Di bab ini gue bakalan nulis soal Indro sama Loly, jadi terserah kalian mau baca atau nggak. Tapi gue saranin di baca aja, ya. Soalnya biar nggak ketinggalan.
__________________________________________
"Ndro!"
Indro menoleh kepada Loly yang berada di sebelahnya. Mereka sedang duduk di bangku taman mini yang ada di kompleks perumahan Loly.
"Kenapa?" tanya Indro.
"Kenapa lo berubah?" tanya Loly.
"Maksud lo?" Indro mengernyitkan dahinya.
"Kenapa setelah Ria kembali lo jadi berubah?"
Indro tertawa sumbang. "Berubah apa, sih, Lol? Gue nggak ada berubah. Gue tetap jadi Indro, nggak jadi yang lain."
Loly diam menatap dari samping wajah Indro. Bibir tipis, alis tebal, hidung mancung, pipi sedikit chuby, dan pastinya wajah Indro begitu sempurna. "Tapi nyatanya kembalinya Ria buat gue semakin jauh dari lo, Ndro," lirih Loly.
Indro menoleh, membuat pandangannya bertemu dengan Loly. Untuk beberapa detik mereka saling tatap, tapi setelahnya Indro memutuskan kontak mata mereka.
"Apa lo akan kembali sama Ria, Ndro?" tanya Loly, melihat Indro yang hanya diam.
"Apa gue hanyalah tempat singgah buat lo, sebelum lo pulang lagi ke Ria?" terdengar nada sumbang di suara Loly, gadis itu seperti menahan tangis.
"Lol, nggak gitu!" Indro tidak tega melihatnya.
Loly tersenyum. Tapi bukan senyum bahagia, melainkan senyum miris yang terlihat kesedihan. "Gue sayang sama lo Ndro. Gue tau, Ria adalah gadis pertama di hati lo. Sementara gue, gue orang baru yang data ke kehidupan lo. Tapi yang harus lo tau, sayang gue nggak pernah main-main sama lo."
Indro tersentuh mendengar pengakuan Loly. Dia menatap mata Loly, tidak ada kebohongan di sana hanya ada ketulusan. Tetapi aneh, ntah kenapa pengakuan Loly tidak cukup untuk membuat perasaan Indro menjadi seperti di saat Indro bersama Ria.
Nyatanya, Indro sama sekali tidak ada merasakan perasaan aneh di jantungnya. Berbeda di saat dulu ia bersama Ria. Jantungnya selalu berdetak cepat, bahkan ia selalu gugup jika bertatapan dengan Ria. Tetapi kenapa bersama Loly tidak?
"Apa sekarang, lo juga mikirin Ria?" tanya Loly, menarik kesadaran Indro kembali.
"Ah, nggak!" Indro gelagapan, tertangkap basah kalau dia memang sedang memikirkan Ria.
Loly bangkit berdiri. "Mungkin mulut lo bisa bohong, Ndro! Tapi mata dan hati lo, akan tetap berkata jujur."
"Lol, gue..." Indro ikut berdiri.
Loly menggeleng dan tersenyum. "Gue sayang sama lo. Tapi kalau memang Ria adalah orang yang lo mau, gue nggak akan nahan lo buat terus bersama gue."
"Ng..." ucapan Indro terhenti kembali karena Loly memotongnya.
"Kejar Ria, Ndro! Jangan biarin Ria semakin jauh dari lo! Gue baik-baik aja," ujar Loly tersenyum. Lalu gadis itu berbalik, ingin pergi.
"Loly!" Indro menarik pergelangan tangan Loly, membuat gadis itu berhenti.
"Nggak usah khawatirkan gue, Ndro. Yang terpenting lo nggak kehilangan terlalu jauh jejak Ria nanti. Lo nggak mau kan, jejak Ria semakin samar buat lo temuin?" tanya Loly, membuat Indro diam.
Loly melepaskan tangannya pelan. "Sebelum lo nyesal, lakuin lah hal yang benar."
Setelah mengatakan kalimat itu, Loly pergi meninggalkan Indro yang terdiam di tempatnya.
Indro kembali duduk. Ucapan Loly barusan terngiang-ngiang di benaknya.
Sebelum lo nyesal, lakuin lah hal yang benar.
Apa yang harus Indro lakukan? Dia menatap jalan yang tadi Loly lewati saat pergi.
"Haruskah gue ninggalin orang yang sayang sama gue demi memperjuangkan kembali orang yang pernah gue cintai, bahkan mungkin sekarang masih gue cintai?"
-----
Hayoloh!!! Indro gimana ini? Ria apa Loly????
Sambil nunggu update Rindro, baca cerita aku yang judulnya ,"I Heart You" kuy! Sama jangan lupa vote and comment juga! Di jamin seru!!!
Sama makasih ya yang udah ikutin persyaratan aku waktu itu 😘
Aku tantang kalian, kalau kalian suka Rindro, vote cerita aku yang I HEART YOU !!! Nggak usah banyak-banyak, minimal 10 vote hari ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Teen FictionIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
