"Di saat hati begitu lelah, bukan nasihat yang di butuhkan. Tetapi ketenangan dan pengertian."
Rindro
Ria masuk ke dalam kelas. Aura tidak mengenakkan langsung dapat ia rasakan. Bukan, bukan terjadi masalah. Tetapi, memang orang-orang di dalam sana yang membuat Ria merasa ngeri setiap masuk ke dalam.
Di saat Ria akan duduk di bangkunya, pandangannya bertemu dengan Indro. Lelaki itu menatapnya dingin, lalu ia membuang pandangannya ke arah lain. Ria tidak ambil pusing akan hal itu, dia memilih duduk dan memainkan ponselnya.
"Oh, iya, Lan. Acaranya itu malam, kan?"
Samar-samar Ria mendengar pertanyaan yang Lesti ajukan pada Wulan. Acara? Acara apa? tanya Ria dalam hati. Dia melihat tanggal di ponselnya, ulang tahun wulan?
"Joko! Nanti kita perginya bareng, ya?" kata Raquel, memeluk tangan Raquel.
"Is, apaan, sih, lo! Ogah gue," tolak Joko, melepaskan paksa tangan Raquel.
"Ih, kenapa, sih, lo?!" tanya Raquel.
"Gue mau bantuin Wulan. Jadi gue datangnya lebih cepat," jelas Joko.
"Gue juga bantuin Wulan. Boleh, kan, Lan, gue ikut bantuin?" tanya Raquel.
"Boleh aja. Kalau nggak ngerepotin," jawab Wulan. Lalu gadis itu menatap Ria, seperti menimbang-nimbang hal yang ingin ia ucapkan. "Gue pengen undang Ria," bisik Wulan pada Santi.
Santi menoleh, menatap ke arah Ria yang sedang bermain ponsel. "Gue rasa percuma, deh, Lan. Dia nggak bakalan dateng," ujar Santi, yang sudah tau sifat Ria.
Wulan lesu. "Tapi setidaknya gue udah undang dia, San," bisik Wulan lagi.
Santi menarik napas panjang, lalu menghembuskan. "Ya udah, terserah, lo deh."
Wulan tersenyum dan bangkit berdiri. Dia berjalan mendekati meja Ria, membuat semua mata di kelas jadi mengarah pada Wulan dan Ria. Semua orang tau, Ria begitu membenci Wulan. Meskipun Wulan begitu terlihat menyayanginya. Tetapi tidak semua di kelas itu tau akan permasalahan yang pernah terjadi antara Ria dan Wulan.
"Ri?" panggil Wulan.
Ria yang sedang bermain ponsel, mengalihkan pandangannya pada Wulan yang berdiri di samping mejanya. Dia mengangkat sebelah alisnya, menggantikan kalimat tanya.
Wulan memberikan kartu undangan, "datang, ya, ke acara ulang tahun gue?" pinta Wulan, menatap penuh harap pada Ria.
Ria tidak mengambil undangan yang di berikan Wulan. Ia malah memilih mengabaikan dan kembali bermain ponselnya.
"Eh, Ria! Lo nggak pernah di ajarin sopan santun, ya? Lagi di ajak ngobrol, malah di cuekin. Setidaknya kalau lo nggak mau datang, lo bisa tolak. Bukan malah lo abaikan kayak gitu!" kata Santi, gondok melihat tingkah Ria.
"Salah Wulan juga, sih. Malah ngundang dedemit, ya gitu. Harusnya yang di undang itu manusia aja," kata Raquel, tersenyum miring menatap Ria.
"Udah, Lan. Kata internet, lebih baik menjauhi orang yang nggak menghargai kita. Karena itu cuman jadi benalu nanti di kehidupan kita," ujar Lesti lagi.
Telinga Ria rasanya panas mendengar penghakiman dari teman-temannya Wulan. Ria tidak apa jika tidak di anggap di kelas ini, malah ia sangat senang jika seperti itu. Tapi satu yang Ria mau, tidak ada yang mengurus kehidupannya.
Wulan meletakkan undangnya di atas meja. "Kalau lo sempat, datang, ya, Ri. Gue berharap banget kehadiran, lo," ujarnya, lalu pergi ke bangkunya.
Ria hanya melirik undangan itu, tidak berniat untuk mengambilnya. Sebuah pesan muncul dari group pelajaran Matematika, yang mengatakan guru yang mengajar tidak bisa hadir. Ria memutuskan untuk keluar kelas, daripada mendengarkan segala ocehan yang tidak berfaedah dari sana.
Wulan melihat ke bangku Ria, undangan yang ia berikan masih berada pada tempat yang ia letakkan. Itu artinya Ria sama sekali tidak tertarik akan pesta ulang tahunnya. Kenapa, Ri? Padahal gue berharap lo hadir dan berdiri di samping gue di hari bahagia gue. Seperti dulu, lo dan Lili yang nemenin gue.
-----
Maaf ya ceritanya gaje banget. Soalnya aku nulisnya asal tulis aja, jadi maklum ya kalau rada nggak nyambung 🙏😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Teen FictionIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
