jalan mau ke sana malah ketiduran di mobil. Alva sih gak bangunin." Marta melirik saudara kembarnya dengan kesal.
"Makanya jangan tidur, untung gak aku geret kamu masuk ke dalam rumah." Alva membalas.
"Pa ... Alva tuh, nakal." Marta mencari pembelaan, tetapi Andi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anak kembarnya.
Marta akan melangkah pergi, tetapi Alva dengan sigap mendorong tubuh Marta untuk naik ke dalam mobil.
"Aisah udah pergi dari subuh."
"Hah!" Marta terkejut, "pergi ke mana?"
"Balik kampung." Alva menjawab. "Udah berangkat sana, keburu siang."
"Bentar dulu, ih." Marta menahan pintu mobil saat akan ditutup oleh Alva, "Aku belum kasih selamat ke Aisah, kok udah pergi."
Alva tersenyum sinis, "Gak usah gaya-gayaan mau kasih selamat, semalem siapa yang nangis di mobil sampe ketiduran gara-gara ditinggal kawin."
"Ya namanya patah hati, emangnya kamu gak punya hati!"
"Apa kau bilang!" Alva sudah maju, tapi Marta dengan cepat menutup pintu mobil.
Ayu segera masuk ke dalam mobil, Arkan yang bertugas menjadi sopir malah terlihat berbincang serius dengan Alva dan mengangkat jempolnya di depan Alva.
"Kalian sekongkolin apa?" Marta curiga dan bertanya kepada Arkan saat Arkan sudah masuk ke dalam mobil.
"Urusan lelaki, perempuan gak diajak." Arkan menjawab.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah keluarga Andi, Marta melambaikan tangan kepada Andi dan Alva yang menatap kepergian mobil yang Marta tumpangi. Untuk terakhir kalinya Marta memandangi rumahnya dan juga rumah Aisah. Rumah yang semalam sangat ramai, pagi ini terasa sepi seakan tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Ma, emang bener Aisah pergi?" Marta bertanya kepada Ayu yang duduk di kursi belakang.
"Iya, mereka ke rumah sakit," jawab Ayu.
"Bukannya kaki Aisah sudah baikan? Tumben ke rumah sakitnya subuh-subuh." Marta tidak puas dengan jawaban mamanya.
"Bukan Aisah, tapi Bu Hana." Ayu memperjelas.
"Bu Hana pingsan kenapa?"
"Kak Lova, jangan banyak tanya deh," sahut Arkan yang sedikit kelas karena kakaknya banyak tanya tentang Aisah.
Marta memicing, "Kalian merahasiakan apa?"
"Gak ada!" Arkan menjawab, "ya kan, Ma." Arkan melirik Ayu dari kaca mobil, Ayu hanya mengangguk sebagai jawabannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVA {Tamat}
RomanceEPISODE MASIH LENGKAP! Judul sebelumnya, KESUCIAN SANG JANDA. Jangan lupa follow sebelum baca ya... *** Menjadi janda di malam pertama bukanlah impian dari setiap wanita di dunia. Tapi Marta bersyukur, ia dapat mempertahankan kesuciannya saat suamin...