"May hari ini kita akan kedatangan tamu, kamu siap-siap ya"
"Siapa yang akan datang ma?"
"Nanti kamu juga tahu" Widya berlalu menuju kamar
Sudah beberapa minggu ini sikap Widya aneh, dia terlihat lebih murung
"Do, kata mama nanti akan ada tamu" Maya masuk ke kamar melihat suaminya masih berbaring sambil memainkan ponsel
"Aldo !"
"Iya aku dengar sayang, nanti siang akan ada yang datang, padahal aku ingin mengajakmu berkencan mumpung hari Minggu"
"Masih ada Minggu depan Do, tapi apa kamu tidak merasa aneh? mama sepertinya sudah jarang tertawa"
"Sudah tua May, maklumi saja"
Aldo mendapat pukulan dikepalanya,
"Apa hubungannya usia dan jarang tertawa?" tanya Maya geram
"Mungkin mama sudah menikmati semuanya , jadi sekarang mama sudah tidak merasa tertarik lagi pada sesuatu" jawab Aldo sibuk menggerakan jari dilayar persegi itu
Maya memilih beranjak dari kasur karena Aldo yang tidak nyambung diajak bicara.
Pintu utama terbuka, tamu itu masuk dan duduk diruang tamu, mereka melihat isi rumah itu
Widya naik keatas memanggil Maya dan Aldo untuk turun
"Ma ! kenapa mereka disini?!" tanya Aldo melihat kedua orang aneh yang mereka temui dirumah sakit
"Duduk!" perintah Widya tegas
"Mereka orangtua Maya"
Maya menoleh tidak percaya, tidak bisa percaya apa yang dikatakan mertuanya ini.
"Ma, apa mama dihasut oleh mereka?"
"Mereka adalah tuan Wijaya dan istrinya nyonya Agatha, orang tua kandung Maya oh tidak seharusnya Renata"
Maya semakin bingung begitu juga dengan Aldo,
Nyonya Wijaya mengeluarkan foto keluarga mereka, Maya melihat dengan seksama, itu dirinya
"Ini , apa ini photoshop?" tanya Maya polos pada Aldo
"Mereka benar orangtuamu, ini hasil tes DNA kalian" Widya mengeluarkan amplop putih berisi kecocokan 99%
"Ma, kapan mama melakukan ini semua?!" tanya Aldo
"Mama awalnya tidak percaya namun tuan Wijaya dan nyonya Agatha menyarankan tes DNA, mama lalu mengambil beberap helai rambutmu yang tertinggal disisir, kemudian mama sendiri yang mengantar sampel itu"
"Ta-tapi bagaimana bisa? nenek Sari ? nenek Sari ibu kalian?" tanya Maya
Kedua orang itu saling memandang,
"Nenek Sari? siapa dia?" tanya Agatha
"Tunggu ! sebentar .. sebentar ada yang salah disini, bagaimana bisa kalian orangtua Maya?"
"Setahunan yang lalu Renata diculik oleh pesaing bisnis saya, ketika kami sudah menangkapnya dia mengatakan dia menyembunyikan Renata disebuah kapal, kami bergegas namun kapal itu sudah tidak ada, sejak saat itu kami terus mencari Renata"
"Bukankah kamu mulai tinggal dengan nenek Sari setahun yang lalu?" tanya Widya
"Iya ma, tapi aku .." Maya tidak tahu harus berkata apa
"Apa kamu tidak ingat dengan kami nak?" tanya Agatha
"Tidak, aku tidak memiliki ingatan sama sekali, jujur aku bahkan tidak bisa mengingat kejadian sebelum nenek menjemputku dirumah sakit"
"Coba ceritakan May, aku tidak mengerti" kata Aldo
"Waktu aku terbangun aku sudah ada dirumah sakit, beberapa hari aku menungu tapi tidak ada yang datang menjemputku, tapi hari itu nenek datang, aku tidak mengenalinya sama sekali, nenek bercerita aku ini cucunya dan baru bisa menjemputku setelah melunasi biaya rumah sakit"
"Oh benar ! nenek Sari pernah meminjam uang pada mama setahun yang lalu ! tak lama nenek membawamu kemari"
"Apa waktu itu kepalamu yang terluka?" tanya Wijaya
Maya mengangguk, dia sering mengalami sakit kepala waktu itu.
Perbincangan berat itu berakhir, mereka memberi waktu pada Maya, tidak lupa mereka meminta Maya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, untuk mengetahui kenapa Maya tidak bisa mengingat apapun.
"Do, apa ini mimpi? atau ini jenis penipuan baru?"
Aldo yang sedari tadi serius berubah tertawa,
"May, untuk apa mereka menipumu? mereka jauh lebih kaya dari kita, mereka itu pemilik perusahaan raksasa Wijaya Group"
"Jika benar aku anak mereka berarti aku anak orang kaya?"
"Pantas saja waktu itu kamu tiba-tiba bisa berbahasa Jerman dan Belanda May!"
Satu persatu puzzle mulai menempati tempatnya,
"Benar juga Do, aku merasa bisa mengerti bahasa itu tapi seingat aku tidak pernah mempelajarinya"
"Ah !"
"Kenapa May?!"
"Kepalaku sakit Do"
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, besok kita periksa kepalamu"
Malam itu Maya terus berpikir, apa benar dia anak orang kaya? dia kemudian teringat dengan kotak dibawah ranjang Sari
"Do bangun! bangun Do!"
"Ada apa May?"
"Temani aku kerumah nenek sekarang"
"Sekarang?!"
"Cepat!" Maya memukul bokong Aldo
Mereka berdua berbekal senter menelusuri perkebunan teh yang cukup menyeramkan dimalam hari.
Maya membuka pintu itu perlahan langsung mengambil kotak besar itu,
"Apa ini May?"
"Kata nenek ini milikku"
Aldo melihat tas branded , ponsel berwarna mint keluaran tahun lalu ,
"Jika ini milikmu berarti nenek sudah berbohong padamu"
Aldo kemudian mulai mencari disekitaran ranjang berharap menemukan sesuatu lagi, dia mengangkat kasur itu dan benar dia menemukan sepucuk surat.
"Buka May"
Maya membuka surat itu perlahan
"Nak, jika kamu sudah menemukan surat ini berarti nenek sudah meninggal dan kamu sudah harus tahu kebenarannya.
Nenek bukan nenek kandungmu, setahun yang lalu nenek pergi berobat ke rumah sakit, melihat dirimu seorang diri dan kata perawat kamu tidak memiliki keluarga dan menderita amnesia, nenek yang sudah hidup sendiri sejak lama mulai egois, nenek membayar biaya rumah sakitmu dan berpura-pura sebagai keluargamu, nenek tidak ingin tinggal sendiri, maafkan keegoisan nenek.
Nenek membuang kartu tanda pengenalmu, disana tertulis namamu Renata Gisela Wijaya dan juga tulisan Direktur Utama Wijaya Group, nenek tidak ingin ada yang mengenalimu maka nenek mengganti namamu.
Nenek harap kamu bisa menemukan keluarga aslimu, tapi selama ini nenek tulus menyayangimu, maafkan nenek dan terima kasih sudah menemani nenek"
Maya jatuh ke lantai, tidak percaya pada yang baru saja dia baca, begitu juga Aldo, jadi selama ini dia menikahi putri pemilik perusahaan sebesar ini?
.....
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Inheritance Love
RomanceBerdamai dengan masa lalu memang tidak mudah, Tapi Masa lalu itu bagian dari cerita kita. -Aldo&Maya-
