33. Hari Tanpa Devan

1.8K 182 8
                                        

Sebelum baca jangan lupa vote dulu ya 😊
Jangan lupa juga comment di setiap kalimatnya kalau bisa 🙏😊
______________________________________

"Sekarang gue belajar, bahwa nggak ada yang kekal di hidup ini. Segala hal yang pernah hadir adalah hal yang sebenarnya hanya singgah."

Ria

Ria menguap sambil berjalan menaiki tangga sekolahnya menuju lantai dua. Matanya terlihat sayu, seperti mata panda. Malam tadi, Ria lama tidur karena menunggu Devan yang berangkat ke Padang pukul 01.00 pagi tadi.

Buruk!

Hampir saja Ria terjatuh dari tangga kalau tidak memegang pegangan tangga itu. Dia menatap kesal orang yang menabraknya itu.

"KAK BAIM KENAPA SUKA NABRAK, SIH?" kesal Ria, menatap Baim—kakak kelasnya itu.

"Eh, beset dah! Ngegas ae, lo!" Baim menggeleng melihat Ria. "Eh, tapi tumben lo kagak cuek? Biasanya cuek bebek, lo?" heran Baim.

Ria hanya menatap datar Baim, lalu memutar bola matanya, kesal. Ia pun pergi meninggalkan Baim, melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

"Dih, dasar bocah! Malah di kacangin gue," kata Baim, menatap Ria sambil geleng-geleng.

Sementara Ria, dia sudah masuk ke dalam kelasnya. Kelasnya sudah lumayan ramai. Indro, Wulan, dan yang lain juga sudah ada di sana. Tetapi Ria memilih bodo amat.

"Dengar-dengar, ada yang pawangnya udah pulang ke asalnya, nih," sindir Raquel, jelas itu untuk Ria.

"Bukan pawangnya, Quel. Ternyata sepupu dia," ujar Santi.

Mata Ria membulat, kaget. Bagai mana Santi bisa tau kalau Devan adalah sepupunya. Ria menatap Indro, lelaki itu tersenyum melihat padanya. Bukannya deg-degan, Ria malah merinding melihat senyum Indro. Ia tidak tau maksud senyum itu apa.

"Sepupu?" tanya Raquel. "Maksud, lo, dia nyuruh sepupunya buat pura-pura jadi pacarnya gitu?" tanya Raquel, yang memang tidak paham.

Santi mengangkat bahunya, "ia kali," jawabnya tak acuh.

Ria hanya menganggap angin lalu pembicaraan ke dua orang itu. Tetapi yang membuat Ria bingung, kenapa Beben dan yang lain tidak ikut berkomentar. Biasanya semuanya sibuk menjadi kompor.

"Selamat pagi semua!" sapa Pak Jaky (sorry ya kalau namanya salah, lupa gue.)

"PAGI PAK!" sapa semuanya, kecuali Ria. Gadis itu hanya dia memperhatikan.

"Hari ini kita mulai pelajaran kita. Buka buku halaman..."

30 menit berlalu...

"Huam!" Ria menguap berulang kali, matanya benar-benar ngantuk sekarang. Rasanya Ria ingin tidur di kasur empuk miliknya.

"RIA?!"

Ria yang tadinya menulis-nulis asal di buku tulisnya menoleh pada Pak Jaky yang melotot padanya. Dia mengangkat sebelah alisnya, bingung. Gue salah apa?  tanya Ria dalam hati.

"Kamu pikir bapak lagi mendongeng? Nguap mulu!" omel Pak Jaky.

Ria mengernyit, emang salah kalau gue menguap? Dia menatap Pak Jaky dongkol. Tetapi ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap tak acuh.

"Dengerin bapak! Jangan ngantuk lagi," suruh Pak Jaky, yang di balas Ria dengan anggukan.

Tetapi bukannya menurut Ria malah menenggelamkan kepalanya di atas tumpukan tangannya di atas meja. Rasanya Ria benar-benar tidak bersemangat hari ini. Ngantuk merajalela di matanya. Sudah gitu, pikirannya malah memikirkan Devan. Ia jadi rindu lelaki itu. Biasanya Devan selalu menemaninya, tapi mulai hari ini Ria harus terbiasa sendiri lagi. Sekarang gue belajar, bahwa nggak ada yang kekal di hidup ini. Segala hal yang pernah hadir adalah hal yang sebenarnya hanya singgah.

Pak Jaky hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Ria. Ia tidak mengerti, kenapa Ria sekarang begitu berubah. Yang Pak Jaky tau, Ria di awal masuk sekolah adalah Ria yang ceria. Tetapi gadis yang duduk di sana itu tampak bukan Ria yang pernah ia kenal. Ria yang pertama ia kenal memang jahat, tetapi Ria yang ini begitu dingin dan tidak dapat di jamah.

Hal yang sama di lakukan Indro. Ia melihat Ria dari mejanya. Bukan tatapan dingin yang Indro perlihatkan, tetapi tatapan khawatir. Dia tau, Ria pasti merasa sedih saat Devan telah kembali ke Padang dan akan segera pergi ke London.

Gue tau, lo pasti ngerasa sedih sekarang, Ri. Tapi lo tenang aja, gue bakalan bawa pelangi ke lo. Supaya lo bisa senang lagi. Gue janji itu!

Rindro (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang