Terkadang, kita emang harus melakukan hal yang tidak ingin kita lakukan.
Rindro
Ria menatap ke luar jendela kamarnya, melihat bintang yang bertaburan begitu banyak di langit malam. Dia sendiri di rumah, Uda Zein belum balik dari padang. Devan? Lelaki itu sepertinya ada urusan di luar.
Ting...
Ria menatap ponselnya yang ia letakkan di depannya, tanpa berniat mengambilnya.
Ting...
Lagi-lagi ponselnya berbunyi mengeluarkan notifikasi, membuat Ria terpaksa melihat siapa si pengirim yang mengganggu waktunya.
Indro
Lo nggak datang?
Wulan nyariin lo terus, Ri.
Pesan itu hanya di lihat oleh Ria, tidak berniat untuk membalasnya. Dia melihat jam di ponselnya, sudah pukul tujuh malam. Sorry, Lan. Bukan gue nggak mau datang, tapi gue emang harus nggak datang. Karena gue pengen semua tentang gue dan kalian semua menghilang dan di lupain, batin Ria, menatap kembali ke arah langit malam.
"Woy!" tiba-tiba pintu kamar Ria terbuka bersamaan dengan Devan masuk. "Lo nggak di undang ke acara ultah si Wulan?" tanya Devan, duduk di tempat tidur Ria.
Ria mengangguk. "Di undang," jawabnya.
"Emang lo nggak mau datang?" tanya Devan lagi, yang di balas Ria dengan mengangguk. "Mau jalan nggak?" tawar Devan, dia tau Ria sedang sedih sekarang.
"Kemana?" tanya Ria.
"Kemana aja, yang penting lo nggak sedih lagi," ujar Devan.
Ria tersenyum tipis, lalu ia bangkit berdiri dan mengambil cardigannya yang bewarna hitam. "Ayo!" ajaknya.
Devan ikut berdiri dan merangkul Ria berjalan. "Jangan sedih-sedih terus, gue nggak suka lihatnya."
"Iya."
Di saat Ria dan Devan keluar dari rumah, bertepatan saat itu seseorang dari luar ingin mengetok pintu rumah Ria. Ria kaget, melihat kedatangan orang itu.
"Lo mau ngapain ke sini?" tanya Ria, mengernyit.
Indro tersenyum sinis. "Lo tau nggak, Ri? Di sana, pesta Wulan belum di mulai sama sekali karena Wulan bersikeras kalau lo bakalan datang. Tapi ternyata, lo di sini malah asik sama pacar, lo," ujar Indro, terkekeh meremehkan.
"Emang gue ada bilang gue bakalan datang?" balas Ria bertanya. "Bahkan gue nggak sudi di undang ke pesta dia, tau, nggak, lo?!"
Indro menggeleng. "Sikap dingin lo emang nggak menjamin hati buruk lo buat berubah, ya, Ri."
Devan maju, memegang kerah baju kemeja Indro. "Lo jangan berani-berani bilang gitu sama Ria, Anjing!"
Ria menarik paksa tangan Devan. "Stop, Dev! Ucapan dia nggak lebih menyakitkan dari perbuatan dia sebelumnya," kata Ria, menatap sinis Indro.
"Pergi, lo, Njing! Nggak usah lo ke sini," usir Devan kasar.
Indro tertawa hambar dan mengangguk-angguk. "Okey... Gue bakalan pergi. Gue nggak akan ganggu waktu lo berdua," kata Indro, ingin melangkah pergi. Tapi di saat dia sudah berjalan dua langkah, ia berbalik kembali menatap Ria dan mengucapkan sebuah kalimat.
"Lo pengen kita ngelupain lo dan menganggap semuanya nggak pernah terjadi, kan, Ri?" tanya Indro, tetapi Ria hanya diam di rangkulan Devan. Indro mengangguk-angguk dan tersenyum hambar.
"Gue bakalan lupain, lo! Gue bakalan anggap bahwa lo nggak pernah ada di bagian cerita kita."
-----
Kok gue jadi sedih dengar kalimat terakhir Indro, ya?
Apa kisah Rindro bakalan benar-benar berhenti?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Teen FictionIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
