"Mba Kara! Akhirnya datang juga!!" Marta bersorak dari dalam rumah.
"Cieeeee, ada Kara." Very menggoda dengan menyenggol lengan Ardha.
"Diem lo!" Sentak Ardha.
Entah kenapa ia menjadi gugup saat mengetahui bahwa Kara sudah berada di dekatnya. Semenjak mengetahui cerita dari Bima, jujur saja Ardha selalu kepikiran dengan Kara. Memori tentang Kara sedikit banyak teringat kembali. Apalagi semua itu karena ulahnya yang sengaja menjebak Kara agar masuk ke dalam perangkapnya. Sekarang Ardha dibuat bingung sendiri bagaimana menghadapi Kara."Gila! Kok gue jadi deg-degan gini, Ver?" Ardha memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Very tergelak melihat Ardha yang mendadak jadi aneh. Bukankah Ardha selama ini selalu bersikap biasa saja saat dekat dengan perempuan? Sebagai penakluk wanita, baru kali ini Ardha bertingkah canggung.
"Cepet temuin, terus lamar." Very berkata lagi.
"Kalau ditolak bagaimana?"
Tidak hanya Very yang tergelak melihat Ardha yang tiba-tiba menjadi pesimis, bahkan Ismawan yang tidak tahu apa-apa ikut tertawa.
"Mau diajarin?""Gak!" Ardha menolak cepat.
"Lo sudah cinta sama dia?" tanya Very.
Arda menggelengkan kepala, "Gak tau. Coba lo periksa, jantung gue jadi aneh."
Zain tidak memberikan respon apapun tentang sikap Ardha, ia seperti memikirkan sesuatu.
"Waktu kita ke rumah Kara, bukankah Kara sudah__"
"Kita belum tau kebenarannya, Wan. Biarkan Kara sendiri yang menjelaskan kepada kakakku." Zain langsung memotong ucapan Ismawan.
"Memangnya ada apa dengan Kara?" tanya Very, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, meminta penjelasan lebih kepada Zain maupun Ismawan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Zain santai. "Aku cuma tidak mau menebak-nebak apa yang belum ku ketahui." Zain lalu berdiri dan berjalan memasuki rumahnya untuk menemui Sang Ahli pembuat racun.
"Isma?" Very beralih kepada Ismawan.
"Karna lo panggil gue Isma, gue gak mau kasih tau apapun."
Sedangkan Ardha menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Semangat, Bos." Alva menyemangati.
"Bukannya terbalik?" balas Ardha yang kemudian pergi menyusul Zain.
Kara yang sedang memeluk Marta, tiba-tiba diam terpaku saat melihat seorang pria yang dikenalnya berjalan mendekat kearahnya. Dengan cepat Kara melepaskan pelukannya.
"Marta, maaf. Aku harus segera pulang. Jangan lupa minum obatnya, ya." Kara dengan cepat berbalik badan dan setengah berlari meninggalkan Marta yang bengong tidak mengerti. Untungnya mereka sedang berada di ruang tamu dan hanya ada Azka di sana, jadi Kara tidak perlu berpamitan dengan semua orang.
"Mba Kara!" Marta memanggil karena heran dengan tingkah Kara.
"Mungkin sedang buru-buru, Sayang." Zain berkomentar.
"Gak tau, sawan kali lihat Kak Ardha." Marta menjawab asal, karena tiba-tiba Ardha sudah berada di dekatnya.
"Aku yakin ada apa-apa diantara mereka berdua," duga Marta.
"Semoga Nona Kara bukan korban Kak Ardha."
Sementara Ardha tidak menghiraukan keberadaan Marta dan Zain, Ardha melewatinya begitu saja untuk mengejar Kara.
"Kara!" seru Ardha.
Langkah kaki Kara berhenti saat Bima menghadangnya. Bima yang datang bersama Kara terpaksa harus kembali ke mobil karena ponselnya tertinggal di dalam mobil.

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVA {Tamat}
RomansaEPISODE MASIH LENGKAP! Judul sebelumnya, KESUCIAN SANG JANDA. Jangan lupa follow sebelum baca ya... *** Menjadi janda di malam pertama bukanlah impian dari setiap wanita di dunia. Tapi Marta bersyukur, ia dapat mempertahankan kesuciannya saat suamin...