Baca secara Rinci!
Keluarkan unek-unek di setiap paragrafnya!
"APA? JADI RIA ANAK YATIM DAN TINGGAL PUNYA ORANGTUA ANGKAT YANG JAHAT SAMA DIA?!" tanya Lili, syok mendengar cerita Indro.
Indro memilih untuk menceritakan semuanya di cafe talk, tempat dia dan Devan bertemu tadi malam. Kenapa? Karena ia ingin Lili dan teman-temannya yang lain juga tau.
"Lo dapat info dari mana, Ndro?" tanya Roni.
"Devan yang ceritain semua."
"Devan? Devan pacar Ria?" tanya Roni yang memang belum tau apa-apa.
"Bukan, Ron. Devan itu sepupu, Ria," jelas Santi, membuat Roni membulatkan matanya.
"Gue boleh teriak nggak, sih?" tanya Lili, membuat semua orang menoleh padanya.
"Lo ngapain teriak bego?!" heran Beben.
Lili menangis. "Dada gue sesak banget. Gue nggak bisa bayangin kehidupan Ria. Ria yang kita pikir orang yang nggak punya masalah, malah orang yang selalu bikin masalah, ternyata punya masalah yang sangat-sangat berat," lirih Lili, menangis di pelukan Gino.
"Lo benar, Li. Kita terlalu sibuk sama urusan kita, sampai kita nggak pernah lihat ke Ria. Padahal, Ria selalu bantu kita dalam setiap masalah kita," kata Santi, ikut menangis.
Roni memeluk Santi. "Udah, ayang Santi jangan nangis! Aa Roni nggak tega lihatnya," ujar Roni, menenangkan.
Santi melepaskan pelukannya. "Kamu ingat, Ron, waktu kita pernah putus waktu itu? Kamu ingat siapa yang bantuin kita buat balikan? Ria, Ron! Ria!" terang Santi, semakin menangis. "Dan gue? Gue bahkan nggak bisa tepati janji buat dekatkan Ria sama Indro."
"Maksud lo, San?" tanya Indro.
Santi menatap Indro. "Di saat lo menghilang dan cuman ngabarin Wulan, Ria benar-benar cemburu, Ndro. Tapi Ria cuman bilang 'gue nggak papa' padahal gue tau Ria ngerasa cemas sama lo," terang Santi. "Dan gue pernah janji sama Ria, buat dekatkan lo sama dia kalau lo udah balik lagi. Tapi sayang, ternyata gue malah sibuk sama urusan gue. Sampai gue lupa sama janji itu."
Semua orang di sana hanya memperlihatkan wajah sendu, merasa sedih mendengar cerita-cerita yang sebenarnya. Termasuk Cantik dan Lesti. Kedua orang yang tidak paham Ria dulu seperti apa, juga ikut merasa sedih. Raquel dan Baby juga. Kedua orang itu jadi merasa bersalah karena pernah jahat ke Ria.
"Lo pada mau tau nggak, penyebab Ria sampai se cemburu itu ke Indro sama Wulan?" tanya Beben, membuat semua orang menoleh padanya.
"Apa, Ben?" tanya Wulan, matanya berkaca-kaca. "Gue bingung. Karena dulu Ria yang nyatuin gue sama Indro, buat jadi saudara angkat. Tapi kenapa tiba-tiba malah Ria cemburu lihat kita?" tanya Wulan, yang memang sejak dulu itu yang dia bingung.
Beben menoleh pada Joko,"lo ingat buku diary, Jok?" tanya Beben.
"Diary?" tanya Joko, mengernyit.
"Diary yang lo tulis saat lo sakit?" jelas Beben.
Joko diam sebentar, lalu ia mengangguk. "Diary gue yang hilang?" tanya Joko.
Beben mengangguk. "Diary lo ada sama Ria," ujar Beben.
"Maksud lo Ria yang nyuri?" tanya Joko, sorot matanya tajam.
Beben tertawa. "Diary lo di temuin Ria jatuh di bawah meja, lo, Jok. Dan yang paling penting, isi di Diary lo, itu!" jelas Beben.
"Isi? Emang Joko nulis apa?" tanya Wulan, mewakili semuanya.
Joko juga bingung. Dia masih samar-samar mengingatnya. Ia tidak tau pasti apa yang ia tulis di situ
"Joko meminta buat Indro gantiin posisi dia, kalau seandainya dia nggak bisa sembuh lagi," terang Beben.
"Ma-maksud lo Joko minta buat Indro yang bersama Wulan?" tanya Edo.
Beben mengangguk. "Lebih tepatnya Ria berpikir seperti itu."
"Gila, ya, Jok. Lo mikirin Wulan, tapi nggak mikirin Ria!" sarkas Lili, menatap Joko kesal.
Joko jadi bingung. Ia bahkan tidak tau kalau ia menulis itu. "Gue nggak ingat," ujar Joko.
"Udah, Li. Lagian itu udah berlalu," kata Gino, menenangkan Lili.
Lili menghembuskan napasnya, berat. "Waktu Joko kritis karena perbuatan gue sama Ria, sebenarnya Ria pengen ngakuin semuanya. Tapi gue yang cegah Ria," terang Lili.
Lagi dan lagi kebenaran yang sebenarnya terungkap. Diary, pengakuan, lantas apa lagi?
"Sebenarnya di sini yang jahat siapa, sih?" tanya Wulan, menatap semua teman-temannya. "Ria atau kita?"
"Biar gue yang simpulkan," kata Raquel, membuat semua menoleh padanya.
"Lo, salah ke Ria." Raquel menunjuk Indro. "Lo cuman pengen di ngertiin, tanpa lo mau ngertiin Ria," kata Raquel.
Raquel benar. Indro memang hanya mau di mengerti oleh Ria. Selama ini juga seperti itu. Indro tidak pernah mengerti apa yang Ria mau. Bahkan Indro pernah meminta Beben untuk bersama Ria, padahal ia tau, gadis itu menginginkan dia bukan Beben.
Lalu Raquel menatap Wulan. "Dan, lo! Lo terlalu mementingkan cinta, sampai lo lupa sama sahabat, lo. Seandainya lo tau kalau Ria cemburu lihat lo sama Indro, harusnya lo bisa jaga jarak sama Indro. Atau kalau bisa lo juga lepasin Joko."
Wulan merasa tertohok mendengar ucapan Raquel. Apa yang di katakan Raquel benar. Meski dia tau kalau Ria begitu cemburu melihat dirinya dan Indro, tetapi dia malah tetap dekat dengan Indro. Tanpa di sengaja, Wulan telah mengambil perhatian Indro dari Ria.
"Dan lo semua," Raquel menatap satu persatu yang lainnya. "Lo semua terlalu sibuk melihat kebaikan Wulan, sehingga lo pada melupakan kebaikan Ria. Lo semua terlalu merasa kehidupan Wulan jauh lebih berhak untuk di bela, sampai lo pada susah memahami kebenaran yang sebenarnya terjadi pada Ria."
Semua hanya bisa diam, mendengar ucapan Raquel. Semua kesimpulan yang Raquel buat memang benar. Jadi di sini sebenarnya yang salah adalah mereka. Mereka terlalu tidak peduli kepada Ria.
"Dan yang paling salah adalah, lo!" Raquel menunjuk Joko. "Lo terlalu egois! Lo mentingin gadis yang lo suka, sampai lo lupa ada gadis lain yang akan sakit saat lo buat keputusan."
-----
SELAMAT BERBUKA PUASA 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Teen FictionIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
