"Hei," bisik seorang laki-laki dengan suaranya lembut dan pelan karena dia sadar akan tempat yang sedang dia kunjungi dengan perempuan berjaket hitam yang sudah tertidur pulas sejam yang lalu. "It's time, kita harus pulang."
"Yaaa?" Katarina berusaha untuk membuka matanya yang secara tidak sadar tertutup ketika dia menyiapkan materi untuk ulangan besok pagi. Dia melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, jam tangan warna hijau tua yang diberikan oleh Welsen pada saat ulangtahunnya yang ke lima belas, dua tahun yang lalu.
"Udah jam delapan malam," Charles yang menjawab, padahal Katarina sudah mengecek jamnya sendiri.
Katarina mengangguk paham, matanya masih dalam tahap penyesuaian dengan cahaya perpustakaan yang sangat terang seakan matahari dipindahkan ke dalam perpustakaan untuk menerangi para siswa yang sedang menyiapkan ujian dan tugas, Katarina tidak tau pasti.
"Mau makan apa?"
"Makan?"
"Ah," Charles tersenyum canggung, "lo pasti nggak mau makan bareng gue ya? Hahahaha, gue paham kok. Gue bakalan langsung antar lo balik," ujar Charles.
"Ah, bukan begitu," Entah kenapa dia masih cangung dengan cowok yang sudah tiga hari ini menemaninya tanpa alasan yang jelas, hanya saja ... cowok itu ada di saat ketiga sahabat cowoknya tidak ada. "Kita makan dulu aja," ujar Katarina yang merasa tidak enak.
"Nggak perlu maksain diri lo sama gue, Kat," kekeh Charles.
"Nggak apa-apa, gue lumayan laper kok," Katarina menyunggikan senyuman hangat sekaligus canggungnya karena dia harus bisa menutupi rasa kecanggungannya dengan Charles. Dia tidak mau cowok itu berpikir yang macam-macam mengenai dirinya.
Sebentar, apa ia baru saja berbohong?
Berbohong hanya karena ia tidak mau Charles berpikir yang macam-macam, kan?
Apakah ini yang dirasakan oleh ketiga sahabatnya ketika menutupi perihal kepergian lomba? Mereka tidak mau Katarina berpikir macam-macam? Apakah benar?
Katarina mengenyahkan pikiran-pikiran tersebut dari benaknya dan memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam tas. Ketika dia ingin memasukkan salah satu pembatas buku yang dia bawa, memorinya mengenai bagaimana dia bisa mendapatkan pembatas buku tersebut terbesit.
—
Sembilan bulan yang lalu,
Toko buku begitu ramai ketika Katarina dan Dezel melangkahkan kaki mereka masuk untuk mencari buku-buku perlengkapan olimpiade yang dilangsungkan di Jepang. Jangan heran kalau para anggota Rusy Gang seringkali mengikuti perlombaan di luar negeri sebagai perwakilan sekolah, karena memang mereka berempat merupakan siswa-siswi terbaik di Jakarta Hilton. Bahkan, saking seringkali perginya, paspor mereka sudah hampir setengah terisi dengan cap-cap dari imigrasi negara-negara lain.
"Gue harus ngomelin Sam yang ngebuat kita berdua masuk ke toko buku di jam segini," Dezel menggerutu, dia dan Katarina memang terkena sial karena kebagian tugas untuk mencari buku sedangkan Sam dan Welsen belanja perlengkapan rumah.
"Wah, gila banget sih asli," Katarina tidak henti-hentinya menggelengkan kepalanya sembari berdecih sekali-kali.
"Gue ... bingung harus mulai dari mana buat nyari buku yang kita pengen beli," Dezel mengedarkan pandangannya sekali lagi, seluruh rak buku benar-benar penuh tanpa ada jarak, sekalinya ada jarakpun hanya bisa muat satu sampai dua orang.
Katarina mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan oleh temannya. Dia lalu merangkul Dezel dan menepuk bahu cowok yang lebih tinggi daripada dirinya itu, "Tenang, gue punya ide. Karena badan gue kecil, mari kita manfaatkan itu hari ini."
"Hah?" Dezel mengerutkan dahinya tidak paham.
Tidak menjawab pertanyaan Dezel, Katarina lebih dulu bergerak untuk masuk ke kerumunan, tapi sayang usahanya itu gagal ketika dia terpental akibat dari dorongan orang-orang yang ada di lemari buku itu. Untung saja, Dezel dengan sigap menahan tubuh ringan Kat, karena kalau tidak perempuan itu bisa saja terjatuh ke lantai. "Not a good idea, don't you think so?"
"Yeah, seems like a bad plan," Katarina menghela nafasnya panjang dan bangkit berdiri, melepaskan dirinya dari pertahanan yang disediakan oleh Dezel.
"What should we do, then?"
"Terobos."
"Lagi?"
"Yes, but in a different way."
"Maksudnya?"
"Lo cek yang ada disana," Dezel menunjuk mobil-mobilan kecil yang biasanya disewakan untuk anak kecil yang mengunjungi toko buku. "Lo duduk disana."
Bagai tersambar petir, Katarina tidak bisa bergerak ataupun bernapas ketika melihat mobil yang ditunjuk oleh Dezel dan sama sekali di luar ekspetasinya. "Lo mau gue naik ke mobil itu?"
"Iya," Dezel menganggukan kepalanya.
"Who are you?" Katarina mengernyit heran, "keluar lo! Sam, keluar lo! Ngapain lo dibadan si Sam!" dia menggoyang-goyangkan badan sahabatnya yang sudah paham apa yang sedang dilakukan oleh temannya itu.
"Iya, Sam! Keluar lo!" Dezel juga ikut berteriak seakan Sam sedang merasuki dirinya.
"Kenapa sih?" beberapa orang menengok melihat atraksi mereka, dan pada saat itu, Katarina yang menyadari bahwa atraksinya dapat membuahkan hasil langsung saja berlari masuk ke jalan kosong yang ada di lorong buku yang dia inginkan dan meninggalkan Dezel yang kelimpungan.
Katarina berteriak ketika dia berhasil menemukan buku yang dia inginkan, "Assa!" dia menaikkan bukunya ke arah Dezel yang sebetulnya tidak dapat terlihat oleh cowok itu karena beberapa alasan. Pertama, dia terhalangi oleh rak buku yang ada didepannya. Kedua, masih banyak orang-orang yang berada didepannya dan tentu saja lebih tinggi daripada dirinya. Kesimpulannya? Dia pendek. Kalau saja Dezel yang berada disana dan menunjukkan bukunya, menggantikan Katarina, pasti bukunya terlihat.
Ketika Katarina ingin keluar dari barisan, kakinya secara tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang tentu saja membuat Dezel panik setengah mati ketika melihat hal itu terjadi, dia cepat-cepat lari dan kembali ... menangkap Katarina dengan posisi yang tidak wajar.
Kaki Dezel dia tekuk sebelah kanannya sedangkan kaki kirinya dia gunakan untuk menopang tubuh Katarina. Tangan kanannya dia gunakan untuk menangkap buku yang dipegang oleh cewek itu. "Gue ... udah disurga ya?" Katarina bertanya, dia membuka matanya yang besar dan menatap ke atas. Cahaya putih dapat terlihat dimatanya seakan dia akan dijemput oleh malaikat, padahal cahaya itu adalah pantulan sinar lampu.
"Kalau lo udah disurga, Tuhan pasti salah masukkin karena lo pantasnya di neraka," jawab Dezel, dia memutar bola matanya malas.
"Eh?" Katarina menengok ke belakang dan melihat orang yang sudah dua kali menangkapnya hari ini. Tapi, ketika dia baru saja ingin membalas perkataan Dezel, dia sadar bahwa buku yang dia bawa tidak ada ditangannya dan tergantikan oleh pembatas buku yang asing.
"Bukannya nyelamatin buku, malah megang pembatas buku," sindir Dezel, dia membenarkan posisinya dengan meminta Katarina untuk bangun perlahan-lahan.
"Pembatas buku?" Katarina mengerutkan dahinya heran, dia lalu melihat ada pembatas buku ditangannya, matanya menjelajah sekitar untuk mencari buku yang seharusnya ada ditangannya. Tapi, nihil ...
Tidak ada buku olimpiade yang mereka cari karena stok hanya tinggal satu dan hilang akibat tragedi sebelumnya. Mengakibatkan mereka hanya membawa pulang pembatas buku bertulisan Friends over everything dengan desain yang unik dan sudah dibayar oleh Dezel. Lima ribu.
KAMU SEDANG MEMBACA
END OF THE ROAD
Roman pour Adolescents---------------------------------------------- This work is protected under the copyright laws of the Republic of Indonesia (Undang-Undang Hak Cipta Republik Indonesia no.19 tahun 2002). Any reproduction or other unauthorised use of the written work...
