26. Tolong berhenti peduli!

1.9K 162 10
                                        

Ria masih stay duduk di bangkunya, padahal bel pulang sekolah telah berbunyi 5 menit lalu. Tapi gadis itu masih tetap diam hanyut dalam pikirannya.

"Pulang, Ri!"

Itu bukan kalimat tanya, tetapi perintah. Ria menatap ke belakang, dia baru sadar kalau masih ada orang di sana selain dirinya. Tapi kenapa Indro masih di sini?

"Ngapain lo masih di sini?!" tanya Ria, menatap kesal Indro.

Indro berdiri. "Lo nungguin Devan?"

"Apa urusannya sama lo gue nunggu siapa?!" sarkas Ria. "Mending lo pulang, deh, pacar lo pasti nungguin, lo!" usir Ria.

"Apa urusannya sama lo kalau pacar gue nungguin gue?" balas Indro bertanya.

Ria menggertakkan giginya, geram sendiri mendengar jawaban Indro. "Kemarin-kemarin lo udah bersikap benar dengan tak acuh sama gue. Tapi kenapa sekarang lo seolah peduli sama gue lagi?!"

Indro diam mendengar pertanyaan Ria. Dia tidak harus berkata apa. Jujur, Indro emang ingin bersikap tidak peduli ke Ria, tetapi ternyata hatinya tidak bisa.

"Stop, Ndro. Gue mohon, plish bersikap seperti kemarin-kemarin aja. Di saat lo dan yang lain nggak menganggap gue ada. Gue lebih nyaman kayak gitu," pinta Ria, menyatukan tangannya di depan dada, memohon.

Setelah mengatakan itu, Ria pergi meninggalkan Indro yang hanya bisa diam di tempatnya.

Apa dengan cara gue ngelupain lo yang memang membuat lo bahagia, Ri?

-----

"Gue tungguin juga dari tadi."

Ria terlonjak kaget, saat tiba-tiba ada suara dan rangkulan di bahunya. "DEVAN?!" keget Ria.

Devan menjauhkan tubuhnya dari Ria. "Buset! Lo ngelihat gue kayak ngelihat setan aja," katanya, memutar bola matanya.

Ria menatap Devan dingin. "Lo habis dari mana?" tanya Ria, dengan tatapan mengintimidasi.

Devan menggaruk kepalanya. "Dari parkiran lah. Gue nungguin lo tadi di sana," jawab Devan.

Ria melotot. "Lo pikir gue nggak tau? Lo habis bolos kan?"

Shit!

Devan mengumpat dalam hatinya. Gimana Ria bisa tau? batin Devan. "Enak aja lo nuduh-nuduh. Gue tadi emang nggak keluar kelas," kata Devan, jelas berbohong.

Ria menoyor kepala Devan. "Gue tadi nyariin lo ke kelas, Monyet! Nggak usah bohong lagi lo!" kesal Ria.

Devan berdecak. "Iya-iya. Gue tadi ada urusan mendadak, makanya gue pulang."

"Urusan apa?" tanya Ria.

Devan hanya diam, menatap ke arah lain.

"Dev, urusan apa?" tanya Ria. Firasatnya tidak enak, seperti ada yang janggal dengan Devan.

"Udah. Mending kita pulang aja, ya. Gue benar-benar capek," kata Devan, merangkul Ria untuk pergi.

Ria hanya menurut saja. Ia menatap wajah Devan dari samping. Keringat membasahi wajah tampan itu. Tetapi ada yang aneh, wajah Devan terlihat... pucat?

Sebenarnya apa yang lo sembunyikan dari gue Dev? Kenapa lo jadi aneh belakangan ini?

-----

Devan aneh banget ya? Kira-kira, ada yang udah bisa nebak kenapa Devan?

Rindro (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang