24. Perang dingin di pagi hari

1.8K 186 28
                                        

"-"

Ria masuk ke dalam kelas. Kelas itu tampak ramai, banyak tawa di dalamnya. Tetapi tawa itu tidak termasuk Ria. Tidak ada yang menganggap kehadiran Ria, termasuk Indro dan teman-temannya.

Ria mengangkat bahu tak acuh dan duduk di bangkunya. Dia sudah terbiasa seperti ini. Sudah beberapa hari memang tidak ada di kelas yang peduli padanya. Biasanya Wulan masih memandangnya, tetapi semenjak ulang tahun gadis itu, dia juga seperti tidak menganggap kehadiran Ria.

"Ndro? Lo sama Loly mau pergi nanti?"

Tiba-tiba suara Joko begitu kencang terdengar di telinga Ria. Ntah kenapa, tanpa sengaja, Ria berdecak mendengarnya. Membuat orang yang ada di dekatnya jadi menoleh.

Astaga Ria... Lo kenapa, deh! batin Ria merutuki.

"Kayaknya ada yang kesal, nih?" sindir Beben, yang sepertinya mendengar decakan Ria tadi.

"Biasalah, Ben. Kayaknya ada yang cemburu Indro akhirnya sama Ria," ujar Santi, ikut-ikutan menyindir Ria.

"San..." tegur Wulan. Dia menggeleng, mengingatkan bahwa Santi tidak boleh seperti itu.

"Iya, Lan, iya. Masih aja lo baik sama orang yang bahkan nggak peduliin lo lagi," sindir Santi terang-terangan, menatap sinis Ria.

Ria bangkit dari duduknya. Menatap ke belakang, tepatnya pada Indro dan yang lainnya. Dia tersenyum, senyum yang di paksakan. "Btw, lo pada lagi nyindir gue?" tanya Ria, mengangkat sebelah alisnya.

"Baguslah kalau ke sindir," ujar Beben, menatap ke arah lain.

Ria tersenyum. "Kalau lo pada bilang gue cemburu, gue kesal, lo semua salah besar! Kalau emang gue kayak gitu, udah gue terima permintaan Indro buat ngajak gue memulai semua dari awal lagi," jelas Ria, melirik Indro dan tersenyum sinis.

Semua orang kaget mendengar ucapan Ria. Semua menatap pada Indro, meminta penjelasan.

"Oh, Indro nggak cerita sama kalian?" tanya Ria. "Masa nggak cerita, Ndro? Apa ucapan lo yang kemarin-kemarin itu cuman omong kosong doang?" tanya Ria.

Indro hanya diam. Menatap Ria dingin. Dia tidak tau maksud Ria apa. Apa gadis itu ingin mempermalukannya karena gadis itu telah menolaknya?

"Palingan, Loly cuman jadi pelampiasan karena gue udah nolak dia," kata Ria, tersenyum kemenangan.

"Ria! Lo nggak bisa ngomong gitu," ujar Wulan.

Ria tersenyum sinis. "Salah gue ngomong kayak gitu? Emang gitu realitinya," kata Ria.

"Ndro?" Beben berbisik pada Indro, meminta penjelasan.

Tetapi Indro hanya bisa diam, menatap Ria dengan tatapan sulit di artikan. Ntah lelaki itu marah, kecewa, sedih, Ria tidak dapat mengartikan tatapannya.

"Makasih lo udah tolak Indro," ucap Joko, membuat Ria dan yang lain menoleh padanya. "Karena gue juga nggak mau adek gue pacaran sama orang jahat kayak,lo!" sarkas Joko.

Ria tersenyum. "Sama-sama," katanya, memilih pergi keluar sebelum jam pelajaran di mulai.

Rasanya kepala Ria berdenyut jika terus berlama-lama di kelas itu. Oksigen pun tampaknya sangat tipis di sana.

"Ria?"

Ria menoleh dan berdecak melihat orang yang memanggilnya barusan. Dia memutar bola mata malas.

"Mau ngapain lo manggil gue?"

-----

Ria pusing, gue lebih pusing mikirin nih cerita.

Gue pengen selesaikan ini cerita, tapi bingung gimana caranya.

Nggak mungkin tiba-tiba gini kan, nanti malah nggak jelas. Gue pengen nulis cerita Syaqeel yang baru. Tapi... Ini malah nggak selesai-selesai 🤦‍♀️

Rindro (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang