EMPAT PULUH LIMA

27 2 0
                                        

"Gue mau nanya ke kalian, mungkin gue akan nanya pertanyaan yang kemungkinan besar akan kalian jawab dengan gula-gula diatasnya, or whatever. But I really do want to know your real answer of this question," Gema menatap ketiga cowok yang sedang asik untuk menenggak minuman pesanan mereka seperti orang yang sebelumnya belum pernah minum, "you understand me?" Tatapannya berubah menjadi lebih intens daripada sebelumnya.

            "Lo mau nanya apaan dah? Serius amat," Katarina tidak tau menau mengenai pertanyaan yang ingin ditanyakan. Dia mengeluarkan ponsel yang ada di kantung celana pendeknya dan menaruhnya diatas meja, bertepatan dengan notifikasi pesan yang muncul tiba-tiba dan membuat Welsen penasaran.

            "Charles and Rayden at the same time? Really?" Alis Welsen bertautan dan bertanya dengan nada yang sebetulnya mengejek sekaligus heran.

            "Ngapain lihat-lihat sih," omel Katarina, dia menutup ponselnya segera sehingga casing belakang ponselnya saja yang terlihat, tepatnya polaroid foto Rusy Gang dengan piyama kesayangan mereka saat acara kemah di taman belakang rumah beberapa bulan yang lalu.

            "Penasaran aja," jawab Welsen santai tanpa merasa bersalah sama sekali.

            "Lo dideketin sama Charles, Kat?" tanya Sam.

            "Jason juga? Jason Rayden? Kembarannya Weel?" Dezel juga ikut bertanya.

            Katarina berdeham canggung, otaknya berpikir bingung mau menjawab apa karena sejujurnya dia tidak begitu tau. Apakah memang keduanya mempunyai niatan untuk mendekati dirinya? Karena kalau iya, dia pasti akan memilih untuk tidak membalas pesan mereka berdua, dia tidak berniatan sama sekali untuk mempunyai hubungan percintaan apapun.

            "Lo sadar kalau mereka lagi deketin lo?" Sam menyadari raut wajah temannya itu, dia paham betul karena kejadian ini bukan hanya terjadi sekali, namun berkali-kali sampai Sam sudah lelah melihat pesan-pesan cowok yang secara terang-terangan mendekati Katarina, tapi cewek itu sama sekali tidak peka.

            "Lo terlalu polos, Kat. Kayak biasanya," Dezel memutar bola matanya jengah. Terkadang, dia kesal dengan kepolosan Katarina yang pada akhirnya bukan hanya merugikan dirinya dengan membuang-buang waktu, tapi juga dengan cowok-cowok yang berusaha untuk mendekatinya temannya itu. Katarina memang bukan seorang perempuan bodoh dalam pendidikan dan berani untuk bersikap, dia hanya bodoh dalam percintaan.

            Katarina memasang raut wajah kesalnya dan berkata, "Lo pada sengaja kan alihin topik biar Gema nggak jadi nanya," dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap ketiga temannya itu bergantian, "dasar picik," keluhnya.

            "Picik?" Alis Dezel terpaut, dia tidak terima namun masih dalam kadar yang ingin membalasnya dengan candaan, "lo yang picik buat deketin dua cowok sekaligus."

            "Asshole," balas Katarina kasar.

            Mendengar kata kasar keluar dari mulut orang yang ada disebelahnya membuat Welsen menoleh tajam dan menutup mulut cewek itu dengan kedua tangannya, posisinya saat ini Katarina menyerongkan badannya ke arah Welsen yang membuat seakan-akan mereka sedang berpelukan dari belakang tapi tangan Welsen tetap di wajah Katarina. "Perempuan bukan sih?" omel Welsen, Bapak dari segala Bapak yang ada di perumahan Rusy.

            "Lekong," jawab Katarina malas, dia lalu mengigit kecil bagian telapak tangan Welsen hingga si pemilik berteriak kesakitan, "syukurin."

            "AAA!" teriak Welsen, dia meringis kesakitan walaupun sebetulnya luka gigitan dari Kat tidak begitu sakit, dia hanya ingin berpura-pura saja.

            "Lebay," ledek Dezel dan Sam pada temannya yang duduk tepat diseberang mereka.

            "Weh, serius deh, back to the topic," Gema sedari tadi ingin sekali menengahi tapi masih dia masih berasa belum mempunyai kesempatan untuk melakukan itu. Setelah mendapat atensi dari semua orang, dia akhirnya baru menanyakan pertanyaan yang membuat keempat sahabat itu terdiam beberapa saat, "lo pernah jatuh cinta sama teman satu circle lo nggak?"

            Melihat semua orang terdiam, Gema langsung cepat-cepat mengganti pertanyaannya,       "Gimana pendapat lo untuk pacaran satu circle? Are you against for it?"

            "Random banget lo nanya pertanyaan tentang hal itu," Dezel berdeham canggung.

            "Gue cuman pengen tau aja sih pendapat lo orang mengenai hal itu," Gema memberitahu, "soalnya gue lagi ngalamin hal itu sama circle pertemanan gue, dan I don't know what to do."

            Katarina menganggukan kepalanya, menengak sisa minumannya dan mengedarkan pandangannya, "Kalau menurut gue ... pacaran satu circle itu punya keuntungan dan kerugiannya masing-masing and it depends on you. Kalau lo bersedia buat nanggung resikonya, go for it. Tapi kalau lo nggak sanggup, ya mundur, lupain perasaan lo dan enjoy your friendship with him, tentunya sebagai teman dan bukan seorang wanita."

            "Gue setuju sih, resikonya besar soalnya," Sam ikut menjawab, "makanya kalau bisa sih jangan pacaran sama satu pertemenan dah, bakalan repot dan susah buat move on nya."

            "Lo udah pernah berada di posisi itu?" Gema membalikkan pertanyaannya pada Katarina dan Sam.

            Dan betapa terkejutnya mereka semua saat Katarina menganggukan kepalanya, tanpa sadar dia juga ikut menyeruakan isi hatinya saat dia menundukkan kepalanya dan menatap lantai putih marble tempat dia berpijak, "And it hurts ... like hell."

            "Apa?" Welsen bertanya secara spontan.

            "Eh?" Katarina mengangkat wajahnya dan menatap semua temannya, "gue ... nggak kok. Maksud gue tuh pasti bakalan, apa, hmm, susah."

            "Lo beneran udah pernah ngerasain, Kat?" Gema bertanya secara sengaja, dia benar-benar ingin tau.

            "Ah, nggaklah. Mau sama siapa," Katarina tertawa canggung setelah itu, dia lalu berusaha untuk menutupi rasa canggungnya dengan bertanya, "pendapat lo gimana tentang pacaran satu circle, Weel, Dezel?"

            "Kalau gue sih sama sekali nggak masalah. Namanya juga perasaan, siapa yang bisa ngatur kan?" Dezel menjawab dengan santai.

            "Lo gimana?" Katarina menoleh ke arah Welsen untuk bertanya setelah cowok itu melepas genggaman mereka beberapa saat yang lalu, tepatnya saat Katarina memastikan bahwa gigitannya tidak begitu menyakiti sahabatnya itu.

            "Gue?" Welsen menunjuk dirinya dengan telapak tangan. "Surprisingly, kalau lo bilang mengenai menanggung resikonya sebagai perempuan, then I will not let my girl to take the risks just because our relationship will affect everything and everyone. The risks will under my name, not hers to think and burden for. I will make sure that. Because I love her and she loves me, bukannya itu yang terpenting?"

            Dan, harusnya gue ngomong itu ke lo pada saat itu kan?" Welsen melanjutkan perkataannya.

END OF THE ROADCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang