Ria melihat keluar lewat kaca balkon kamarnya. Malam ini kembali hujan. Ria tersenyum, merasakan dinginnya air hujan masuk ke dalam kamarnya.
Ntah kenapa, setiap hujan, Ria selalu merasa sangat sepi. Bukan sepi karena dia tinggal sendiri, tetapi sepi karena hatinya yang kosong. "Ma, Pa, kenapa hidup Ria harus kayak gini?" lirih Ria, menatap pada langit yang gelap di atas sana.
Ria berjalan ke ranjangnya, mengambil poto yang ada di atas tempat tidurnya. Poto kedua orangtuanya yang setiap malam selalu ia peluk, agar ia bisa tertidur.
"Makasih, ya, Ma, Pa... Karena korbankan hidup kalian buat Ria," lirih Ria, mencium poto kedua orangtuanya. "Tetapi maaf... Ternyata hidup Ria malah membuat semua orang jadi susah. Nggak ada yang mau Ria ada di dunia ini," kata Ria, menangis.
Ting!
Ria mengusap air matanya, berjalan ke meja belajarnya mengambil handphonenya yang tadi dia letak dia sana. "Indro?" Ria mengernyit, melihat pesan yang ternyata adalah dari Indro. Dia kembali ke tempat tidurnya, lalu tidur dengan posisi tengkurap.
Indro
Jangan tidur kemalaman, ya, Ri.
Jangan lupa berdoa juga sebelum tidur.
Dan pastinya jangan lupa bayangin gue dulu sebelum tidur 😘👍😉
Ria melotot membaca sederet pesan dari Indro. Yang membuatnya ingin mual, melihat pesan terakhir Indro disertai dengan emoticonnya. "Sinting!" gumam Ria, lali menutup room chat nya.
Ria jadi teringat tadi siang, di saat lelaki itu mengantarnya pulang. Tanpa di sadari, Ria tersenyum tipis mengingat kejadian itu.
Flashback on
"Lo lelet banget, sih bawa motornya!" kesal Ria. Pasalnya Indro membawa motornya sangat lambat, seperti siput.
"Ya nggak papa. Biar aman," jawab Indro.
Ria berdecak. "Kak Baim aja bawa motor cepat, tetap aman," kata Ria, lagi.
Kali ini gantian, Indro yang berdecak. "Dia modus sama, lo," terang Indro.
"Modus, modus." Ria memutar bola mata, mendengar ucapan Indro. "Dia itu bukan modus. Tetapi kita emang buru-buru karena takut telat tadi," jelas Ria.
"Sama aja. Modus, biar lo peluk," kata Indro, masih keukeh pada pendapatnya.
Ria menggeleng melihat Indro yang tetap keras kepala. "Kayaknya lo deh yang modus. Sengaja bawa motor lambat kayak gini, biar bisa lama-lama sama gue!"
"Itu lo tau," jawab Indro, tanpa beban.
Ria membulatkan matanya. Dengan keras, Ria memukul helm Indro. Membuat lelaki itu mengaduk karena kaget. "Dasar cowok kardus!" ketus Ria.
Indro terkekeh. "Kardus apaan, tuh?" tanyanya.
"Iya. Lo kardus. Tukang modus!" kesal Ria, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gue modusnya cuman sama, lo. Nggak sama yang lain," ujar Indro.
"Dih, bulshit!"
"Emang benar, Ri. Gue nggak bohong," kata Indro meyakinkan.
"Binirin Ri giwi nggik bihing," ejek Ria. "Lama-lama lo kayak Dilan tau, nggak? Pintar ngejawab," ujar Ria.
"Tapi gue nggak mau jadi Dilan," kata Indro.
"Kenapa?" tanya Ria.
"Dilan itu membuat kesalahan sampai kehilangan Milea," ujar Indro.
"Terus?" tanya Ria, tidak paham.
"Kalau gue buat kesalahan dan semoga nggak kehilangan lo," kata Indro, melirik Ria dari spionnya.
Ria menggigit bibir bawahnya. Tanpa di sangka, senyum tipis tercetak begitu manis di wajahnya. Pikirannya ingin sekali menolak segala ucapan manis Indro, tetapi ternyata hatinya tidak. Hatinya masih saja bergetar dan berdetak begitu cepat jika bersangkutan dengan Indro.
"Dan semoga harapan gue ini bisa di wujudkan oleh cewek kawai di belakang gue," kata Indro, mengakhiri percakapan mereka.
Flashback off
Ria membalikkan tubuhnya dan mengambil poto kedua orangtuanya, "Pa, Ma, Ria gagak dalam keluarga, gagal juga dalam pertemanan, dan ternyata cinta Ria juga gagal," lirih Ria.
-----
Sebenarnya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Fiksi RemajaIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
