14. Penting buat kita!

2K 198 7
                                        

Kita bisa aja mengungkap kan banyak hal, tetapi itu hanya akan menjadi omong kosong di telinga orang lain. Kenapa? Karena ucapan kita tidak sesuai dengan kenyataan.

-----

Pagi ini Indro datang lebih cepat dari biasanya. Dia berdiri di samping tangga, menunggu seseorang di sana. Siapa? Loly? Ria?

"Ria?!"

Ya, jawabannya adalah Ria.

"Kenapa lo manggil gue?" tanya Ria, perlahan berjalan menuju Indro dengan wajah juteknya.

"Gue mau ngomong sama, lo!"

"Gue nggak ada waktu!" tolak Ria, ingin berjalan pergi meninggalkan Indro.

"Ri!"

Ria berhenti, menatap Indro. "Lo bisa jangan ganggu gue? Hidup lo bukannya lebih tenang tanpa gue?!" tanya Ria, menatap tajam Indro.

"Apa Devan orang yang gantiin gue sekarang?" tanya Indro, mengalihkan pertanyaan Ria.

Ria mengernyit, bingung atas pertanyaan Indro. Lalu beberapa detik kemudian ia mulai paham, pasti Indro berpikir sama dengan yang lain, bahwa dia dan Devan punya hubungan spesial. Tapi emang iya.

"Kalau iya kenapa? Penting buat lo?!" tanya Ria.

"Penting!"

Ria tertawa. "No, Ndro! Yang penting buat lo cuman Wulan dan Loly, bukan gue!" ucap Ria, menatap sinis Indro.

"Kenapa lo masih benci sama Wulan sampai sekarang?" tanya Indro, tidak terima Ria selalu menyalahkan Wulan.

"Oh, bukan benci. Perasaan gue biasa aja sekarang sama Wulan. Karena lo, Wulan, dan teman-teman lo, sama sekali udah nggak penting buat gue!" kata Ria, menekan di setiap katanya. Lalu Ria meninggalkan Indro karena sudah begitu ramai orang di sana.

"Tapi lo masih penting buat kita, Ri!" lirih Indro, yang masih di dengar oleh Ria.

Ria yang sudah berada di tangga kedua, berhenti dan berbalik menatap Indro. Dia tersenyum, senyum yang di gunakan untuk menutupi kekecewaan.

"Kalau gue penting, nggak akan ada orang yang ninggalin gue. Kalau gue penting akan ada satu orang aja di sisi gue di saat gue butuh penyemangat di hidup gue," ujar Ria lirih, menatap Indro yang juga mengadah menatapnya.

Ria menggeleng dengan tersenyum sendu. "Tapi nyatanya, gue emang nggak pernah berarti. Karena gue hanya peran figuran, yang hanya numpang lewat di cerita lo semua."

Setelah mengatakan kalimat itu, Ria pergi meninggalkan Indro yang terdiam di tempatnya.

Kalau gue penting akan ada satu orang aja di sisi gue di saat gue butuh penyemangat di hidup gue.

Kalimat Ria terngiang-ngiang di benak Indro. Dia menatap jejak Ria yang telah menghilang dengan sendu.

"Maaf-in gue,Ri!"

-----

Sebelum Rindro next, mampir ke cerita aku yang I Hate You juga ya 😊 makasih 🥰

Rindro (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang