30. Kebohongan Devan

1.8K 175 12
                                        

Ria kembali ke luar sekolah. Dia berencana tidak masuk hari ini. Ntah, lah. Ria hanya merasa bosan berada dan bertemu dengan orang-orang itu.

Kalau kalian berpikir Ria pasti sedang menahan rasa kecewanya, kalian salah! Ria sama sekali tidak merasakan hal itu sekarang. Ntah kenapa, Ria juga merasa aneh. Melihat Indro dan Wulan berpelukan seperti itu, tidak menjadi sesak lagi di dadanya. Berbeda di saat Indro bersama Loly, air mata Ria seolah ingin meluncur keluar.

"Ke Apartemen Prambanan ya, pak!" kata Ria, pada supir taxi online itu.

30 menit Ria lalui di perjalanan.

Sekarang ia telah tiba di depan Apartemen Prambanan, salah satu Apartemen terbesar di Jakarta. Tanpa menunggu lama, Ria masuk ke dalam. Naik ke atas lantai 3 menggunakan lip.

Setibanya di depan kamar nomor '305 C' Ria langsung menggesek kartu akses untuk masuk ke dalam. Sontak matanya kaget, saat melihat ruangan itu berserakan. Koper yang terlihat sudah terisi berada di kasur.

"DEVAN?!" panggil Ria.

Ya. Ria sedang berada di Apartemen Devan. Selama di Jakarta ini, Devan emang tinggal di Apartemen. Walaupun kadang, lelaki itu menginap di rumah Ria. Lelaki itu bilang ke Ria bahwa ia sedang sakit, maka dia tidak dapat pergi ke sekolah.

"Ria?!"

Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan traning dan telanjang dada, kaget melihat keberadaan Ria di sana. "Lo ngapain di sini?" tanya Devan.

Ria hanya menatap datar. "Lo bohong sama gue?" tanya Ria, dengan nada dingin.

"Gue bisa jelasin, Ri," kata Devan, berjalan mendekat ke Ria.

"Lo bakalan ninggalin gue?" tanya Ria, wajahnya semakin datar.

"Ri..." Devan menunduk, tidak mampu menatap wajah Ria.

Selukis senyum tercipta di wajah Ria. "Lo mau pulang ke padang? Kenapa lo nggak bilang sama gue?" tanya Ria, suaranya tidak sedingin tadi membuat Devan langsung menatap ke arahnya.

Devan tercenggang melihat senyum Ria. "Lo nggak marah sama gue?" tanya Devan.

Ria tertawa. Dia memegang kedua pipi Devan, "kenapa gue harus marah? Gue malah senang kalau lo balik ke padang. Lo jadi bisa kumpul sama keluarga lo lagi," ujar Ria, tersenyum.

"Mereka keluarga lo juga, Ri," kata Devan, meralat ucapan Ria.

Ria mengangguk. "Iya, mereka keluarga gue juga. Tapi gue nggak tau mereka menganggap gitu juga atau nggak," jawab Ria, dengan lirih di kalimat akhir.

"Maafin mereka, ya, Ri," pinta Devan.

Ria tersenyum. "Ya ampun, Dev. Gue nggak papa. Dari belasan tahun gue udah biasa. Jadi lo nggak perlu khawatir gitu," terang Ria, tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

Sesak rasanya mendengar ucapan Ria. Tapi apa yang gadis itu bilang memang benar. Selama belasan tahun Ria harus menjalani hidup tanpa di anggap oleh keluarga sendiri.

"Ri?"

"Hm?" Ria menatap mata Devan, yang juga menatapnya.

"Gue memang bakalan ke padang, tetapi cuman buat ngurus sesuatu."

"Maksudnya, lo bakalan ke sini lagi?" tanya Ria.

Devan menggeleng. "Papa bakalan ngirim gue ke London," jelas Devan.

Mata Ria membulat. Jelas dia kaget mendengarnya. Ia pikir, Devan akan kembali ke Padang. Tetapi ternyata tidak, Devan di kirim untuk pergi jauh darinya. Setetes air mata jatuh dari pipi Ria. Awalnya hanya setetes, kemudian menjadi aliran yang deras.

"Ri, lo jangan nangis!" mohon Devan, mengusap air mata Ria

Ria tersenyum dalam tangisnya. "Gue nggak papa, kok, Dev. Gue cuman sedih, kita nggak bisa ketemu lagi. Kita bakalan benar-benar jauh," lirih Ria, mengusap air matanya.

"Lo jangan ngomong gitu! Kita masih bisa ketemu. Kapan pun lo butuh gue, gue bakalan datang buat lo. Atau kalau perlu, gue nggak akan pergi kalau emang lo pengen gue nggak pergi."

Ria menggeleng. "No! Lo mau mereka akan semakin membenci gue? Tolong, Dev, jangan lakuin hal itu. Gue nggak papa di sini sendiri," tolak Ria, mendengar ucapan yang di lontarkan Devan.

"Tapi gue takut, lo nggak bisa jaga diri lo, Ri," lirih Devan.

Ria tersenyum. "Lo meragukan gue?" tanya Ria, mengangkat sebelah alisnya.

Devan tersenyum. "Gue tau lo kuat. Tapi lo jangan pernah lupa, kalau ada yang berani nyakitin lo, lo bilang sama gue! Maka detik itu juga, gue bakalan terbang dari London ke Jakarta," tegas Devan.

Ria mengangguk dan memeluk Devan. "Makasih, Dev. Makasih selalu ada bersama gue. Gue bakalan rindu sama lo banget," ujar Ria, memejamkan mata di pelukan Devan.

"Gue juga," ujar Devan, membalas pelukan Ria dengan sangat erat.

Lalu tangan Devan menjamah ponsel miliknya yang ada di belakang Ria. Lalu ia mengetikkan pesan dan mengirimnya ke seseorang.

||Gue tunggu lo malam ini di tempat kita pernah ketemu.

Rindro (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang