Tidak seperti biasanya, kali ini Marta cepat sekali merasa lelah. Padahal ia tidak terlalu banyak aktifitas di cafe, hanya mengawasi dan mengajari karyawan-karyawan barunya saja itupun dibantu oleh Mifta yang sudah satu bulan ini bekerja di Cafe Lova.
Mifta cukup cekatan dan rajin dalam bekerja, tetapi ia tidak bisa bekerja saat malam hari karena Mifta tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang fotografer. Mifta meminta bekerja pada pagi hari sampai sore hari karena ia juga harus mengurus Kakaknya yang sedang sakit di rumah.
"Mif, aku ke kamar dulu ya." Marta pamit kepada Mifta yang sedang menulis laporan belanja pagi ini.
"Kamu sakit?" Mifta memegang kening Marta dengan tangan kanannya.
Marta pun menggelengkan kepala, "Gak tau, tiba-tiba aja badanku lemes, rasanya males, pengennya tidur," jawab Marta lemas.
"Oh, itu mah sakit malarindu," timpal Mifta asal.
"Malarindu, gundulmu!" Marta menimpuk pelan lengan Marta. "Dah, ah. Aku ke kamar dulu. Nanti kalau Arkan dateng, panggil aku ya," pesan Marta.
"Siap, Bos!" Mifta berlagak memberi hormat, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya yang hampir rampung.
Ponsel Mifta berdering, nomor tidak dikenal muncul di layar. Mifta membiarkan saja, hingga sampai tiga kali panggilan Mifta langsung mengangkat panggilan itu.
"Aku minta waktu lagi, Bang. Aku akan usahakan."
Mifta menghela nafas panjang saat panggilan telpon berakhir. Wajahnya menjadi tidak tenang sekarang.
"Kenapa Engkau pilih aku untuk memikul semuanya? Padahal bahuku tidak sekuat itu," lirih Mifta.
Sementara Arkan yang ditunggu-tunggu oleh Marta, sedang mengantri bakso lava langganan mereka. Karena sedang jam makan siang, maka antrian menjadi ramai. Butuh waktu tiga puluh menit sampai Arkan akhirnya bisa mendapatkan satu bungkus bakso lava jumbo pesanan Marta. Arkan langsung tancap gas menuju cafe dengan menggunakan motornya.
"Mbak Dina, Kak Lova mana?" tanya Arkan kepada Dina yang sedang bertugas di kasir.
"Di atas," jawab Dina, telunjuknya mengarah ke lantai dua Cafe Lova.
Arkan lalu meminta Dina untuk menyiapkan bakso yang dibawanya dan meminta tolong untuk mengantarkannya ke atas. Sementara Arkan naik duluan menemui Marta. Di atas, Arkan sedang menemukan Mifta menenggelamkan kepalanya diantara dua tangannya.
"Ay," panggil Arkan sembari menggoyang-goyangkan tubuh Mifta. "Kamu kenapa? Sakit?"
"Eh. Enggak." Mifta langsung mengangkat kepalanya. "Aku gak apa." Mifta lalu merapihkan rambutnya, dan mengusap wajahnya.
Arkan tidak percaya, dan menelisik wajah Mifta. "Kamu nangis?"
"Enggak, tadi cuma ketiduran aja," kilah Mifta.
"Kamu pulang aja kalau sakit, Cafe biar aku yang urus," suruh Arkan.
"Aku, gak apa, Ar. Aku baik-baik aja." Mifta meyakinkan Arkan yang tampak mencemaskan dirinya.
"Kalau sakit bilang, aku gak mau disalahin sama Yang Mulia Raja."
Mifta tersenyum mendengar Arkan berbicara, "Dia takut banget aku kabur, mentang-mentang aku habis casbon, padahal habis gajian." Mifta berbicara sendiri.
Suara langkah kaki menghampiri Mifta dan Dina, aroma bakso langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciuman. Marta yang sedari tadi berada di dalam kamar, langsung ke luar saat wangi khas bakso tercium sampai ke dalam kamar.
Mata Marta berbinar melihat bakso bulat besar di atas meja. Karena bakso berukuran lumayan besar. Dengan segera Marta duduk di sebelah Arkan lalu mengambil garpu dan pisau untuk membelah bakso.

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVA {Tamat}
RomanceEPISODE MASIH LENGKAP! Judul sebelumnya, KESUCIAN SANG JANDA. Jangan lupa follow sebelum baca ya... *** Menjadi janda di malam pertama bukanlah impian dari setiap wanita di dunia. Tapi Marta bersyukur, ia dapat mempertahankan kesuciannya saat suamin...