Ria duduk di kursi makan, bersama Uni dan Uda. Ria tersenyum, setelah sekian lama, akhirnya Ria bisa merasakan kehangatan dari yang namanya keluarga.
"Ri? Kamu Uda antar sekolah, ya?" kata Zein.
Ria menoleh. "Untuk apa, Uda? Mau lihat Ria bikin ulah apa di sekolah, ya?" tanya Ria, membuat Zein terkekeh.
"Nggak Ria. Lagian Uda yakin, adik Uda ini nggak akan bikin ulah apa pun. Uda cuman ngantar kamu aja. Kan udah lama Uda nggak pernah antar kamu," jelas Zein.
Ria mengangguk singkat. "Uda, Devan jadi berangka lusa, ya?" tanya Ria.
Setelah telponan di rooftop waktu itu, Ria sama sekali tidak pernah telponan lagi dengan Devan. Ria kesal Devan menceritakan masalah kehidupannya ke teman-temannya. Sehingga teman-temannya jadi merasa iba padanya.
Zein mengangguk. "Iya, Ri. Emang Devan nggak kabarin kamu?" tanya Zein.
Ria hanya menggeleng. Sebenarnya Ria tidak tau Devan mengabarinya atau tidak. Karena nomor Devan Ria blokir setelah telpon terakhir waktu itu.
"Kok nggak makanannya nggak di habisin, Ri?" tanya Alya, melihat di piring Ria masih ada yang di sisa.
"Ria udah kenyang Uni," jawab Ria. "Uda, ayo! Nanti Ria telat," lanjutnya mengajak Zein.
Zein mengangguk. "Ayo!" ajaknya, bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.
Alya mengantar suami dan adik iparnya sampai teras rumah. "Kalian hati-hati, ya!" kata Alya, salim pada suami dan mencium kening Ria.
Zein dan Ria sama-sama mengangguk, lalu mereka masuk ke dalam mobil. Zein mengklakson mobil, saat meninggalkan pekarangan rumah nya.
Alya menatap kepergian Zein dan Ria, sampai mobil itu menghilang di telan oleh tikungan. "Uni cuman berharap Ria, semoga kamu lekas membaik dengan teman-teman kamu. Uni tau, kamu juga nggak nyaman dengan diri kamu yabg sekarang," kata Alya, bermonolog sendiri.
-----
"Ria turun, ya, Uda?" pamit Ria, salim pada Zein.
"Iya. Kamu yang rajin ya belajarnya," pesan Zein, mengusap rambut Ria.
Ria mengangguk dan turun dari mobil. Pemandangan yang pertama kali Ria lihat adalah Indro dan teman-temannya yang baru saja melewati gerbang sekolah dengan motor mereka masing-masing, kecuali Joko yang mengenakan mobil.
Indro sama sekali tidak melihat ke arah Ria. Meski dia tau Ria ada di sana, tetapi lelaki itu memilih abai. Dia masuk ke dalam sekolah, tanpa mempedulikan tatapan bingung Ria. Begitu juga di lakukan dengan teman-teman cowoknya, mereka mengabaikan keberadaan Ria.
"Oh iya, Lan. Nanti malam kita nginap di rumah, lo, kan?"
Ria menoleh ke samping, dimana Santi, Wulan, Cantik, dan Lesti berjalan melewatinya tanpa menganggap keberadaannya di sana. Mereka seolah tidak melihat Ria berdiri di sana sambil melihat ke arah mereka.
Kenapa aneh? tanya Ria dalam hatinya. "Tapi kenapa gue harus peduli? Bukan kah itu yang gue mau?" ujarnya lagi, lalu memegang dadanya. "Tapi kenapa malah nyesek?"
"Gimana?"
Ria menoleh ke samping, itu Raquel. "Apa?" tanta Ria, judes.
"Apa lo bahagia sekarang di lupain sama mereka?" tanya Raquel.
Ria diam, tidak langsung menjawab. "Ba-bahagi," jawabnya, sedikit ragu.
Raquel tersenyum sinis. "Nggak usah munafik. Lo mungkin selalu bilang kalau mereka harus lupain lo. Tapi jauh di lubuk hati lo, lo menginginkan mereka bisa kembali sama lo lagi kan?" tanya Raquel, mengangkat sebelah alisnya.
Ria menatap jengkel Raquel. "Nggak usah sotoy, lo!" ketus Ria.
Raquel tersenyum. "Bukan sotoy, tapi gue emang tau."
Ria memutar bole matanya malas dan berniat pergi dari sana. Tetapi perkataan Raquel membuatnya berhenti dan terdiam di tempatnya.
"Jangan biarkan ego lo yang menguasai hati lo, Ria. Karena ego lo akan merugikan diri lo sendiri nanti. Lebih baik lo ikuti kata hati, lo. Gue tau, kata hati lo meminta lo buat terima mereka kembali."
Setelah mengatakan itu, Raquel pergi dari sana. Ria menatap kepergian Raquel, mengernyit. Dia tidak habis pikir, Raquel yang dulu adalah partnernya dalam membuat masalah, ternyata punya daya pikir yang sangat baik.
Sangat baik? Berarti gue membenarkan kalimat Raquel, dong? Ah, tidak!
-----
Guys, kalau komen next itu nggak usah sampai berkali-kali, ya 🙏😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Ficção AdolescenteIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
