"Menurut lo, Welsen bersalah atau nggak?" Katarina bertanya pada Sam yang sedang duduk di ruang tamu bersamanya, menunggu makanan cepat saji yang baru saja mereka pesan untuk menu makan malam hari ini. Ruang persidangan tadi siang benar-benar sangat panas ketika selintingan topik kasus mereka dibahas disana.
"Gue nggak tau, belum baca materinya lebih jauh sih," Sam lalu menunjuk tumpukkan berkas kasus persidangan kali ini yang ada diatas meja kaca didepannya, "lo liat, gue belum cek sama sekali. Lagipula, gue nggak dapet peran penting banget buat mutusin Welsen bersalah atau nggak."
"Pihak jaksa bener nggak sih sebenarnya? Harusnya bener, karena dari pandangan gue, Welsen itu salah. Dia ngebunuh korban," Katarina berpikir sebentar, pikirannya sedang mengilustrasikan cara pembunuhan yang dilakukan oleh Welsen dari kronologi yang diberitahu oleh Ko Bernard tadi siang.
"Jadi, Welsen bersalah?" Dezel keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Katarina mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan Dezel, lalu dia berdiri dari sofa yang dia duduki dan menghampiri Welsen yang juga baru keluar dari kamar laki-laki itu, "Lo ngebunuh kan? Lo ngebunuh korban kan?" cecar Katarina pada cowok itu.
"Belum ada jadwal persidangan. Seorang tersangka juga nggak boleh ngobrol sama jaksa mengenai kasusnya sendirian, kecuali sama pengacaranya. So, be my lawyer if you want to know," Welsen menjawab, dia melenggang begitu saja melewati Katarina yang sudah berada didepannya saat ini.
Katarina berdecak kesal, menghentakkan kakinya ke lantai dan menjatuhkan dirinya untuk duduk di lantai yang dingin karena dia memakai celana pendeknya dan kaos oversized yang panjangnya seperti sedang memakai gaun pendek. "Kenapa sih harus lawan Ivonne."
"Lo takut lawan dia?" Sam bertanya, dia baru menyadari hal itu. Dia melemparkan selimut abu-abu yang ada di sofa ruang tamu untuk menutupi bagian paha Katarina yang nampak dengan jelas.
"Nggak," bantah Katarina secepat kilat, dia menatap jam Sam yang bertanya padanya tadi, dia tidak mau teman rumahnya itu mengetahui apa yang dia rasakan mengenai sidangnya.
"Santai aja kali," Welsen menyenderkan kepalanya ke sofa cokelat yang dia duduki bersamaan dengan laptop Sam yang ada disana dengan keadaan menyala.
"Gue santai kok," ujar Katarina.
"Nggak, lo jelas-jelas jawabnya sewot," ujar Welsen.
"Dih, apaan sih, semua orang yang ada disini juga tau kalau gue jawabnya nggak sewot," Katarina menunggu persetujuan dari kedua temannya yang lain, "bener kan?"
"H-hah?" Sam mengalihkan pandangannya terhadap Katarina, jangan sampai cewek itu melihatnya karena dia sama sekali tidak tau apa yang harus dikatakan. Faktanya, Katarina agak sedikit menaikkan nada suaranya sehingga terkesan sewot ketika menjawab pertanyaan tadi. Tapi, kalau dia membantah cewek itu, bisa runyam rencana makan malamnya hari ini.
Bel tiba-tiba saja berbunyi, menyelamatkan Sam dan Dezel dari pertanyaan housemate mereka. "Gue aja yang ambilin," Dezel berlari lebih dahulu sebelum disusul oleh Sam.
"Semua orang juga tau kalo lo tadi jawabnya sewot," Welsen memutar bola matanya lalu mendengus kesal.
"Terserah," Katarina menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan menatap sinis cowok yang duduk santai di sofa itu. Pikirannya kembali melayang ke bagaimana caranya cowok itu membunuh si korban yang akan dia bela minggu depan di persidangan.
Welsen menatap Katarina heran, "Ngapain lo?"
"Kepo amat jadi orang," sinis Katarina, dia kemudian mengambil tempat didepan meja kaca, duduk menyila sambil menunggu makanan cepat saji yang akan dibawakan oleh Sam dan Dezel. Perutnya berbunyi dengan keras sampai Welsen yang berada lumayan jauh darinya mendengar hal itu.
"Lo belum makan?" Welsen dengan khawatir bertanya.
"Bukan urusan lo," jawab Katarina sekenanya, mana mungkin cewek itu jujur. Ini masalah harga diri. Bisa-bisanya suara perutnya terdengar ke telinga cowok itu.
"Apaan sih, gue cuman nanya, Kat. Ya ampun," Welsen menggelengkan kepalanya tidak percaya, tangan kanannya menarik bantal kecil yang baru saja dijadikan penumpu kepala Katarina saat dia menyenderkan kepalanya ke belakang sofa.
"Sakit ih!" Katarina meringis kesakitan, kepalanya terkena benturan kecil ke sofa yang ada di belakangnya itu. Setelah mendapatkan kekuatannya kembali akibat kepalanya yang sedikit sakit, Katarina membalikkan tubuhnya dan langsung saja melayangkan pukulan balas dendamnya yang terdengar sangat keras saat tangannya mendarat cepat di paha Welsen yang tidak ditutupi apapun karena cowok itu sedang menggunakan celana basket yang jelas saja tipis.
"Ganas amat sih lo berdua," Sam berjalan dengan tiga plastik makanan Korea yang ada ditangannya, dengan jelas dia dapat melihat kedua pasang orang yang biasanya seringkali bertengkar kecil-kecilan sejak mereka tinggal bersama lima tahun yang lalu.
"Sekarang tau kan kenapa gue nggak mau sama dia," Katarina menunjuk Welsen dengan telunjuk tangannya dengan wajahnya yang merah padam.
"Kenapa? Karena gue nggak perhatian, iya?" Welsen bertanya yang pada akhirnya malah memancing keributan panjang, dia ingat apa yang dikatakan cewek itu ketika menolak dirinya sebagai tipe ideal Katarina.
"Nggak! Karena lo nyebelin! Ngeselin! Nggak penuh kasih sayang! Nggak perhatian juga termasuk!" sindir Katarina dengan nada bicaranya yang menggebu-gebu.
Dezel yang berada disamping Sam dan berdiri lumayan jauh dari Katarina dan Welsen pun menyikut teman cowoknya itu, dan bertanya, "Lamborghini vs Porsche, menang mana?"
"Hm?" Alis Sam terangkat, dia tidak begitu paham maksud perkataan Dezel.
"Welsen lamborghini, porschenya si Katarina, kalau diadu menang mana?" Dezel terkekeh.
"Nggak tau, tapi kayaknya porsche soalnya lebih cepet," jawab Sam setelah berpikir selama kurang lebih satu menit, pandangannya masih tidak teralihkan pada Sam dan Katarina yang masih saling sindir seperti anak remaja yang baru saja bertemu.
Dezel menganggukan kepalanya paham, "Menurut lo, kalau porsche dan lamborghini kita gabungin, bakalan jadi apa?" Tiba-tiba saja ada ide yang terlintas dikepalanya.
"Maksud lo? Gabungin gimana? Mana bisa? Mesinnya aja udah bertolak belakang," Sam berpikir keras mengenai pertanyaan bodoh yang ditanyakan oleh Dezel, menurutnya. Dia masih belum mengerti. Well, kalau orang lain mengajaknya berbicara mengenai 1001 tips sukses mendekati wanita cantik, dia jagonya. Tapi, kalau masalah mencari makna tersirat dari suatu kata atau pembicaraan, jangan cari dirinya karena mencari Sam untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sama saja dengan masuk ke dalam jalan buntu.
"Gimana menurut lo? Kalau gabungin bakalan jadi apa?" Dezel mengulang pertanyaannya kembali, membayangkan kalau Katarina dan Welsen menjadi sepasang kekasih. Itu yang dia maksudkan. "Nggak paham," Sam menjawab dengan jujur, langkah kakinya dia lanjutkan tanpa menunggu jawaban dari Dezel karena dia yakin kalau hal yang harus dia lakukan saat ini adalah menengahi perdebatan tidak masuk akal kedua orang yang ada di ruang tamu keluarga mereka ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF THE ROAD
Teen Fiction---------------------------------------------- This work is protected under the copyright laws of the Republic of Indonesia (Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia no.19 tahun 2002). Any reproduction or other unauthorised use of the written work...
