Malam hari tiba dan sesuai dengan perjanjian mereka sebelum semua drama dan pertengkaran ini terjadi, mereka berempat sudah berjanji untuk melakukan satu tradisi yang sudah mereka lakukan sejak dulu kala, yaitu, melakukan BBQ party di rooftop rumah mereka. Katarina menekan bel pintu masuk dengan satu botol soda di tangan kanannya dan perlengkapan memasak lainnya di plastik yang dia bawa di tangan kanannya. "Kenapa harus pakai bel di saat lo tau sandi masuknya sih, Kat?" Welsen membukakan pintu untuk Katarina, dia menggunakan celana pendek santainya yang kebetulan diberikan oleh Katarina sebagai hadiah ulangtahun cowok itu tahun lalu.
"Nice shorts, and yes I am fine, thanks for asking," sindir Katarina, memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya dia tidak diperlakukan sebagai tamu ketika dirinya adalah seorang tamu. Sebelum sampai di rumah lamanya, dia sudah memantapkan dirinya untuk tidak melakukan apapun yang dapat memicu konflik ataupun keabu-abuan di antara hubungannya dengan Welsen. Dia akan melakukan perannya yaitu dengan kembali menjadi Katarina yang tidak canggung dan gugup akan hal apapun yang berkaitan dengan Welsen.
"Yeah," Welsen juga ikut memutar bola matanya, lalu dia dengan sigap langsung membawakan kedua barang bawaan perempuan yang ada dihadapannya saat ini. "Sam sama Dezel udah ada di atas, pastinya dengan daging yang mereka udah beli tadi siang," ujarnya.
"Gue bawa extra meat from the very best fridge in the world," ujarnya bangga akan barang temuannya tadi sore. Kalau saja kulkas yang ada di rumah Mamanya di Jakarta Selatan bisa dibawa ke apartemen miliknya saat ini, sudah pasti kalau dirinya akan dapat makan makanan yang lebih bermutu, bukan hanya sekedar sarapan sereal dan mie instan untuk makan malam.
"Lo ke rumah Mama?" tanya Welsen, tentu saja Mama yang sedang dia sebut saat ini adalah Mamanya Katarina.
"Yes, dan di kulkas Mama ada banyak banget coklat. Kayak dulu," kekeh Katarina, ingatannya terlintas jauh ke masa kecilnya yang terlampau sangat bahagia tanpa adanya masalah apapun yang menghampiri mereka.
"Choco has been our soulmates," anggukan kepala dari Welsen pun terlihat, lalu dia mempersilahkan Katarina untuk masuk ke dalam dan bergabung dengan kedua temannya yang lain.
"Pizza!" seru Katarina untuk menyapa Sam yang sedang sibuk mengeluarkan ikan dari aquarium kecil-kecilan yang biasanya digunakan sebagai tempat tinggal sementara ikan yang akan mereka bakar di setiap acara.
Dezel dari sisi kanan kolam renang rumah pun berjalan menghampiri Sam yang tengah kewalahan dengan ikan tangkapannya, "Udah sepuluh menit lo berantem sama tuh ikan dan sama sekali belum ketangkep sampai sekarang?" kemudian matanya menangkap jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan tadi. Ternyata ikannya terlalu besar sehingga jaring yang digunakan oleh Sam tidak dapat menjangkaunya, ditambah lagi dengan ikan yang dinamakan Layla, seringkai mengibas-ibaskan ekornya. Situasi yang sulit memang.
"Help me!" teriak Sam dengan raut wajah yang tidak tenang sama sekali, mungkin karena ikan tangkapannya hampir saja keluar dari aqurium, berusaha untuk kabur di saat jaring yang dia gunakan tidak siap seratus persen.
Mendengar permintaan dari Sam, Dezel dan Welsen dengan sigap langsung berlari untuk memberikan pertolongannya. Tanpa diberi aba-aba, mereka berdua seperti sudah tau apa yang harus mereka lakukan saat ini. Dezel mengambil baskom besar yang sudah disiapkan oleh Sam sebelumnya dan memberikan penjagaan di sisi kanan aquarium sedangkan Welsen bersiap untuk menangkap ikan dengan tangan kosong jikalau ikan tersebut berusaha untuk kabur.
"Butuh bantuan gue juga nggak?" Katarina menawarkan, namun tidak ada satupun dari temannya yang menjawab sehingga dia menyimpulkan bahwa mereka bertiga tidak membutuhkan bantuannya. Jadi, dia mengeluarkan kamera filmdari dalam tasnya yang memang sengaja dia bawa untuk mengabadikan momen seperti saat ini.
"Ini aib, Kat! Jangan berani-beraninya nanti lo post ya!" Sam yang sadar akan kamera berkata.
"Iya," Katarina menganggukan kepalanya. Tapi, siapa yang bisa melarangnya? Tentu saja, tidak ada yang dapat melarangnya untuk melakukan apapun, kecuali dirinya sendiri.
"Harus banget ya momen perpisahan terakhir gue sama Kat harus dibarengin sama momen nangkap ikan kayak tahun lalu?" Welsen menghela nafasnya panjang, tangannya tetap sigap untuk menangkap.
Dezel sedikit terkekeh meskipun tidak begitu jelas, "Mungkin emang Tuhan lagi kasih lo cobaan biar ketika balikan lagi sama Kat, lo jadi nggak punya urat malu lagi karena udah diputusin sama ikan," pada saat itu juga ikan yang mereka ingin tangkap masuk ke dalam baskom yang Dezel pegang. "Takdir."
"Takdir? I don't believe in faith," jawab Welsen.
"Mungkin saat ini lo nggak percaya sama kebetulan, tapi nanti ada saatnya lo akan percaya apa yang namanya takdir. Gue yakin dan pasti," Dezel tersenyum sambil menatap ikan yang ada di dalam baskom besarnya dan berenang dengan tenang, "lo akan kembali percaya sama takdir."
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF THE ROAD
Dla nastolatków---------------------------------------------- This work is protected under the copyright laws of the Republic of Indonesia (Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia no.19 tahun 2002). Any reproduction or other unauthorised use of the written work...
