Jam dinding sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi Zain belum juga pulang dari kantornya. Marta gelisah menunggu di ruang tamu, tidak biasa-biasanya suaminya pulang terlambat seperti ini.
Marta segera membuka pintu saat bel di rumahnya berbunyi. Tapi keceriaan di wajahnya menghilang saat mengetahui orang yang datang bukanlah yang diharapkannya.
"Ngapain sih kamu dateng malem-malem? Ganggu aja!" ucap Marta kesal sambil memegang handle pintu.
"Aku mau lihat keponakanku." Alva menerobos masuk tanpa memperdulikan seruan Marta yang melarangnya untuk tidak naik ke kamar atas.
"Varo sudah tidur, Al. Jangan digangguin deh!" Marta menahan tangan Alva saat akan membuka pintu kamar.
"Aku cuma mau mau lihat keponakanku yang sudah satu bulan ini aku tinggalkan ke luar kota. Varo pasti kangen sama Oomnya yang keren ini." Alva mendorong tubuh Marta ke samping.
"Diiiih ... sejak kamu pergi ke Lampung, kenapa kamu jadi narsis gini sih! Kamu sudah pacaran sama Mifta?" goda Marta.
Alva berbalik arah menghadap Marta, "Pacaran pala lu!" Sebuah toyoran mendarat di kening Marta.
"Huh, pantesan nggak laku kawin kamu, Al. Nggak pernah punya pacar, jutek, kaku, nggak mau ngalah, suka perintah-perintah." Marta mengabsen sifat-sifat Alva di mata Marta.
Alva bersedekap dada dan memandang Marta dari ujung kepala hingga kaki yang tertutup gamis dan jilbab instan.
"Memangnya kamu punya kelebihan?" tanya Alva mengejek.
"Adalah, kelebihanku banyak," sahut Marta.
"Kelebihanmu cuma satu, punya suami Zain," ejek Alva.
"Eh, ada satu lagi sekarang," lanjut Alva.
"Apa?"
"Kelebihan lemak, hahahahaha." Alva terbahak karena berhasil membuat Marta berubah kesal. Marta paling tidak suka kalau disinggung masalah berat badan semenjak melahirkan.
"Alva, kalau Varo nyampe bangun, kamu yang nyusuin dia!" Marta menghampiri Varo yang mengeliat karena suara keras dari Alva. Ternyata Varo tidak sampai bangun, Marta bernapas lega.
Alva duduk di sisi tempat tidur juga, bibirnya menyungging melihat makhluk kecil berusia dua bulan dengan pipi yang gembul itu sedang terlelap.
"Va, kamu ngurus anak satu aja repot banget. Padahal sudah dibantu sama dua pembantu. Bagaimana dulu mama merawat kita ya, Va? Pasti lebih repot lagi. Papa kan dulu masih jadi karyawan biasa banget. Papa bilang, papa diangkat jadi manager setelah kamu lulus SMA. Papa dulu kerja keras banget buat menghidupi kita dan keluarga sejak kita kecil," ucap Alva mengenang cerita Andi.
"Al ...."
"Itulah sebabnya aku belajar dan bekerja dengan keras, Va. Aku ingin membuat hidup keluarga kita lebih layak. Aku ingin mengangkat derajat keluarga kita yang sering dihina oleh orang lain saat papa berhutang ke sana-kemari demi memenuhi kebutuhan keluarga. Aku ingin membuat papa bangga dengan kerja kerasku dan papa akan merasa berhasil telah membesarkan kita." Alva menunduk, semenjak Alva tau kalau perjuangan Andi tidaklah mudah dalam hidup yang serba terbatas, Alva menjadi semangat belajar. Alva menguatkan tekat didalam hatinya untuk menjadi orang yang berguna di masa depan.
"Kamu tau, Va? Aku dulu pernah bekerja partime sejak SMP untuk membatu membayar uang sekolah dan beli buku." Alva menatap Marta yang tangah serius mendengarkan ceritanya.
"Kamu kerja partime, Al? Kok aku baru tau," ucap marta terkejut.
Alva mengangguk. "Aku kerja di toko material milik Haji Umar, Va. Aku bekerja karena beban papa semakin besar karena membiayai sekolah ketiga anaknya. Aku tau sulitnya membiayai sekolah tiga orang anak yang bersekolah di sekolah swasta, karena sekolah negeri terlalu jauh dari rumah kita. Aku mengumpulkan uang agar aku bisa kuliah di kampus ternama agar aku punya peluang untuk mengambil S2 di luar negeri melalui program beasiswa. Saat kuliah akupun masih bekerja, tapi tidak lagi menjadi kuli panggul, aku menjadi asisten dosen dan membuat tulisan lewat blog pribadi agar bisa menghasilkan uang."
Air mata Marta mengalir, ia tidak menyangka Alva begitu keras berjuang untuk keluarganya. Marta tau, bekerja di toko material tidaklah mudah, memanggul semen setiap hari sampai mengangkut matrial ke rumah-rumah pelanggan. Pantas saja Alva pulang sekolah selalu sore hari, kadang magrib baru sampai rumah.
"Al ...."
Alva tersenyum masam. "Aku menjaga jarak dengan wanita sedari sekolah maupun kuliah karena aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk mengurusi wanita yang belum menjadi tanggung jawabku. Hanya kamu dan mama wanita yang menjadi prioritasku. Saat kuliah, ketika banyak wanita yang mendekatiku, aku mengatakan kalau kamu adalah pacarku. Itulah alasannya aku sering mengajakmu untuk datang ke pesta teman-temanku. Aku melakukan itu untuk membuat mereka berhenti mengejarku. Karena hanya kamu wanita yang bisa kupeluk dan kurangkul di depan umum tanpa takut aku menanggung dosa."
Alva menatap Marta dengan lekat. "Maaf kalau aku tidak pernah mengenalkanmu kepada teman-temanku sebagai saudaraku. Aku tidak mau mereka mendekatimu melalui diriku. Aku berusaha melindungimu dari pria brengsek yang hanya akan mempermainkanmu. Aku tidak mau itu terjadi."
Marta segera menghamburkan diri memeluk Alva. Betapa beruntungnya ia mendapatkan saudara kembar seperti Alva, ternyata sikap keras Alva kepada dirinya selama ini adalah bentuk kasih sayang Alva kepada dirinya.
"Terimakasih, Al. Terimakasih untuk semuanya." Marta mengeratkan pelukannya.
Bersambung..
****************

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVA {Tamat}
RomanceEPISODE MASIH LENGKAP! Judul sebelumnya, KESUCIAN SANG JANDA. Jangan lupa follow sebelum baca ya... *** Menjadi janda di malam pertama bukanlah impian dari setiap wanita di dunia. Tapi Marta bersyukur, ia dapat mempertahankan kesuciannya saat suamin...