Ria turun dari taxi dan di sambut dengan senyuman khas Indro. "Ngapain lo cengar-cengir?!" tanya Ria, galak.
"Nggak papa," jawab Indro, menahan senyumnya.
Ria memilih mengabaikan lelaki itu. Dia berjalan masuk ke dalam sekolahnya, di ikuti Indro yang berjalan di belakangnya. Merasa terus di ikuti, Ria jadi berhenti berjalan.
"Ngapain lo ngikutin gue?!" sewot Ria.
"Gue nggak ngikutin lo, kok. Orang gue mau ke ke kalas," sangkal Indro.
"Oh... ke kelas. Ya udah sana jalan duluan!" suruh Ria.
Indro malah nyengir dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Gue di belakang lo aja. Biar bisa jagain lo."
Ria memutar bola mata, malas. "Gue nggak perlu di jaga!" sergah Ria.
"Perlu!" kata Indro.
"Nggak!" ujar Ria.
Kedua orang itu malah bertengkar di lorong, membuat beberapa orang yang ada di sana jadi menonton keduanya.
"Gue bilang nggak perlu, yang nggak perlu Indro!" kesal Ria.
"Tapi gue pengen jagain, lo, Ria!" kata Indro, tidak mau kalah.
"Apaan, sih, lo! Hidup-hidup gue, kenapa lo yang ngatur?!" kata Ria, tidak terima.
"Karena hidup lo adalah hidup gue!" tegas Indro, membuat bisikan-bisikan dari orang sekitarnya.
"Anjir... Indro sweet banget!"
"Aaa... Pengen jadi Ria!"
"Kapan ya gue di kasih cowok kayak Indro?"
"Indro gantengnya nambah deh!"
"Kasian, ya, Loly. Pasti sakit hati banget kalau lihat ini."
"Indro playboy banget!"
Ria berdecak mendengar segala bisikan-bisikan yang terdengar sampai ke telinganya itu. Bisa-bisanya para gadis itu memuji Indro. Lelaki paling berpotensi mematahkan hati perempuan ini.
Ria kembali menatap Indro, gadis itu menggeleng. Lalu setelahnya pergi meninggalkan Indro tanpa sepatah kata pun.
Indro menatap nanar kepergian Ria. Sepercik rasa kecewa mulai menjalar hatinya. Ntah kenapa, rasa ingin memperjuangkan Ria menjadi mengambang di hati Indro.
"Jangan mudah putus asa! Lo harus kuat!"
Sebuah tepukan di bahu Indro bersamaan dengan kalimat itu, membuat Indro menoleh kesamping. "Loly?"
Loly tersenyum. "Jangan ada di pikiran lo buat menyerah! Lo sendiri kan yang bilang, kalau sakit yang lo rasakan sekarang, nggak lebih besar dari rasa sakit yang Ria rasakan dulu?" tanya Loly.
Indro mengangguk. "Iya, Lol. Tetapi gue pengen menyerah bukan karena gue capek buat perjuangin Ria. Tetapi gue cuman nggak mau Ria semakin benci sama gue," lirih Indro.
"Ria cuman butuh waktu untuk terima kembali. Dan tugas lo buat bawa dia kembali. Kalau lo memilih membiarkan dia dan nggak memperjuangkan dia, maka dia akan melangkah semakin jauh nanti."
Setelah mengatakan itu, Loly pergi meninggalkan Indro yang diam di tempatnya.
Tetapi kalau perjuangan gue bukan yang Ria mau lagi, gue bisa apa? Bukan kah menyerah dan merelakan yang harus gue lakukan?
-----
KAMU SEDANG MEMBACA
Rindro (SELESAI)
Fiksi RemajaIni tentang Ria, gadis kecil, imut, dan manis. Gadis baik yang berubah menjadi begitu kejam karena sebuah alasan. Di benci oleh orang yang di cintai, di jauhi sahabat, dan tidak di pedulikan oleh keluarga. Lalu, bagaiman gadis manis yang menjelma me...
