"Lo mau pesen minum apa?" Welsen bertanya pada ketiga orang yang ada di belakangnya saat ini, "lo kayak biasa kan? Americano?" dia bertanya pada Dezel yang memakai kemeja hitam dan tampak rapi padahal biasanya cowok itu jarang sekali mementingkan penampilan.
"Gue jus apel aja, udah nggak suka americano," Raut wajah Dezel jelas sekali kalau dia sedang berbohong.
"Nggak suka americano? Since when?" tanya Welsen, seingatnya kemarin malam Dezel masih minum americanoyang dibuatkan oleh Katarina saat cewek itu memberitahu kalau mereka harus menemaninya untuk nonton konser.
"Dezel bilang kalau dia udah berhenti americano sejak satu bulan yang lalu kok," Jade, perempuan yang menjadi teman kencan Dezel yang menjawab.
"Oh ya?" Alis Welsen terangkat, dia menatap temannya itu dengan sebuah tanda tanda yang jelas tercetak di raut wajahnya.
"Americano itu nggak bagus buat tubuh and untungnya Dezel udah sadar akan hal itu saat gue bilangin ke dia," Jade terkekeh saat mengatakan hal itu, senyumannya bahkan seperti sedang memamerkan kalau Dezel benar-benar sudah jatuh cinta padanya dan menuruti semua perkataannya.
"Ya, bener, nggak bagus banget buat tubuh emang si americano," Dezel tersenyum canggung, kemudian dia kembali memberitahu pesanannya pada Welsen.
"Gue pesen jus apel aja kayak Dezel," Jade berkata.
"Lo mau minum apa?" Kali ini Welsen bertanya pada perempuan lain yang ada disana, dan katanya akan menjadi teman kencannya hari ini. Ya, hari ini saja. Untuk permasalahan americano-nya Dezel, dia harus menanyakan perihal itu di rumah.
"Gue ikutin lo aja, lo mau minum apa?" Perempuan yang bernama Abigail itu menjawab, pipinya mendadak merah saat mengatakan hal itu.
"Oke," Welsen membalikkan badannya menghadap kasir dan memesan pada si pelayan, "jus apelnya dua, chocolate panasnya juga dua ya."
Saat Welsen memesankan minuman, Jade menyenggol temannya yang sedang menatap Welsen dengan kagum, "Pipi lo kok merah sih? Lo beneran suka sama Welsen?"
"Ah, apaan sih," Abigail berusaha untuk menutupi rona wajahnya, kalau sampai Welsen tau ... mau taruh dimana mukanya itu?
"Lo beneran suka sama Welsen? Gue kira cuman biar bisa liat muka cowok gue," Jade tertawa, seperti sedang menertawakan kebodohan temannya itu.
"Emang beneran mau liat muka cowok lo doang kok, makanya gue gunain Welsen biar nggak canggung aja," Abigail tidak menatap wajah Jade saat dia berbicara, dia malah memfokuskan penglihatannya pada Welsen yang tersenyum ketika pelayan cafe memberikan struk pembeliannya.
"Kalian duduk dulu aja, ntar gue yang ambil," Welsen berkata dengan wajahnya yang datar.
Abigail sedikit takjub dengan cowok itu yang bisa mengubah senyumannya menjadi kembali datar. Jujur saja, satu minggu yang lalu ketika dirinya melihat Welsen dari foto yang diberikan oleh Jade saat cewek itu menunjukkan wajah dari Dezel, dia mendadak tersenyum dan meminta untuk ditemukan oleh cowok yang berdiri disebelah Dezel di dalam foto itu. Terlebih lagi, sepertinya dia tau kenapa dirinya tertarik pada Welsen.
"Ok, kita duduk di dekat kaca aja gimana?" Jade memberikan saran, tangan kirinya dia lingkarkan ke lengan Dezel secara sengaja.
"Boleh," Dezel menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Jade.
Ketika Abigail ingin ikut berjalan ke tempat duduk yang dimaksud oleh Jade tadi, Jade lebih dulu menahan lengan teman perempuannya itu dan berkata, "Lo temenin Welsen aja," lalu dia kembali jalan bersama Dezel.
"Ah, ok," Abigail mengangguk dan berjalan ke arah cowok dengan hoodie hitamnya sedang menunggu kedatangan minuman-minuman yang dipesankan olehnya. Sebelum Abigail sampai disana, dia menyempatkan diri untuk berhenti dan mengecek wajahnya melalui kamera ponselnya.
"Hai," sapa Abigail, setelah merasa sudah puas dengan wajahnya dan memastikan tidak ada cabai yang menyelip di giginya mengingat tadi pagi dia sempat makan geprek yang dibuatkan oleh ayahnya.
"Hai," balas Welsen tanpa ada senyuman di wajahnya.
"Canggung banget ya harus ikut double date hari ini?" Abigail mengulum bibirnya untuk menutupi rasa gugupnya ketika berada dengan cowok yang benar-benar membuatnya penasaran dan suka pada pandangan pertama.
"Ah, gue biasa aja sih to be honest," jawab Welsen yang jauh dari perkiraan Abigail.
Abigail berdeham menutupi kecanggungannya, biasanya dia tidak pernah seperti ini saat berhadapan dengan seorang laki-laki. "Lo satu sekolah sama Dezel ya?" tanya Abigail.
"Ya," ujar Welsen, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan membaca sekilas pesan singkat yang dikirimkan oleh seseorang yang dengan segera dia hubungi melalui panggilan whatsapp.
"Lo lagi ngapain?" tanya Welsen pada orang yang ada diseberang sana.
"..."
"Jangan kebanyakan ngehaluin ketujuh bujang lo, nggak bagus buat kesehatan mental," Welsen terkekeh saat mengatakan hal itu, membuat Abigail yang ada didepannya ini melongo terkejut.
"..."
"Udah makan? Pesen piza sana," ujar Welsen.
"..."
"Iya, pakai credit card gue. Gue ada titipin ke lo kan kartunya?" Welsen mengerutkan dahinya tidak yakin, "bener nggak sih?"
"..."
"Ok, pesen yang banyak ya. Gue bentar lagi pulang."
"..."
Abigail benar-benar tidak percaya kalau dia hanya berdiri di depan pujaan hatinya sedangkan cowok itu seperti sedang kasmaran dengan orang yang ada dibalik panggilan itu. Awalnya dia kira dengan berada disini, dia akan dengan mudah untuk berkomunikasi dengan Welsen dan pada akhirnya bisa berhubungan lebih lanjut dengan cowok itu. Tapi, ternyata ekspetasinya sangat jauh dengan apa yang terjadi di realita.
"Ya, bawel. Besok gue temenin lo kesana," Welsen masih berbicara dengan orang lain pastinya, bukan Abigail.
Abigail mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk agar tidak terlihat oleh Welsen, dia mengarahkan pandangannya pada Welsen dan ketika cowok itu juga melihat ke arahnya, dia berbicara tanpa mengeluarkan suara, "Siapa?"
"Paling lama sepuluh menit lagi gue pulang," bukannya menjawab pertanyaan Abigail, cowok itu malah lebih mementingkan pertanyaan yang sepertinya ditanyakan oleh orang yang ditelfon oleh Welsen. Pada saat itu, Abigail pun tau kalau dirinya sudah tertolak bahkan sebelum berusaha untuk mendapatkan cowok yang dia idam-idamkan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF THE ROAD
Teen Fiction---------------------------------------------- This work is protected under the copyright laws of the Republic of Indonesia (Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia no.19 tahun 2002). Any reproduction or other unauthorised use of the written work...
