Dengan tedkad yang bulat, Ardha berangkat ke Roma untuk menemui Kara. Selama tiga bulan setelah kepergian Kara dari Apartemennya waktu itu, Ardha tidak bisa tidur dengan tenang. Ia sangat terusik dengan nama Vero yang Kara sebut sebagai pria yang dicintainya.
Ardha belum mencintai Kara waktu itu, tapi entah kenapa ia tidak rela mendengar ada pria lain yang Kara cintai. Ingin rasanya Ardha menemui Kara lagi, tapi ucapan Kara saat itu membuat Ardha harus menenangkan hati dan fikirannya dahulu.
Ardha tidak mau gegabah, ia sedang mengosongkan hatinya agar nantinya bisa menempatkan nama Kara di sana. Walaupun sejak hari itu Ardha menjadi gelisah karena rindu yang mendera, Ardha tetap menahan diri. Tapi setelah ia mengetahui sebuah fakta baru, jika Vero yang Kara maksud adalah seorang anak laki-laki berusia dua tahun lebih sebuah harapan baru muncul.
Ingin rasanya Ardha terbang ke Roma saat itu juga, tapi pekerjaan penting di luar negeri telah menunggunya. Baru setelah urusan pekerjaan yang sudah terjadwal itu selesai, ia bisa mengurusi urusan pribadinya. Bukan tanpa alasan Ardha meyakini Varo adalah putranya. Ardha tahu, sebesar apa rasa cinta Kara kepada dirinya hingga membuat Kara mendatangi apartemennya malam itu.
***
Ardha berulang kali mengatur nafasnya, degup jantungnya tidak bisa dikontrol dengan baik. Perasaannya tak menentu, Ardha ragu untuk mengetuk pintu apartemen yang berada di hadapannya.
"Bismillah."
Diketuknya pintu apartemen milik Kara. Tak lama kemudian pintu terbuka. Ardha terkejut saat melihat siapa yang membuka pintu, ternyata seorang laki-laki. Kepercayaan dirinya tiba-tiba menghilang.
Apakah dia suami Kara? gumam Ardha.
"Siapa, Mas?" Terdengar suara Kara dari dalam.
Mas?
Ardha semakin yakin kalau orang ini adalah suami kara setelah Kara memanggil pria ini dengan panggilan Mas.
"Nggak tau, nggak penting!" ketus laki-laki itu.
Kara berjalan mendekati pintu. Ia sedikit terkejut saat melihat Ardha sudah berada di depan apartemennya dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya.
"Tuan, Ardha?"
"Aku datang, Kara," ucap Ardha dengan senyum getirnya. Ia memandangi wajah Kara dan wajah pria yang berdiri di sebelahnya. Hatinya terasa nyeri.
"Silahkan masuk, Tuan." Kara mempersihlakan tamunya untuk masuk kedalam apartemennya yang tidak begitu besar.
Walau enggan, Ardha tetap menuruti perintah Kara. Setidaknya Ardha harus berterus terang tentang perasaannya yang sekarang. Ardha duduk di sofa ruang tamu berseberangan dengan pria yang tadi membukakan pintu untuknya. Pria itu bersedekap dan memandang remeh Ardha.
"Aku minta maaf kalau kedatanganku mengganggu waktu kalian berdua, aku baru datang sekarang karena telah menyiapkan hati yang kosong sesuai permintaanmu. Aku sudah membuang perasaan cintaku untuk Marta dan memupuk cinta untukmu. Aku berusaha menjadi laki-laki baik untuk bisa pantas denganmu. Tapi ucapan Zain yang mengatakan kalau Vero adalah anak kecil, aku seperti mendapatkan kekuatan baru untuk menemuimu. Aku saat itu yakin kalau Vero adalah anakku. Tapi keyakinan itu patah saat aku mendengarmu memanggil dia dengan sebutan Mas," ucap Ardha langsung. Ia tidak mau banyak basa-basi dan menjadikan hatinya semakin sakit melihat dua orang di hadapannya ini di dalam satu rumah. Ardha tidak tahu, kalau Muna sedang berada di belakang.
Kara mengernyitkan keningnya. Memangnya ada yang salah dengan panggilannya? Kara rasa tidak.
"Aku menyadari kalau aku tidak tahu diri datang menemuimu. Aku begitu yakin kalau kau mencintaiku. Ternyata aku salah. Kamu pasti mencintai ayah Vero." Ardha melirik pria yang juga tampak bingung dengan ucapan Ardha.
Kara mengangguk, "Aku memang mencintai ayah Vero, sejak lama." Kara mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Ardha.
Ardha menunduk, "Kau membuatku patah hati, Ra," ucapnya.
"Kau yang lebih menyakiti Kara!" sentak pria itu.
"Mas, tolong diam sebentar," pinta Kara. Pria itu langsung diam dengan wajah kesalnya.
"Tuan, Sebenarnya ...."
"Mamaaaa!" seru balita laki-laki yang berdiri diambang pintu kamar.
Kara menoleh dengan cepat, "Vero, kemari, Sayang,"
Ardha memperhatikan Vero, wajahnya kenapa sangat familiar untuknya. Ardha membandingkan dengan wajah pria yang di seberangnya, tidak ada mirip-miripnya sama sekali.
"Kau yakin itu anak dia?"
Kara terperangah mendengar ucapan Ardha, tapi sejurus kemudian ia tertawa lirih karena Ardha sudah salah paham kepadanya.
"Yang bilang dia anakku siapa? Kalau Kara tidak hamil waktu itu, aku sudah menikahinya sejak dulu," ujar pria itu ketus.
"Jadi kalian bukan suami istri?"
Kara menggeleng sambil menahan senyum.
"Lalu panggilan Mas tadi?" tanya Ardha lagi.
"Namanya Dimas. Makanya saya panggil dia Mas," jawab Kara.
............
Bersambung di cerita RACIKAN CINTA (Awal mula kisah Ardha dan Kara dimulai)
****
Ahamdulillah, terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca ceritaku sampai sejauh ini. Yang sudah suport aku dengan komentar dan bintangnya, aku doakan semoga rezekinya selalu lancar dan selalu diberikan kesehatan. Aamiin.
Aku minta maaf kalau cerita ini banyak sekali kekurangannya, semoga kedepannya aku bisa lebih baik lagi dalam menulis cerita.
Terimakasih semuanya... salam haluuuu 😘😘😘😘

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVA {Tamat}
RomanceEPISODE MASIH LENGKAP! Judul sebelumnya, KESUCIAN SANG JANDA. Jangan lupa follow sebelum baca ya... *** Menjadi janda di malam pertama bukanlah impian dari setiap wanita di dunia. Tapi Marta bersyukur, ia dapat mempertahankan kesuciannya saat suamin...