Rahasia ditujukan untuk selalu disembunyikan karena ada berbagai alasan yang mengharuskan hal tersebut untuk tidak dibeberkan oleh siapapun. Tapi, ketika rahasia tersebut secara tidak sengaja terungkap, orang yang menyimpan hal tersebut mau tidak mau harus menanggung semuanya.
Setelah perkelahian didepan UKS tadi siang, Jason langsung saja mendorong mundur Welsen yang terdiam dan membatu dengan mulutnya yang tertutup sangat rapat. Sedangkan, Katarina? Cewek itu merutuki dirinya sendiri karena telah membongkar rahasia yang seharusnya bukan kehendaknya untuk mengatakan hal itu.
Tapi, untunngnya Welsen tidak membahas lebih lanjut mengenai hal tersebut. Dia hanya bangkit berdiri dan menatap Katarina dengan kosong dan berkata, "I need you to explain that."
"Weel, it is not my right to tell you everything, especially that secrets yang udah gue carry for a whole year," ujar Katarina tadi siang.
"Gue nggak mau denger hal itu dari orang lain, Kat. Can't you understand that? Gue cuman mau lo yang jelasin rahasia itu. Hanya lo. Paham kan?" Welsen tidak mengatakannya dengan nada tinggi, pembawaannya cukup terbilang santai untuk orang yang baru saja terkena bom dengan kapasitas dampak yang besar.
"Gue harus ngomong dulu sama nyokap lo," Katarina lalu menundukkan kepalanya. Dia mau tidak mau menyebut satu nama yang sudah memberitahu dirinya sejak awal tahun ini, itupula secara tidak sengaja.
"Lakuin apa yang harus lo lakuin, tapi satu hal yang pasti, Kat. Gue cuman butuh lo untuk jelasin semuanya. Bukan orang lain," kata Welsen untuk mengingatkan.
"Kalau misalnya nyokap lo minta dia aja yang jelasin, what should I do? Tentu aja gue nggak bisa nolak dong, Weel. It is her rights to tell you about her secret."
"No, tell her that I will not listen to anything from everyone, including her and except you."
"Weel,"
"Lo nggak apa-apa kan? Pusingnya udah reda?" Welsen malah membahas hal lain yang tidak berkaitan dengan rahasia terbesar keluarganya itu.
Setelah melewati hari yang sangat panjang, Rusy Gang sudah sampai di rumah dengan keadaan mobil yang cukup tenang tanpa adanya bahasan. Semuanya fokus kepada pikirannya masing-masing. Sam menutup pintu belakang mobil setelah turun, "Lo pada mau pesen makanan? Pizza?"
"Lo masih punya nafsu makan ya? Gue sih nggak," Dezel menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak bisa berpikir untuk makan. Hal yang ingin dia lakukan cuman satu, yaitu tidur. Dia sangat ingin mengistirahatkan otaknya yang terus saja berpikir mengenai kemungkinan yang akan terjadi dari dua masalah yang ada saat ini. Masalah percintaan Katarina dan Welsen yang kemungkinan akan mengubah persahabatan mereka dan juga masalah yang baru saja timbul tadi siang.
"Well, to be honest ... gue pesen makanan itu khusus untuk mereka berdua. They both gone through a lot saat ini, seakan-akan dunia ngasih mereka banyak banget cobaan secara bersamaan," Sam menunjuk kedua orang yang sudah masuk ke dalam rumah dengan tatapan kosong walaupun otaknya bekerja nonstop.
"Iya sih, kalau gitu pesen aja makanan yang bisa di makan sama mereka berdua tanpa perlu repot-repot. Just order simple food, kayak bubur."
"Bubur? Lo kira mereka lagi sakit apa," dumel Sam, dia memukul punggung sahabatnya yang lebar itu dengan tenaga dalam.
"Sumpah, masih ada aja tenaga lo buat mukul gue," Dezel mengarahkan tangannya untuk mengusap punggungnya yang selalu menjadi kebanggaan dirinya sebagai seorang laki-laki. "Bakso?"
"Terlalu bulat buat otak."
"Goblok,"
"Pesen ayam aja gimana?"
"Ayam apaan?"
"Ayam goreng sama beer. Perpaduan yang serasi dan pas kan?" Sam memberikan idenya.
"Lo terlalu banyak nonton drama Korea ya kayaknya," Dezel melenggang pergi meninggalkan Sam yang menatap punggungnya dari belakang sambil melakukan hal yang sudah pasti cowok itu lakukan, mendumel layaknya ibu-ibu komplek ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari tukang sayur.
Sesaat ketika Dezel dan Sam masuk ke dalam rumah, Katarina dan Welsen sedang duduk santai di ruang tamu dengan diam. "Lo yakin kalau tadi siang Welsen baik-baik aja pas dikasih tau mengenai bom raksasa itu? Beneran tenang-tenang aja?"
"Ya, kok. Yang gue denger dari Kat sih tenang-tenang aja, maka dari itu gue heran pas ngeliat Welsen ngelamun di mobil dan," Sam menunjuk Welsen yang duduk di bawah sofa, menyender ke arah sofa yang digunakan Katarina, "dan di rumah. Bukannya mereka terlalu santai seakan-akan memang bertujuan untuk menunda-nunda waktu."
"Nggak paham gue sama permasalahan mereka berdua. Asli deh, gue bingung," ujar Dezel. Dia langsung saja melengos pergi untuk memesan makanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF THE ROAD
Teen Fiction---------------------------------------------- This work is protected under the copyright laws of the Republic of Indonesia (Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia no.19 tahun 2002). Any reproduction or other unauthorised use of the written work...
