"Auh!" Ria meringis memegangi perutnya, benar-benar sakit.
Dia mengecek kalender di hp nya, tanggal 4. "Sial!" umpat Ria. Dia bergegas ke kamar mandi, untuk memastikan. Dan sialnya, ternyata benar. "Gue datang bulan lagi!" kesal Ria, masih memegangi perutnya yang sakit.
Dia berjalan ke lemarinya, untuk mengambil pembalut di sana. Tapi hal yang menjengkelkan kembali terjadi, ternyata stok pembalutnya habis. "Ya Allah... Cobaan apa lagi ini," keluh Ria, frustasi.
"Gue ke market aja apa, ya?" tanya Ria. "Tapi perut gue sakit banget. Terus masa ia gue ke market tanpa pembalut? Ntar kalau tembus gimana?" Ria benar-benar bingung.
Tok...tok...tok...
"Itu siapa lagi, sih? Nggak tau apa orang lagi bingung!" kesal Ria, tapi tak urung ia keluar kamarnya untuk membuka pintu yang di ketuk itu.
"Lo lagi, lo lagi!" kesal Ria, menatap orang yang ternyata adalah Indro.
"Malam Ria kawai!" sapa Indro dengan cengirannya.
"Lo ngapain, sih, ke sini?!" kesal Ria.
"Sebenarnya mau nemenin, lo, sih. Kalau lo izinin," kata Indro, dengan senyuman manisnya.
"Nggak! Nggak gue izinin," tolak Ria, ingin menutup pintu lagi. Tetapi pergerakannya terhenti karena tiba-tiba perutnya begitu sakit, membuat Ria refleks berjongkok memegangi perutnya. "Auh... Sakit banget!" lirih Ria.
Indro kaget. Langsung mendekat dan ikut jongkok. "Ri, lo kenapa?" tanya Indro panik, memegang bahu Ria.
Ria berusaha menjauhkan tangan Indro dari bahunya. "GUE NGGAK PAPA. MENDING LO PERGI!" usir Ria.
Indro menggeleng tegas. "Lo pikir gue bakalan tinggalin lo dalam ke adaan kayak gini? Nggak akan!" tegas Indro.
Ria menatap mata Indro, terlihat lelaki itu benar-benar khawatir dari tatapannya. Segera Ria mengalihkan pandanganya, tidak ingin luluh oleh tatapan itu. "Gue baik-baik aja," kata Ria, meyakinkan. Tetapi nyatanya ucapannya tidak sesuai dengan yang terjadi, Ria benar-benar merasakan perih di perutnya.
Indro menatap Ria khawatir. Wajah gadis itu memucat. "Ri, kita ke rumah sakit, ya?" mohon Indro.
Ria menggeleng. "G-gue u-udah bilang g-gue nggak papa!" kata Ria, terbata-bata.
Indro berdecak. Lalu ia memegang kedua bahu Ria dan memaksanya berdiri. "Gue nggak peduli sama penolakan lo kali ini. Gue lebih khawatir sama ke adaan, lo!" kata Indro, bersiap membawa paksa Ria.
"INDRO GUE BILANG GUE NGGAK MAU!" teriak Ria, tetap teguh berdiri sambil memegang perutnya.
"Lo mau jalan sendiri atau gue gendong?!" ancam Indro, dengan wajah dinginnya.
Mata Ria membulat sempurna. Gila saja kalau Indro benar-benar menggendongnya. Ke adaan celananya saja sudah Ria jamin tembus sekarang.
"Oke. Gue gen..."
"GUE LAGI DATANG BULAN!" teriak Ria dengan menutup matanya, malu.
Hah? Indro jadi kikuk sendiri mendengar pernyataan Ria. Dia tidak tau sekarang harus merespont apa.
"Udah? Puas, kan, lo?!" kesal Ria. Wajahnya memerah, antara rasa malu dan marah bersamaan.
Indro tersenyum kikuk. "Terus obat datang bulan gitu apa? Pasti ada kan? Biar gue beliin," tanya dan tawar Indro.
Ria melotot. Gila saja Indro menanya dan menawarkan itu. "Lo sinting!" gumam Ria.
"Gue serius Ria. Gue nggak mau lihat lo kesakitan kayak gini. Lo nggak mungkin belu sendiri dalam ke adaan kayak gini, kan?" ujar Indro, yang memang benar.
Ria diam. Apa yang di katakan Indro memang benar. Dia tidak bisa keluar dalam ke adaan kayak gini. Tapi Ria juga tidak mau Indro menolongnya. Tetapi kalau bukan Indro siapa? Ria tidak tau harus meminta siapa lagi.
"Ri? Plish... Kali ini aja. Izinin gue bantu, lo," pinta Indro.
Ria jadi bingung. Yang perlu bantuan adalah dia, tetapi malah lelaki ini yang memohon padanya. "Oke. Gue terima bantuan lo kali ini," putus Ria akhirnya.
Indro tersenyum. "Apa? Apa yang bisa gue bantu?" tanya Indro semangat.
"Beliin gue jamu pereda nyeri datang bulan, ada di depan market yang ada di depan kompleks sini," terang Ria.
Indro mengangguk. "Ada lagi?" tanyanya.
Ria menggigit bibir bawahnya, merasa ragu dengan permintaannya yang selanjutnya. Ia tidak yakin Indro akan mau membelinya.
"Ri? Ada lagi?" tanya Indro dengan suara lembutnya.
Ria mengangguk. "Tapi lo mau nggak belinya?" tanya Ria, memamerkan wajah tidak enak.
Indro mengernyit. "Ya mau lah. Kan gue udah bilang tadi. Emang apa?" tanya Indro.
Ria menunduk. "Beliin pembalut!"
-----
Nah, loh.
Gimana part ini? Udah mulai respect ke Indro nggak nih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Dla nastolatkówIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
