LIMA PULUH DUA

30 3 0
                                        

"We should talk," Welsen berdeham untuk mengatasi kecanggungan dan kekhawatirannya atas apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan yang sangat dia sayangi itu. Jujur saja, bertengkar karena permasalahan seperti ini sama sekali belum pernah terbayangkan oleh dirinya, dan kehilangan Katarina atas apa yang terjadi nantinya akan menjadi penyesalannya yang paling dalam.

            Kalau yang ada dipikiran Welsen adalah skenario terburuk dari pertengkaran mereka, Katarina malah lebih memikirkan bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini karena dia sama sekali tidak berniatan untuk melanjutkan apa yang dia mulai sebelumnya. Berbagai alasan yang membuat dirinya menghindari semua ini.

            "Kat, lo udah siap buat ngomongin hal ini?" Welsen bertanya, lalu sedetik kemudian dia berkata, "siap nggak siap, menurut gue, lo udah harus ceritain semuanya. Kita selesaiin permasalahannya satu-satu karena apa yang terjadi saat ini ... semuanya hasil dari tumpukkan di masa lalu." Dia lalu menepuk bangku disebelahnya untuk mengisyaratkan Katarina agar dia bisa duduk dan berbicara dengannya.

            "Gue belom siap."

            "Kat,"

            "Gue belom siap, lo ngerti Bahasa Indonesia kan?" sinis Katarina, matanya dia bulatkan dan dengan tegas dia berkata.

            "Kat,"

            "Apaan sih! Lo bilang kalau lo akan nunggu gue siap, tapi apa? Lo malah maksa gue sekarang?!" teriak Katarina histeris.

            "Itu sebelumnya, Kat. Tapi kali ini ... kali ini aja gue mau jadi orang egois yang pengen semuanya cepat selesai, salah kalau gue kayak gitu?" Welsen membalikkan pertanyaannya.

            Membutuhkan waktu dua menit bagi Katarina untuk memutuskan apa yang harus perempuan itu lakukan. Katarina mengigit bibir bawahnya ragu dan mengambil tempat duduk tepat didepan Welsen.

            "Apa yang mau kita bahas duluan?" tanya Katarina, sekuat tenaga dia menjaga raut wajahnya agar siapapun tidak dapat membaca gerak-geriknya dengan mudah.

            "Your love, our relationship," jawab Welsen.

            "Seriusan? Di tengah masalah kayak gini, lo malah pikirin tentang hubungan kita?" Alis Katarina naik, dia sungguh bingung dengan apa yang dipikirkan oleh sahabat cowoknya itu, "lo beneran bertindak jadi orang yang egois ya rupanya?" sinis Katarina.

            "Terserah lo mau anggap gue apa, tapi for your information, gue milih membahas hubungan kita pertama kali karena emang lo yang paling penting diatas apapun. Don't you get it?"

            "The most important thing yang harus kita selesaikan pertama kali itu tentang keluarga lo, Weel."

            Welsen menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Nggak."

            "Kenapa sih? Kenapa harus masalah kita duluan yang harus diselesain? I don't understand you anymore, Weel. You are," Katarina memandang Welsen dengan tatapannya yang menyatakan bahwa cowok itu sangat susah untuk diajak bicara dan dimengerti, "very complicated, to be very honest."

            "Fine," Welsen menganggukan kepalanya seperti sedang menyetujui sesuatu, "alasan gue mau nyelesain semuanya mengenai hubungan kita berdua itu cuman satu. Gue yakin kalau masalah keluarga gue nantinya akan buat gue hancur, sehancur-hancurnya and I need you. Kalau kita belum menyelesaikan apapun diantara kita kerdua, lo akan ninggalin gue sendirian dan gue nggak mau itu terjadi."

            "Weel," tatapan Katarina menjadi lebih lembut daripada sebelumnya.

            "Jangan natap gue kayak gitu," Welsen mengalihkan pandangannya malu-malu, sepertinya ini pertama kalinya dia memberitahu apa yang ada dipikirannya dengan jujur mengenai perasaannya? Kecuali saat dia menyatakan perasaannya pada Katarina ya.

END OF THE ROADCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang